kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Pidato Lengkap Gubernur The Fed Lisa D. Cook (15/7): Prospek Ekonomi


Kamis, 16 Juli 2026 / 06:31 WIB
Pidato Lengkap Gubernur The Fed Lisa D. Cook (15/7): Prospek Ekonomi
ILUSTRASI. Gubernur The Fed Lisa D. Cook: Meski saya menolak untuk memprediksi arah kebijakan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa saya berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke sasaran 2% kami. (The Fed/The Fed)


Sumber: The Fed | Editor: Hasbi Maulana

15 Juli 2026

Prospek Ekonomi

Gubernur Lisa D. Cook
Di The Exchequer Club of Washington D.C., Washington, D.C.

Terima kasih, Paul, atas pengantar yang begitu baik. Saya merasa terhormat dapat berbicara di hadapan Anda dan semua yang hadir bersama kita hari ini.

Inflasi yang tetap tinggi menimbulkan beban yang tak dapat diterima bagi keluarga-keluarga Amerika, dan menjadi tanggung jawab Federal Reserve untuk memulihkan stabilitas harga. Sebagai pembuat kebijakan moneter, tantangan ini menjadi perhatian utama saya. Saya mengamati kedua sisi mandat ganda kami—stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Namun, seperti telah saya sampaikan pada beberapa kesempatan sepanjang tahun ini, risiko dari inflasi tinggi lebih mengkhawatirkan saya pada saat ini. Meski laporan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) pekan ini lebih lunak dari perkiraan, angka tersebut tetap menyiratkan bahwa indeks harga yang menjadi acuan kami naik 3,7% dalam 12 bulan hingga Juni. Angka ini 1,7 poin persentase di atas target kami sebesar 2%. Kami belum mencapai target 2% tersebut selama lebih dari lima tahun.

Untuk memberi konteks pada pandangan saya mengenai mandat ganda ini, saya ingin memaparkan gambaran yang lebih luas mengenai prospek ekonomi saya serta membahas perkembangan terkini dalam kebijakan moneter.

Kondisi Ekonomi Sepanjang Tahun Lalu

Mari kita mundur sedikit lebih dari setahun lalu, ke musim semi dan musim panas 2025. Saat itu, prospek lapangan kerja dan output masih lesu. Meski pasar tenaga kerja relatif solid hingga musim semi itu, banyak lembaga proyeksi memperkirakan tingkat pengangguran akan naik, seiring ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan yang membebani perekonomian. Perkiraan median dari para anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2025 dan 2026 saat itu hanya 1,4% dan 1,6%—jauh di bawah rata-rata laju pertumbuhan pada dekade sebelum pandemi.

Anda mungkin juga masih ingat, pada musim semi dan panas lalu, inflasi saat itu masih di atas target namun sedang mereda. Pada April 2025, inflasi 12 bulan telah turun ke 2,3% dari 2,8% setahun sebelumnya. Namun perubahan kebijakan tarif tahun lalu membuat banyak lembaga proyeksi—termasuk saya sendiri—meyakini bahwa inflasi akan kembali naik pada 2025, mengganggu tren menuju target. Meski begitu, para ekonom secara luas memperkirakan inflasi akan kembali pada jalur penurunan menjelang akhir 2026. Pada Juni tahun lalu, pejabat The Fed memproyeksikan inflasi sebesar 2,4% untuk 2026, baik untuk ukuran headline maupun inti (core) yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak.
Jadi, setahun lalu, kita menghadapi pelemahan proyeksi lapangan kerja dan output, sekaligus kenaikan inflasi di atas target yang kecil namun bersifat sementara. Dengan risiko di kedua sisi mandat ganda tersebut, apa yang diputuskan FOMC? Kami memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap tak berubah pada rapat Juni 2025 itu.

Izinkan saya menjelaskan pemikiran saya saat itu. Salah satu cara sederhana untuk memvisualisasikan proses pengambilan keputusan kebijakan moneter adalah dengan gambaran jungkat-jungkit. Anda bisa membayangkan risiko terhadap mandat lapangan kerja berada di satu sisi, dan risiko terhadap mandat inflasi di sisi lainnya. Tahun lalu, jungkat-jungkit itu dalam kondisi seimbang—kedua sisinya sama-sama melayang di udara—meski sedikit condong ke arah ancaman terhadap mandat lapangan kerja, yang menurut pandangan saya sedikit lebih berat bobotnya saat itu.

