Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (16/92026) dan membuka peluang kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Kebijakan ini mencerminkan upaya bank sentral Amerika Serikat (AS) menekan inflasi yang masih berada di atas target.
Melansir Reuters, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh 18 anggota komite kebijakan moneter.
Baca Juga: Jelang Keputusan The Fed, Yield US Treasury 10 Tahun Kembali di Bawah 5%
Dalam proyeksi terbaru, sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps hingga akhir 2026. Hanya dua pejabat yang memperkirakan suku bunga tetap pada level saat ini.
Proyeksi tersebut menunjukkan, The Fed masih membuka ruang untuk kebijakan moneter yang lebih ketat, meskipun kenaikan suku bunga kali ini sebelumnya telah diperkirakan pasar.
Berdasarkan proyeksi terbaru, suku bunga The Fed diperkirakan berada di kisaran 4,00%-4,25% pada akhir 2026 dan tetap berada di kisaran tersebut hingga akhir 2027.
"Langkah kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target 2%," kata The Fed dalam pernyataannya setelah rapat kebijakan selama dua hari.
Baca Juga: Stok Minyak Mentah AS Turun, Tapi Persediaan Bensin dan Diesel Naik
Inflasi Diproyeksikan Lebih Tinggi
The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi AS. Inflasi berdasarkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index diperkirakan mencapai 3,7% pada tahun ini, naik dari proyeksi 3,6% dalam pertemuan Juni.
Bank sentral AS kini memperkirakan inflasi baru kembali ke target 2% pada 2029, atau satu tahun lebih lambat dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sedikit dinaikkan menjadi 2,3% dari 2,2%.
Tingkat pengangguran diperkirakan berada di 4,1% pada akhir tahun, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,3%.
Tekanan inflasi masih menjadi perhatian karena sejumlah faktor. Tarif impor AS, kenaikan harga energi setelah konflik AS-Israel dengan Iran, serta tingginya belanja modal terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut memberikan tekanan terhadap harga.
Pernyataan terbaru The Fed juga tidak lagi menyebut kenaikan inflasi saat ini terutama disebabkan oleh "supply shocks", khususnya dari sektor energi. Perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan harga dinilai lebih luas.
Baca Juga: S&P 500 dan Nasdaq Naik Tipis di Tengah Penantian Keputusan The Fed
Pasar Menanti Pernyataan Warsh
Keputusan kenaikan suku bunga merupakan perubahan kebijakan pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh yang mulai menjabat pada akhir Mei setelah dipilih Presiden AS Donald Trump.
Warsh sebelumnya dipilih dengan ekspektasi bahwa kebijakan moneter akan lebih longgar.
Namun, proyeksi dan pernyataan terbaru The Fed justru menunjukkan ruang bagi suku bunga yang lebih tinggi hingga tahun depan.
Pasar kini akan mencermati konferensi pers Warsh untuk mengetahui alasan di balik keputusan tersebut dan kondisi yang dapat mendorong The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Pernyataan Warsh juga menjadi perhatian pasar obligasi karena kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor panjang dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Bursa Saham Turki Rontok Gara-Gara Ini, Sempat Dihentikan Sementara
Warsh sebelumnya menyatakan komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target 2% secara "jelas dan dengan kecepatan yang memadai" melalui kenaikan suku bunga jika diperlukan.
Keputusan The Fed tersebut juga datang kurang dari dua bulan sebelum pemilihan sela AS yang akan menentukan apakah Partai Republik mempertahankan kendali Kongres hingga dua tahun terakhir masa jabatan Trump.
Tekanan biaya hidup menjadi salah satu perhatian menjelang pemilu. Harga bensin di AS disebut sekitar sepertiga lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sementara rata-rata suku bunga hipotek fixed-rate 30 tahun mendekati 7%.














