CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Peluang The Fed Kerek Suku Bunga Kian Besar


Jumat, 11 September 2026 / 22:55 WIB
Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Peluang The Fed Kerek Suku Bunga Kian Besar
Ketua The Fed Kevin Warsh (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pekan depan semakin terbuka setelah inflasi Amerika Serikat (AS) kembali lebih tinggi dari perkiraan.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 85%.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, naik 0,3% pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,2%.

Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,4%, sedangkan inflasi konsumen secara keseluruhan berada di level 3,4%.

Baca Juga: Inflasi AS Terancam Panas Lagi, The Fed Mulai Bahas Peluang Kenaikan Suku Bunga

Data tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum cukup mereda untuk membawa inflasi menuju target The Fed sebesar 2%.

Kondisi ini semakin menjadi perhatian setelah data indeks harga produsen (PPI) Agustus juga lebih tinggi dari perkiraan.

Kenaikan harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah turut meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan.

"Data inflasi inti 0,3% hari ini, ditambah kenaikan tajam harga energi dan ketegangan yang terus berlangsung dengan Iran, hampir memastikan kenaikan suku bunga The Fed pekan depan," kata Chief Global Strategist Principal Asset Management Seema Shah.

The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75% sepanjang tahun ini.

Dalam pertemuan Juli, keputusan mempertahankan suku bunga diambil dengan suara 9-3, menunjukkan semakin kuatnya pandangan di internal bank sentral bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin diperlukan.

Baca Juga: The Fed Mempertahankan Suku Bunga Acuan, Inflasi Diproyeksi Akan Naik

Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya mengatakan bank sentral perlu bertindak apabila tidak memiliki keyakinan bahwa inflasi dasar bergerak menuju target 2% secara jelas dan dalam kecepatan yang memadai.

Data inflasi Agustus dinilai belum memberikan keyakinan tersebut. Karena itu, tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September semakin besar.

Namun, peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya pasti. The Fed menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), bukan CPI, sebagai ukuran utama inflasi. Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi inti PCE Agustus hanya naik sekitar 0,2%.

Oxford Economics menilai kenaikan tersebut masih tergolong moderat sehingga The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga. Meski demikian, keputusan The Fed dinilai sangat ketat.

Di pasar keuangan, ekspektasi kenaikan suku bunga telah meningkat setelah rilis data inflasi terbaru.

Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek kini mencerminkan peluang sekitar 85% untuk kenaikan 25 basis poin pada pertemuan September, naik dari sekitar 70% sebelum data inflasi dirilis.

Baca Juga: Dolar AS Goyah, Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga September Makin Besar

Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga kedua pada Desember.

Sejumlah ekonom menilai kenaikan suku bunga, jika terjadi, belum tentu menandai kembalinya inflasi ke tren yang lebih tinggi.

Ekonom Natixis Christopher Hodge menyebut data terbaru lebih mungkin menjadi gangguan sementara dalam proses penurunan inflasi.

Meski demikian, kombinasi inflasi yang masih berada di atas target, kenaikan harga produsen, serta lonjakan harga energi membuat ruang The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga semakin sempit.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×