kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.771   78,00   0,44%
  • IDX 6.457   20,22   0,31%
  • KOMPAS100 852   2,05   0,24%
  • LQ45 648   1,22   0,19%
  • ISSI 224   0,82   0,37%
  • IDX30 360   1,42   0,39%
  • IDXHIDIV20 450   2,43   0,54%
  • IDX80 97   0,25   0,25%
  • IDXV30 124   0,29   0,23%
  • IDXQ30 116   0,50   0,44%

Indonesia Dapat Tawaran Peningkatan Pelabuhan Natuna dari Jepang, China Waspada


Kamis, 17 September 2026 / 13:45 WIB
Indonesia Dapat Tawaran Peningkatan Pelabuhan Natuna dari Jepang, China Waspada
ILUSTRASI. SITUS GEOLOGI ALIF STONE NATUNA (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA) Jepang menawarkan peningkatan pelabuhan Natuna untuk memperkuat keamanan maritim. Indonesia tetap menjaga keseimbangan hubungan dengan China.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jepang menawarkan bantuan untuk meningkatkan kapasitas sejumlah pelabuhan perikanan di Indonesia, termasuk di Kepulauan Natuna.

Langkah ini memperkuat kerja sama keamanan maritim kedua negara, tetapi tidak serta-merta menunjukkan bahwa Indonesia mengambil posisi berseberangan dengan China.

Mengutip laporan Kyodo News, seperti dikutip dari pemberitaan South China Morning Post, Kamis (17/9/2026), pemerintah Jepang berencana memanfaatkan skema bantuan pembangunan resmi atau official development assistance (ODA) untuk meningkatkan fasilitas pelabuhan perikanan Indonesia.

Pengembangan tersebut akan memungkinkan kapal patroli menjangkau wilayah yang lebih luas.

Baca Juga: Indonesia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan China, Fokus AI dan Hilirisasi

Salah satu lokasi yang dipertimbangkan adalah Kepulauan Natuna, yang berada di kawasan Laut China Selatan dan berdekatan dengan area yang diklaim China melalui nine-dash line. 

Proposal tersebut muncul ketika kerja sama pertahanan Jepang dan Indonesia terus berkembang. Kedua negara sebelumnya telah memperluas kerja sama di bidang industri pertahanan, pengembangan personel militer, dialog pertahanan hingga penjajakan peralatan dan teknologi pertahanan.

Bagi Indonesia, penguatan fasilitas di Natuna juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan kedaulatan. Kawasan tersebut memiliki sumber daya perikanan yang besar sekaligus berada di jalur pelayaran strategis.

Dosen hubungan internasional Universitas Indonesia Chaula Rininta Anindya menilai peningkatan kapasitas pelabuhan dapat memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi aktivitas di wilayah abu-abu atau grey zone di Laut Natuna Utara.

Baca Juga: Anomali Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, FDI dari China Naik dan PMI Manufaktur Melemah

Namun, kerja sama tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk merespons persoalan Laut China Selatan.

Menurut dia, pelabuhan dengan fungsi ganda dapat digunakan untuk aktivitas sipil sekaligus mendukung kebutuhan militer dan penjaga pantai ketika diperlukan. Langkah tersebut sejalan dengan strategi pertahanan Indonesia berbasis pulau-pulau besar.

"Indonesia tetap pragmatis dalam membangun kerja sama dengan berbagai negara," kata Anindya.

Kepentingan Jepang di jalur Laut China Selatan

Dari sisi Jepang, peningkatan kapasitas maritim Indonesia juga memiliki kepentingan strategis. Sebagian besar impor energi Jepang dan aktivitas perdagangan lautnya melewati Laut China Selatan.

Profesor di Graduate School of Public Policy, University of Tokyo, Heng Yee Kuang, mengatakan posisi geografis Indonesia yang berada di jalur pelayaran dan sejumlah titik strategis membuat negara ini penting bagi kepentingan maritim Jepang.

Karena itu, menurut Heng, membantu Indonesia mengatasi persoalan maritim juga menjadi kepentingan Jepang sendiri.

Kerja sama tersebut bukan hal baru. Jepang telah memasok kapal patroli kepada penjaga pantai Indonesia sejak awal 2000-an.

Baca Juga: Melihat Kuatnya Pengaruh Beijing Terhadap Ekonomi Indonesia




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×