kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan di Tengah Krisis Timur Tengah


Jumat, 07 Agustus 2026 / 18:25 WIB
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan di Tengah Krisis Timur Tengah
Presiden Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Mekkah, (REUTERS/Handout via )


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - RIYADH. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan resmi menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah pada Jumat (7/8/2026), di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang terus mengancam keamanan kawasan dan jalur pasokan energi global.

Kesepakatan ini memperkuat komitmen ketiga negara untuk saling membantu menghadapi agresi militer, sekaligus menandai upaya membangun arsitektur keamanan regional yang lebih mandiri di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Penandatanganan perjanjian berlangsung di Mekkah dan dihadiri Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.

Kesepakatan tersebut merupakan hasil hampir satu tahun perundingan yang telah dilaporkan Reuters sejak Januari lalu.

Baca Juga: Pakistan Bersiap Jadi Tuan Rumah Perundingan Damai, Negosiasi Pembukaan Selat Hormuz

Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menegaskan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu pihak akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota perjanjian.

"Perjanjian ini bertujuan memperkuat keamanan kolektif serta mendorong perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan maupun di tingkat global," demikian isi pernyataan bersama.

Meski tidak merinci bentuk komitmen militer maupun kewajiban masing-masing negara, ketiga pihak menyatakan perjanjian tersebut bersifat defensif.

Seorang pejabat Turki menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak ditujukan kepada negara tertentu, terbuka bagi negara-negara lain di kawasan, serta tidak menggantikan kerja sama bilateral maupun multilateral yang telah ada.

Baca Juga: Pakistan Jadi Tuan Rumah: Mungkinkah AS-Iran Berdamai di Tengah Ancaman Perang?

Namun, langkah tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran ketiga negara terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, kawasan terus dilanda serangan rudal, gangguan terhadap negara-negara Teluk, serta blokade jalur pengiriman energi yang memperburuk stabilitas regional.

Konflik juga mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar sekaligus mengancam agenda pembangunan ekonomi jangka panjang kerajaan.

Bagi Arab Saudi, kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pertahanan di tengah meningkatnya serangan dari Iran maupun kelompok-kelompok sekutunya, termasuk Houthi di Yaman dan milisi Syiah di Irak.

Baca Juga: Pakistan Tunda Kesepakatan Senjata US$1,5 Miliar dengan Sudan Usai Desakan Arab Saudi

Sementara itu, Turki dan Pakistan berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena gejolak Timur Tengah berpotensi mengganggu keamanan nasional serta perekonomian kedua negara.

Kesepakatan tersebut juga memiliki nilai strategis karena menyatukan tiga negara dengan kekuatan yang saling melengkapi.

Turki memiliki militer terbesar kedua di NATO, Arab Saudi merupakan kekuatan utama di Teluk dan salah satu eksportir minyak terbesar dunia, sedangkan Pakistan menjadi satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir.

Analis menilai perjanjian ini berpotensi meningkatkan pengaruh diplomatik dan pertahanan ketiga negara apabila diwujudkan dalam kerja sama yang lebih konkret.

Kolaborasi tersebut diperkirakan akan berfokus pada penguatan industri pertahanan, transfer teknologi, pelatihan militer, dan koordinasi keamanan regional, meski tidak mencakup kerja sama terkait kemampuan nuklir Pakistan.

Kesepakatan di Mekkah juga memperkuat hubungan militer yang telah lama terjalin di antara ketiga negara.

Pakistan selama puluhan tahun memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada militer Arab Saudi, sementara Turki dan Pakistan aktif melakukan pertukaran kapal perang serta pesawat latih. Pada 2023, Arab Saudi juga menandatangani kontrak pembelian drone buatan Turki yang disebut Ankara sebagai ekspor pertahanan terbesar dalam sejarahnya.

Baca Juga: Pakistan Kirim Jet Tempur ke Arab Saudi, Ini Alasannya

Reuters sebelumnya melaporkan Pakistan telah mengerahkan sekitar 8.000 personel militer, pesawat tempur, drone, dan sistem pertahanan udara ke Arab Saudi.

Islamabad juga memperluas kerja sama keamanan dengan negara-negara Teluk, termasuk membuka negosiasi perjanjian pertahanan baru dengan Kuwait yang dikaitkan dengan peningkatan kerja sama energi dan investasi.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×