kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

India Peringatkan AS, Tarif Minyak Rusia Bisa Ganggu Hubungan Bilateral


Kamis, 17 September 2026 / 22:28 WIB
India Peringatkan AS, Tarif Minyak Rusia Bisa Ganggu Hubungan Bilateral
ILUSTRASI. India memperingatkan Amerika Serikat bahwa kebijakan baru berupa tarif terhadap negara yang membeli minyak Rusia berpotensi memengaruhi hubungan (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – NEW DELHI. India memperingatkan Amerika Serikat bahwa kebijakan baru berupa tarif terhadap negara yang membeli minyak Rusia berpotensi memengaruhi hubungan bilateral kedua negara. Peringatan tersebut disampaikan setelah Washington mengambil langkah baru untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap pembeli energi Rusia.

Kementerian Luar Negeri India mengatakan New Delhi telah menyampaikan kepada Washington mengenai potensi dampak kebijakan tersebut terhadap hubungan India-AS maupun pasar energi internasional.

Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor terbesar India. Berdasarkan data resmi terbaru, pengiriman barang India ke AS mencapai US$42,79 miliar pada periode April-Agustus, meningkat dari US$40,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Rabu (17/9/2026), Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan rancangan undang-undang sanksi dan tarif yang ditujukan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Rusia terkait invasinya ke Ukraina.

Rancangan tersebut kini telah dikirim kepada Presiden AS Donald Trump untuk ditandatangani menjadi undang-undang. Aturan itu memberikan kewenangan kepada Trump untuk mengenakan tarif hingga 100% terhadap China, India, dan negara lain yang dinilai perlu ditekan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia.

Baca Juga: Harga Minyak Turun 3%, Pasokan Saudi via Oman Redakan Kekhawatiran Pasar

Kementerian Luar Negeri India menyatakan telah mencermati pengesahan rancangan undang-undang tersebut. New Delhi juga mengklaim telah membahas persoalan ini dengan Washington dalam beberapa bulan terakhir.

"India telah menyampaikan dengan sangat jelas potensi implikasinya terhadap hubungan bilateral dan pasar energi internasional," kata Kementerian Luar Negeri India dalam sebuah pernyataan.

New Delhi menegaskan tetap berkomitmen menjaga ketahanan energi bagi masyarakatnya. India juga akan terus mendapatkan pasokan dari berbagai pemasok dengan mempertimbangkan dinamika pasar.

"Pihak India juga telah memperjelas tekadnya untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna melindungi kepentingan perdagangan dan ekonominya," ujar kementerian tersebut.

Pemerintah India menyatakan akan bekerja sama dengan berbagai asosiasi perdagangan dan industri untuk menghadapi dampak dari regulasi tersebut.

India Masih Andalkan Minyak Rusia

India merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia dan menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia. Pembelian tersebut membantu Rusia mempertahankan penerimaan anggaran setelah negara itu menghadapi berbagai sanksi Barat menyusul invasinya ke Ukraina pada 2022.

Baca Juga: Investor Asing Banjiri Obligasi Pemerintah Kanada, Dana Masuk Capai C$104 Miliar

New Delhi berulang kali menolak tekanan untuk mengurangi perdagangan minyak dengan Rusia. Pemerintah India beralasan bahwa jumlah penduduk dan kebutuhan ekonominya membutuhkan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan dapat diandalkan.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan perusahaan pengilangan India telah mengatur pembelian minyak untuk September dan Oktober, termasuk minyak mentah dari Rusia.

Dua sumber di sektor pengilangan mengatakan mereka berharap pemerintah India membahas persoalan tersebut dengan otoritas AS. Mereka memperkirakan harga minyak dapat melonjak tajam apabila Trump memutuskan menerapkan tarif baru.

Pasokan minyak global juga telah berkurang secara signifikan akibat perang di Timur Tengah. Dalam kondisi tersebut, pengurangan pasokan minyak Rusia dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap keuntungan perusahaan pengilangan India.

Menurut sumber tersebut, perusahaan pengilangan India saat ini sudah menjual bahan bakar dengan harga di bawah harga pasar.

Para pengolah minyak tersebut berharap pemerintah dapat meminta kelonggaran dari Washington daripada langsung menerapkan tarif 100%. Salah satu opsi yang diinginkan adalah memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menyelesaikan transaksi yang sudah berjalan serta menetapkan kuota pembelian minyak Rusia bagi India.

Kementerian Perminyakan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Luar Negeri India belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirim melalui surat elektronik.

Tarif AS Bisa Rumitkan Negosiasi Dagang India-AS

Ancaman tarif baru AS terhadap ekspor India juga berpotensi menambah tantangan dalam negosiasi perdagangan antara kedua negara yang masih berlangsung.

Sejumlah analis India menilai kebijakan tersebut dapat memperumit pembicaraan dan berpotensi menunda tercapainya kesepakatan perdagangan India-AS.

Baca Juga: Inflasi Zona Euro Naik Menjadi 3,2% di Agustus, Tekanan Harga Energi Meningkat

"Washington dapat menggunakan ancaman tarif untuk menekan India agar mengurangi pembelian minyak Rusia dan menerima kesepakatan perdagangan yang sangat tidak seimbang," kata Ajay Srivastava, pendiri lembaga pemikir Global Trade Research Initiative yang berbasis di New Delhi sekaligus mantan pejabat perdagangan India.

Setelah berbulan-bulan melakukan pembicaraan, India dan AS hingga kini belum mencapai konsensus mengenai kesepakatan perdagangan. New Delhi masih berupaya mendapatkan kesepakatan yang dinilai lebih menguntungkan.

Menteri Perdagangan India Piyush Goyal dijadwalkan melakukan perjalanan ke AS untuk menghadiri pertemuan para menteri perdagangan G20 pada akhir September. Ia juga diperkirakan bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer untuk membahas kelanjutan negosiasi perdagangan kedua negara.

Sebelumnya, India berharap dapat menandatangani kesepakatan sementara pada Maret, yang kemudian dilanjutkan dengan kesepakatan perdagangan penuh.

Pada awal Februari, Trump sebelumnya sepakat memangkas tarif tinggi hingga 50% terhadap barang-barang India dengan sejumlah komitmen dari New Delhi. Salah satu komitmen tersebut adalah menghentikan impor minyak Rusia, menurunkan bea masuk terhadap barang AS, serta berjanji membeli produk-produk Amerika senilai US$500 miliar.

Meski menghadapi tarif tinggi dalam kebijakan sebelumnya, pengiriman barang India ke AS tercatat tetap stabil dan bahkan terus meningkat setelahnya.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×