kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Harga Minyak Turun Setelah Arab Saudi Menawarkan Lebih Banyak Pasokan Melalui Oman


Kamis, 17 September 2026 / 05:15 WIB
Harga Minyak Turun Setelah Arab Saudi Menawarkan Lebih Banyak Pasokan Melalui Oman
ILUSTRASI. Harga minyak turun pada hari Rabu (16/9/2026) setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan kargo minyak mentah tambahan melalui Oman. (REUTERS/Todd Korol)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak turun pada hari Rabu (16/9/2026) setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan kargo minyak mentah tambahan melalui Oman, yang meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan di Timur Tengah, sementara penurunan inventaris minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan memberikan tekanan tambahan ke arah penurunan.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$ 2,92, atau 2,7%, dan ditutup pada level US$ 105,83 per barel. 

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 3,40, atau 3,2%, dan ditutup pada level US$ 102,43.

Arab Saudi menawarkan lebih banyak pemuatan minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui transfer antarkapal di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. 

Langkah ini mengurangi dampak gangguan pasokan global akibat serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat negara itu yang mengarah ke Laut Merah.

Baca Juga: Tak Hanya Ke Malaysia & Singapura, Asap Kebakaran Hutan Indonesia Terbang Makin Jauh

"Berita mengenai ekspor minyak Arab Saudi dari wilayah Teluk mengindikasikan bahwa kekhawatiran akan gangguan yang lebih besar mulai mereda," ujar analis UBS, Giovanni Staunovo.

Harga minyak sempat naik lebih dari US$ 3 pada sesi sebelumnya setelah sumber-sumber industri pelayaran menyebutkan bahwa pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Laut Merah Arab Saudi, Yanbu, telah ditangguhkan dan Riyadh membatalkan beberapa pengiriman kargo ke pelanggan Eropa. Penangguhan tersebut menyusul serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat yang memasok minyak ke pelabuhan Yanbu, Arab Saudi.

Yanbu menjadi jalur utama ekspor minyak Arab Saudi setelah Iran mulai memblokade Selat Hormuz menyusul serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut pada akhir Februari. 

Sebelum perang, Hormuz merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Data awal pelayaran yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa jumlah kapal yang terlihat melintasi Selat Hormuz tetap berada di angka satu digit, yakni empat kapal pada hari Selasa, turun dari tujuh kapal sehari sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang sebesar 18 kapal.

Terbebani Data Persediaan AS

Harga minyak kembali tertekan setelah Badan Informasi Energi AS (EIA) pada hari Rabu melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan pada pekan lalu. 

Data EIA menunjukkan stok minyak mentah di negara produsen utama tersebut turun sekitar 640.000 barel pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi penurunan sebesar 1,62 juta barel menurut jajak pendapat Reuters terhadap para analis energi.

Data EIA juga menunjukkan kenaikan pada persediaan bensin dan distilat AS pekan lalu. Kenaikan stok diesel lebih besar dari perkiraan, sementara stok bensin diperkirakan turun pada pekan lalu menurut jajak pendapat Reuters.

Data tersebut memberikan sentimen negatif (bearish) bagi harga minyak karena menunjukkan bahwa stok produk olahan tetap stabil dan bahkan sedikit meningkat, sementara penurunan stok minyak mentah cenderung stagnan, kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Analis lain memperingatkan bahwa data tersebut tidak banyak mengubah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian akibat eskalasi kekerasan yang terus berlanjut di Timur Tengah.

Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Buka Peluang Kenaikan Lagi

"Secara keseluruhan, data hari ini tidak banyak mengubah pandangan perdagangan bullish (optimistis) kami yang sudah lama dianut, di mana melakukan pembelian saat terjadi penurunan harga yang signifikan tetap jauh lebih disukai dibandingkan upaya untuk menebak titik puncak pasar bullish ini," demikian disampaikan penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates kepada para kliennya dalam sebuah catatan.

Eskalasi di Timur Tengah

Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak seiring serangan udara pesawat tempur Arab Saudi ke Yaman dan peluncuran pesawat nirawak (drone) serta rudal oleh milisi Houthi yang didukung Iran ke kota-kota di Arab Saudi. 

Kelompok Houthi, yang telah menguasai berbagai kota di Yaman di sepanjang Laut Merah sejak pekan lalu, menyatakan telah melancarkan serangan baru ke Yanbu.

Citi memperkirakan eskalasi jangka pendek di Timur Tengah akan terus menopang harga minyak mentah dan bahan bakar olahan sebelum Selat Hormuz akhirnya dibuka kembali pada kuartal keempat tahun 2026 berkat dukungan upaya diplomatik regional, ungkap bank tersebut dalam sebuah catatan. 

Diesel telah menjadi perhatian utama di pasar minyak global seiring meningkatnya ketegangan dalam beberapa pekan terakhir, mengingat Timur Tengah merupakan pemasok utama baik untuk bahan bakar tersebut maupun jenis minyak mentah yang paling sesuai untuk produksinya. Serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia—pemasok diesel besar lainnya—semakin memperketat kondisi pasar dan mendorong harga ke rekor tertinggi.

Baca Juga: Stok Minyak Mentah AS Turun, Tapi Persediaan Bensin dan Diesel Naik

Kontrak berjangka gasoil Eropa, yang menjadi acuan harga diesel, ditutup pada rekor tertinggi pada hari Selasa. Kontrak berjangka diesel dengan kandungan sulfur sangat rendah (ultra-low sulfur diesel) di AS juga ditutup pada rekor tertinggi pada hari yang sama.

"Eropa telah kehilangan pasokan diesel dan bahan bakar jet dalam jumlah besar dari Timur Tengah, sementara ketegangan yang terus berlanjut di Eropa Timur telah mengganggu produksi di sejumlah kilang utama Rusia dan mendorong Moskow untuk membatasi ekspor bahan bakar," ujar Frank Walbaum, analis pasar di Naga.com.


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×