Kondisi Ekonomi Saat Ini

Bagaimana keseimbangan itu bergeser sekarang?

Mari kita mulai dari pasar tenaga kerja. Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan tingkat pengangguran sebesar 4,2% pada Juni. Angka ini kurang lebih sejalan dengan pembacaan sepanjang tahun terakhir dan konsisten dengan apa yang diyakini banyak ekonom sebagai tingkat pengangguran alamiah (natural rate). Tingkat pengangguran yang sebagian besar stabil ini mengindikasikan pasar tenaga kerja yang stabil. Bahkan, hampir seluruh indikator menunjuk ke arah stabilitas. Klaim tunjangan pengangguran tetap rendah, jumlah pekerja di luar sektor pertanian (payrolls) tumbuh moderat, dan lowongan kerja meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Memang benar, lingkungan dengan tingkat perekrutan rendah dan tingkat PHK rendah (low-hire, low-fire) ini memukul cukup keras kelompok tertentu—seperti para pendatang baru di pasar kerja—dan mungkin turut menekan sentimen pekerja, dengan alasan yang wajar. Lingkungan perekrutan rendah ini bisa disebabkan oleh pergeseran struktural jangka panjang, efek lanjutan dari perekrutan berlebihan pascapandemi, atau meningkatnya kerja dari rumah (work from home). Kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi pekerja tertentu, terutama mereka yang baru berupaya memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya. Namun, bukti dari tingkat internasional maupun tingkat negara bagian menunjukkan bahwa lingkungan perekrutan rendah—sejauh itu mencerminkan pertumbuhan populasi yang rendah—tidak berarti pasar tenaga kerja cenderung bergeser ke arah perlambatan (downturn).

Pada saat yang sama, banyak pekerja secara wajar merasa khawatir mengenai bagaimana kecerdasan buatan (AI) akan memengaruhi mata pencaharian mereka. Sejauh ini, prediksi-prediksi paling suram mengenai transisi lapangan kerja akibat AI belum terwujud. Meski saya tetap memandang hal ini sebagai risiko signifikan, saya tidak melihatnya sebagai risiko yang lebih besar dibanding setahun lalu. Bahkan, saya melihat sedikit alasan bahwa pasar tenaga kerja saat ini memiliki risiko lebih besar dibanding setahun sebelumnya. Karena itu, risiko dari sisi lapangan kerja telah menyusut. Keseimbangan risiko kini bergeser ke arah mandat inflasi.

Ketahanan output yang mengejutkan semakin memperkuat pandangan tersebut. Pertumbuhan PDB pada 2025 tercatat 2,0%, dan para anggota FOMC kini memproyeksikan 2026 akan berada di 2,2%. Kedua angka ini melampaui proyeksi tahun lalu sekitar 0,5 poin persentase. Produktivitas tenaga kerja sedang melesat, tumbuh sekitar 2,5% per tahun selama dua tahun terakhir. Pembangunan pusat data (data center) turut menambah "panas" pada perekonomian. Sebagaimana data pasar tenaga kerja, perkembangan ini mengarah pada berkurangnya risiko terhadap mandat lapangan kerja.

Sekarang mari saya beralih ke sisi inflasi. Penilaian awalnya sederhana: inflasi memang terlalu tinggi. Laju inflasi tahunan saat ini mendekati level tertinggi sejak 2023. Musim panas lalu, wajar untuk mengharapkan inflasi kembali ke jalur penurunan setelah kenaikan harga sekali waktu (one-time) akibat tarif. Dan memang, kenaikan harga terkait tarif tampaknya sebagian besar sudah berlalu—namun inflasi justru bergerak lebih tinggi.

Inflasi headline untuk 2026 diperkirakan akan berada sekitar 1 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan setahun lalu. Inflasi inti (core) juga berada jauh di atas perkiraan saya sebelumnya, didorong oleh harga barang inti (core goods) yang meningkat pada laju tahunan yang mencolok, yakni 5%, sejauh tahun ini. Perlu dicatat, pada era sebelum pandemi, harga barang inti justru berada dalam tren menurun. Kenaikan harga barang inti ini menegaskan bahwa percepatan inflasi belakangan ini bukan semata-mata cerita mengenai harga energi.

