Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (17/9/2026), tertekan oleh meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah Arab Saudi menyiapkan jalur alternatif pengiriman minyak mentah melalui Oman.
Meski terkoreksi sekitar 3% dan berada di level terendah dalam sepekan, harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel. Pasar tetap mencermati risiko meluasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Harga minyak Brent berjangka turun US$3,11 atau 2,94% menjadi US$102,72 per barel pada pukul 13.24 GMT. Harga tersebut sekaligus menjadi level terendah Brent sejak 10 September 2026.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$1,96 atau 1,91% menjadi US$100,47 per barel, level terendah sejak 11 September 2026. Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya telah merosot sekitar US$3 per barel pada perdagangan Rabu (16/9/2026).
Baca Juga: Investor Asing Banjiri Obligasi Pemerintah Kanada, Dana Masuk Capai C$104 Miliar
Penurunan harga minyak terjadi setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengindikasikan bahwa jaringan pipa East-West milik Arab Saudi dapat kembali beroperasi lebih cepat dari perkiraan.
Selain itu, langkah Arab Saudi untuk mempertahankan pengiriman minyak melalui tambahan pemuatan di sekitar Oman turut meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi kekurangan pasokan.
Analis pasar utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan, perkembangan tersebut membuat pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.
Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan kargo minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui mekanisme transfer antarkapal atau ship-to-ship di sekitar pelabuhan Sohar, Oman.
Langkah tersebut diambil untuk mengimbangi sebagian gangguan pasokan yang terjadi setelah serangan terhadap jaringan pipa East-West yang menghubungkan fasilitas minyak Arab Saudi dengan kawasan Laut Merah.
Jalur alternatif Saudi
Harga minyak sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi sekitar empat bulan pada awal pekan ini. Kenaikan terjadi setelah sumber di industri pelayaran melaporkan penghentian pemuatan minyak mentah di terminal ekspor Yanbu, Arab Saudi.
Riyadh juga disebut membatalkan sejumlah pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa. Gangguan tersebut terjadi setelah jaringan pipa East-West yang memasok terminal Yanbu mengalami serangan.
Para pelaku pasar memperkirakan penghentian operasi pipa dalam waktu lama berpotensi menghilangkan pasokan hingga sekitar 4% dari pasokan minyak global.
Arab Saudi belum memberikan kepastian kapan jaringan pipa tersebut akan kembali beroperasi secara penuh. Namun, Chris Wright sebelumnya mengatakan bahwa aliran minyak melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali dalam hitungan hari.
Baca Juga: Inflasi Zona Euro Naik Menjadi 3,2% di Agustus, Tekanan Harga Energi Meningkat
Dua stasiun pompa yang melayani jaringan pipa East-West mengalami kerusakan akibat serangan pada pekan lalu. Berdasarkan penilaian sejumlah sumber di sektor minyak dan keamanan, waktu yang diperlukan untuk memperbaiki infrastruktur tersebut masih belum jelas.
Risiko pasokan minyak masih membayangi
Koreksi harga minyak pada Kamis belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan energi global.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga masih berada pada level rendah. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya tiga kapal komersial yang melintasi selat tersebut pada Rabu, turun dari 12 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 17 kapal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan geopolitik masih menjadi faktor penting yang diperhitungkan pasar minyak.
DBS Bank Singapura memperkirakan dalam skenario dasarnya bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran akan mereda pada kuartal IV 2026. Dengan asumsi tersebut, harga minyak Brent diperkirakan dapat stabil pada kisaran US$85-US$95 per barel.
Harga diesel tembus rekor
Selain minyak mentah, pasar juga menghadapi tekanan dari semakin ketatnya pasokan produk olahan, terutama diesel.
Gangguan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan Rusia telah mengurangi ketersediaan bahan bakar. Kondisi tersebut membuat harga produk diesel meningkat tajam.
Kontrak berjangka gasoil Eropa, yang menjadi salah satu acuan harga diesel, ditutup pada level rekor pada Selasa (15/9/2026). Kontrak diesel ultra-low sulfur di Amerika Serikat juga mencatat rekor harga.
Analis pasar utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan, kekurangan produk olahan berpotensi menjadi persoalan yang lebih besar dibandingkan gangguan pasokan minyak mentah dalam jangka pendek.
"Kelangkaan produk dapat dengan mudah menjadi masalah yang lebih besar daripada pasokan minyak mentah itu sendiri dalam waktu dekat, terutama karena kapasitas pengolahan minyak Rusia juga mengalami keterbatasan," kata Waterer.
Tekanan terhadap pasokan diesel juga meningkat setelah serangan drone Ukraina merusak sebuah kilang minyak di Kota Yaroslavl, Rusia. Gubernur wilayah tersebut, Mikhail Yevrayev, mengatakan serangan itu menyebabkan kebakaran yang kemudian berhasil dipadamkan.
Goldman Sachs menyebut kekhawatiran mengenai kelangkaan diesel dan kenaikan harga yang menyertainya telah mendorong perusahaan kilang memprioritaskan produksi diesel dibandingkan bensin.
Dengan demikian, meskipun harga minyak mentah mulai terkoreksi akibat adanya jalur alternatif pasokan Saudi melalui Oman, pasar energi global masih menghadapi risiko dari gangguan infrastruktur, rendahnya arus pelayaran di jalur strategis, serta ketatnya pasokan bahan bakar olahan.














