Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Minat investor asing terhadap saham Vietnam mulai meningkat menjelang rencana FTSE Russell menaikkan status pasar saham Vietnam menjadi secondary emerging market pada Senin (21/9/2026).
Kenaikan klasifikasi ini diperkirakan dapat mendorong masuknya dana asing ke pasar saham Vietnam.
Baca Juga: Emas Spot Naik Tipis ke US$ 4.352 Jumat (18/9), Dolar AS dan Minyak Jadi Penopang
Melansir Reuters Jumat (18/9/2026), FTSE Russell sebelumnya memperkirakan perubahan status tersebut berpotensi mengalihkan dana hingga sekitar US$ 6 miliar ke saham-saham Vietnam.
Arus dana tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap seiring dengan penyesuaian portofolio dana yang mengikuti indeks FTSE.
Transisi menuju status baru tersebut akan dilakukan dalam empat tahap hingga 2027. SSI Research memperkirakan dana pasif yang mengikuti indeks FTSE akan membeli saham Vietnam sekitar US$ 240 juta pada tahap pertama yang berlangsung pada 18 September, sebelum perubahan indeks mulai berlaku.
Ekspektasi tersebut mulai menghidupkan kembali minat investor asing. Investor luar negeri tercatat melakukan pembelian bersih saham Vietnam senilai 1,42 triliun dong atau sekitar US$ 54,63 juta sepanjang pekan ini.
Meski demikian, secara kumulatif investor asing masih mencatatkan penjualan bersih lebih dari US$ 3,6 miliar di pasar saham Vietnam sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: Yen Melemah Jelang Keputusan BOJ, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga
Saham yang Berpotensi Jadi Sasaran Dana Asing
FTSE Russell pada Agustus lalu mengidentifikasi 27 saham Vietnam yang memenuhi syarat untuk masuk ke FTSE Global All Cap Index.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar masuk dalam daftar tersebut, termasuk konglomerasi Vingroup, perusahaan teknologi FPT dan produsen baja Hoa Phat Group.
SSI Research memperkirakan arus dana ETF terbesar pada tahap pertama akan menyasar saham VPBank, Vinhomes, FPT dan Hoa Phat.
Namun, Vingroup justru diperkirakan menghadapi potensi arus dana keluar sekitar US$ 28 juta. SSI Research menilai aksi jual dari ETF yang sudah ada berpotensi lebih besar dibandingkan pembelian yang berasal dari perubahan klasifikasi FTSE.
Ketua Dynam Capital, Craig Martin, mengatakan kenaikan status FTSE menjadi penanda meningkatnya perhatian dan keterlibatan investor asing terhadap pasar Vietnam.
"FTSE upgrade adalah penanda dalam perjalanan menuju peningkatan kesadaran dan keterlibatan investor asing," ujar Martin.
Ia menambahkan, pasar saham Vietnam masih relatif murah, sementara pertumbuhan laba perusahaan masih kuat.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 1% Jumat (18/9), Brent & WTI Masih di Atas US$ 100 per Barel
VN-Index Masih Tertinggal
Optimisme terhadap perubahan klasifikasi FTSE belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja indeks saham Vietnam. Berdasarkan data LSEG, VN-Index baru naik sekitar 1,4% sepanjang tahun ini.
Kinerja tersebut masih tertinggal dibandingkan indeks saham Thailand yang naik sekitar 24% dan Singapura sekitar 21%.
Padahal, pada tahun lalu Vietnam menjadi pasar saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara. Investor kala itu mulai mengantisipasi perubahan status Vietnam dalam klasifikasi FTSE.
Sejumlah tantangan masih membayangi pasar saham Vietnam, terutama terkait batas kepemilikan asing (foreign ownership limits) dan keterbatasan free float pada sejumlah perusahaan.
Kenaikan status oleh FTSE juga kembali memunculkan ekspektasi mengenai peluang Vietnam memperoleh peningkatan klasifikasi dari MSCI di masa mendatang.
Investor menilai penerapan mekanisme central counterparty clearing (CCP), yang diperkirakan dapat mulai diterapkan paling cepat pada 2027, berpotensi membantu Vietnam memenuhi sejumlah persyaratan akses pasar MSCI.
Baca Juga: Perhiasan US$ 6 Juta Lebih Dirampok, Kim Kardashian Terima Ganti Rugi 1 Euro














