Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Krisis yang melanda sektor dana investasi di Turki mulai menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi negara tersebut. JPMorgan memperingatkan, gejolak tersebut dapat memberikan tekanan yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Turki pada tahun ini.
Dalam riset terbarunya, analis JPMorgan memperkirakan gejolak di sektor dana investasi akan membebani aktivitas ekonomi Turki pada kuartal IV 2026.
"Kami memperkirakan gejolak dana investasi akan membebani aktivitas ekonomi pada kuartal IV 2026 dan melihat risiko penurunan yang berarti terhadap proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2026 sebesar 3%," tulis analis JPMorgan dalam catatan risetnya, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga: Kesepakatan AS-Korsel, Trump Sebut Ada Investasi US$ 8,4 Miliar untuk Minyak
JPMorgan menyatakan akan terus memantau sejumlah indikator utama ekonomi. Jika pelemahan ekonomi berlangsung lebih lama dari perkiraan, bank investasi tersebut membuka kemungkinan untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Turki.
Peringatan JPMorgan menjadi peringatan pertama dari bank investasi besar Wall Street bahwa krisis tersebut berpotensi memberikan dampak berarti terhadap perekonomian Turki sejak gejolak sektor dana investasi mencuat.
Krisis tersebut bermula pada bulan lalu ketika sejumlah dana yang dikelola perusahaan manajemen aset Tera Portfoy gagal memenuhi permintaan pencairan atau redemption dari investor.
Masalah tersebut kemudian menyebar ke sejumlah perusahaan pengelola aset lainnya. Kondisi ini mendorong regulator Turki turun tangan untuk menangani gejolak di sektor tersebut.
Meski demikian, Menteri Keuangan Turki Mehmet Simsek pada Kamis (1/10/2026) mengatakan krisis tersebut masih terkendali dan risiko terhadap sistem keuangan secara keseluruhan berhasil dihindari.
JPMorgan memperkirakan dana investasi yang terdampak krisis memiliki total aset sekitar US$ 18,3 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar 10% dari industri dana investasi Turki.
Jika dibandingkan dengan total aset keuangan rumah tangga Turki yang mencapai sekitar US$ 600 miliar, dana yang terdampak tersebut setara sekitar 3%.
Baca Juga: Review OPEC+ untuk Tentukan Kuota Minyak 2027 Ditunda Imbas Perang Iran
Dari total aset terdampak, sekitar US$ 6 miliar berada di dana pasar uang atau money market fund. JPMorgan menilai aset dalam kategori ini memiliki kemungkinan pemulihan yang lebih tinggi.
Sementara itu, sekitar US$ 12 miliar lainnya berada di hedge fund dan dana saham atau equity fund.
JPMorgan menilai langkah cepat otoritas Turki dalam menangani masalah tersebut membuat bank tersebut tidak melihat adanya risiko terhadap stabilitas keuangan sistemik akibat gejolak dana investasi.
Namun, dampaknya terhadap perekonomian dapat muncul melalui jalur yang berbeda, yakni melemahnya konsumsi dan kepercayaan masyarakat.
Investor yang terdampak krisis untuk sementara kehilangan akses terhadap sebagian tabungan mereka. Kondisi tersebut berpotensi membuat masyarakat menahan pengeluaran dan meningkatkan kehati-hatian dalam menggunakan dana.
Sejumlah tanda pelemahan tersebut, menurut JPMorgan, mulai terlihat. Pertumbuhan kredit di Turki melambat, sementara penjualan mobil juga mengalami perlambatan.
Di sisi korporasi, perusahaan-perusahaan Turki menghentikan penerbitan obligasi di tengah gejolak pasar. Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) juga diperkirakan belum akan kembali dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap konsumsi, pasar keuangan dan aktivitas perusahaan tersebut menjadi alasan JPMorgan melihat adanya risiko penurunan terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Turki sebesar 3% pada 2026.
Baca Juga: Calon Pengantin di China Tengah Gandrung Membuat Drama Pendek untuk Pernikahan














