kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Yield US Treasury Turun Seiring Penurunan Harga Minyak dan Aksi Ambil Untung


Jumat, 18 September 2026 / 05:45 WIB
Yield US Treasury Turun Seiring Penurunan Harga Minyak dan Aksi Ambil Untung
ILUSTRASI. Imbal hasil (yield) USTreasury turun pada Kamis (17/9/2026), seiring melandainya harga minyak dan investor melakukan aksi ambil untung. (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) turun pada Kamis (17/9/2026), di mana imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun berada di jalur penurunan harian terbesar dalam lebih dari tiga minggu, seiring melandainya harga minyak dan investor melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan harga baru-baru ini.

Mengutip Reuters, sebagian besar imbal hasil naik pada hari Rabu setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023—sebuah langkah yang sudah diperkirakan secara luas untuk mencoba mengendalikan inflasi yang terus tinggi—dan saat Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan komentar yang cenderung hawkish.

Di luar negeri, Bank of England pada hari Kamis mempertahankan suku bunga Inggris tetap stabil namun memberikan peringatan keras mengenai inflasi.

Baca Juga: Perang Timur Tengah Meluas ke Yaman dan Arab Saudi, Ini Dampaknya ke Harga Minyak

Lonjakan harga minyak yang terkait dengan perang AS-Israel melawan Iran telah memicu kekhawatiran mengenai inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil belakangan ini.

Investor seperti dana lindung nilai (hedge fund) yang sebelumnya bertaruh pada kenaikan imbal hasil kini mungkin sedang melakukan aksi ambil untung, kata Tom di Galoma, direktur pelaksana di Mischler Financial Group di Stamford, Connecticut.

"Tidak ada lagi yang ingin mengambil posisi short (bertaruh pada penurunan harga) untuk obligasi tenor panjang," ujarnya, seraya mencatat bahwa program pembelian kembali (buyback) Departemen Keuangan membantu meningkatkan permintaan terhadap obligasi berjangka waktu lebih panjang.

Investor juga masih mencerna kenaikan suku bunga Federal Reserve pada hari Rabu serta sinyal bank sentral AS mengenai kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa mendatang, di tengah masih besarnya ketidakpastian mengenai seberapa jauh bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

"Awalnya kita melihat suku bunga naik, sekarang kita melihat sedikit pembalikan dari kondisi kemarin, namun menurut saya pasar belum benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi di sini," kata Ron Albahary, kepala pejabat investasi di LNW di Philadelphia.

Para pedagang melihat peluang sekitar 53% untuk kenaikan suku bunga lagi saat bank sentral mengadakan pertemuan berikutnya pada bulan Oktober, menurut data CME FedWatch. 

Baca Juga: India Peringatkan AS, Tarif Minyak Rusia Bisa Ganggu Hubungan Bilateral

Harga minyak turun ke level terendah dalam satu minggu pada hari Kamis menyusul laporan adanya tambahan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Oman, yang meredakan kekhawatiran pasokan.

Sementara itu, Departemen Keuangan mencatat permintaan yang lemah dalam penjualan obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun senilai US$ 19 miliar.

Obligasi tersebut terjual dengan imbal hasil tinggi sebesar 2,653%, lebih dari dua basis poin di atas tingkat perdagangan sebelum penjualan dilakukan. Tingkat permintaan mencapai 2,24 kali lipat dari jumlah obligasi yang ditawarkan, angka terendah sejak September lalu.

Klaim Pengangguran Turun

Imbal hasil tetap rendah setelah data menunjukkan jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun secara tak terduga pada pekan lalu.

Klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara bagian turun 10.000 menjadi 196.000 (angka yang disesuaikan secara musiman) untuk pekan yang berakhir pada 12 September, demikian disampaikan Departemen Tenaga Kerja pada hari Kamis. 

Para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan angka klaim sebesar 208.000 untuk pekan tersebut. Penurunan tak terduga ini kemungkinan mencerminkan volatilitas terkait liburan Hari Buruh pekan lalu. Angka klaim memang sulit disesuaikan dengan fluktuasi musiman di sekitar hari libur nasional yang tanggalnya berubah-ubah.

Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Naikkan Bunga Lagi, Ini Proyeksi Broker Wall Street

Laporan terpisah menunjukkan pembangunan rumah keluarga tunggal di AS meningkat pada bulan Agustus, namun penurunan jumlah izin untuk konstruksi di masa mendatang mengindikasikan bahwa peningkatan tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara.

Yield US Treasury Acuan 10 Tahun di Bawah 5%

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun—yang sempat naik melampaui 5,00% untuk pertama kalinya sejak 2023 pada awal pekan ini—terakhir tercatat turun 6,1 basis poin ke level 4,943%, dan berada di jalur penurunan terbesar sejak 25 Agustus. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 5,6 basis poin menjadi 5,292% dan juga berada di jalur penurunan terbesar sejak 25 Agustus.

Bagian dari kurva imbal hasil (yield curve) obligasi pemerintah AS yang banyak dicermati—yang mengukur selisih antara imbal hasil obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun serta dipandang sebagai indikator ekspektasi ekonomi—berada di posisi positif 25,6 basis poin setelah sempat turun ke level 24,9, yang merupakan posisi paling datar sejak 25 Juni.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang biasanya bergerak seirama dengan ekspektasi suku bunga The Fed, turun 4,4 basis poin menjadi 4,683% dan mencatat penurunan terbesar sejak 3 September.

Tingkat breakeven untuk obligasi pemerintah AS yang terlindung dari inflasi (TIPS) tenor lima tahun tercatat di angka 2,34% setelah ditutup pada level 2,353% tanggal 16 September.

Tingkat breakeven TIPS tenor 10 tahun berada di angka 2,312%, yang mengindikasikan bahwa pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,3% per tahun selama satu dekade ke depan.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×