Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal bahwa perang dengan Iran berpotensi segera berakhir.
Pernyataan ini muncul ketika konflik yang melibatkan AS, Israel dan Iran telah memasuki bulan ketujuh tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Trump mengatakan Iran disebut ingin mencapai kesepakatan dengan AS. Ia juga mengaku telah menerima komunikasi langsung dari Iran, meski tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai isi komunikasi tersebut.
"Semoga kita sudah menuju akhir perang," kata Trump kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).
Sinyal tersebut muncul bersamaan dengan rencana pertemuan Trump dengan para pemimpin negara-negara Teluk di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Selasa pekan depan.
Baca Juga: Trump Berharap Perang Iran Segera Berakhir
Mengutip laporan Axios, pertemuan tersebut diperkirakan membahas rencana AS terkait strategi setelah perang berakhir.
Para pemimpin atau menteri luar negeri dari negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait dan Oman, diperkirakan hadir.
Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS belum memberikan komentar mengenai rencana pertemuan tersebut.
Perang Iran dimulai pada 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Tehran kemudian merespons dengan serangan terhadap Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi akibat serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel terhadap Lebanon.
Baca Juga: Trump Beri Ultimatum ke Iran: Deal atau Kami Habisi
Trump sebelumnya menyebut pelemahan kemampuan nuklir Iran sebagai salah satu tujuan utama perang. Iran sendiri tidak memiliki senjata nuklir dan menyatakan program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk kepentingan damai.
Di sisi lain, dampak perang mulai meluas ke sektor energi. Kenaikan harga minyak dan gas akibat konflik menjadi persoalan penting bagi Partai Republik menjelang pemilihan sela AS pada November.
Dengan munculnya pernyataan Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang dan rencana pembahasan strategi pascaperang bersama negara-negara Teluk, perhatian kini tertuju pada bentuk kesepakatan yang tengah dijajaki serta bagaimana AS akan mengelola kawasan Timur Tengah setelah konflik berakhir.