Tahun ini, perekonomian menghadapi dua guncangan harga yang tak terduga. Guncangan pertama adalah konflik Timur Tengah, yang mendorong harga energi lebih tinggi dan kemungkinan turut berdampak lanjutan pada barang lain, seperti pangan. Dan, sebagaimana ditunjukkan oleh peristiwa-peristiwa sepekan terakhir, masih ada banyak ketidakpastian mengenai kapan tekanan harga dari guncangan ini akan mereda. Guncangan kedua adalah meningkatnya belanja modal (capital expenditure) terkait pembangunan infrastruktur AI. Belanja ini telah menyebabkan kenaikan harga signifikan pada chip, peralatan teknologi tinggi lainnya, perangkat lunak, dan utilitas. Kedua perkembangan baru ini menambah bobot pada sisi risiko inflasi dalam jungkat-jungkit tersebut, yang kini condong ke arah tanah. Secara keseluruhan, saya melihat pergeseran nyata dalam keseimbangan risiko dibanding setahun atau lebih lalu, dengan risiko inflasi kini melampaui risiko terhadap lapangan kerja.

Pertimbangan Kebijakan Moneter

Beralih ke kebijakan moneter, saya turut memberikan suara bersama anggota FOMC lainnya bulan lalu untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil. Saya mendukung sikap ini, karena dua faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi sepanjang tahun terakhir—tarif dan konflik di Timur Tengah—secara teori seharusnya hanya menghasilkan kenaikan inflasi yang bersifat sementara. Pada titik ini, saya memandang bijak untuk memberi sedikit lebih banyak waktu guna mengamati bagaimana inflasi akan berkembang ke depan. Meski begitu, ke depannya, saya meyakini risiko tetap condong kuat ke arah inflasi yang lebih tinggi, setidaknya karena dua alasan.

Pertama, pembangunan infrastruktur AI belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Hingga saat ini, perusahaan-perusahaan telah mengumumkan rencana pusat data senilai lebih dari US$1,5 triliun, yang baru sebagian kecil di antaranya terealisasi. Fakta ini mengindikasikan masih besarnya permintaan investasi yang akan datang, hanya dari sektor pusat data saja. Selain itu, rencana belanja modal terkait AI lainnya, seperti robotika, berpotensi berkembang cukup signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Kedua, guncangan pasokan besar belakangan ini—tarif dan konflik Timur Tengah—berisiko memicu inflasi yang tetap tinggi secara terus-menerus. Dalam kondisi normal, para ekonom akan memperkirakan guncangan semacam ini hanya berdampak satu kali (one-time). Namun perlu diingat, guncangan-guncangan ini terjadi ketika inflasi sudah berada di atas target kami selama lima tahun. Keputusan penetapan harga dan upah oleh perusahaan mungkin lebih bergantung pada bagaimana inflasi telah berjalan selama ini, ketimbang pada sumber penyebabnya—yang menyiratkan risiko bahwa inflasi tinggi yang telah kita saksikan justru mendorong inflasi ke depan semakin tinggi. Meski demikian, saya cukup terhibur karena ekspektasi inflasi jangka menengah dan jangka panjang tampaknya sebagian besar masih terjangkar (anchored). Mungkin karena ekspektasi yang terjangkar ini di kalangan pekerja dan perusahaan pada meja negosiasi, sebagian besar ukuran upah sejauh ini terus melambat dan tampak konsisten dengan target 2% pada pembacaan terbaru.

Namun saya ingin menegaskan satu hal. Ekspektasi inflasi yang terjangkar hanya menenangkan saya sejauh hal itu menunjukkan bahwa masyarakat percaya kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk membawa inflasi ke target—itu tidak memberi tahu kami apa saja tindakan kebijakan yang harus diambil. Tanda kepercayaan publik terhadap The Fed ini memang melegakan, tetapi bukan berarti kami bisa mengalihkan perhatian dari persoalan ini. Jika kami tidak segera melihat tanda-tanda disinflasi, saya siap untuk bertindak. Saya sepenuhnya berkomitmen untuk mencapai target inflasi kami, dan komitmen ini tak tergoyahkan.

Kesimpulan

Sebagai ringkasan, saya memandang perekonomian AS tetap tangguh (resilient). Namun, sepanjang tahun terakhir, saya mencermati data yang menunjukkan risiko terhadap mandat ganda kami telah bergeser lebih condong ke arah stabilitas harga dan menjauh dari lapangan kerja. Dalam menentukan jalur kebijakan yang tepat, saya akan terus memantau data yang masuk, prospek yang terus berkembang, dan keseimbangan risiko. Saya menantikan diskusi bersama rekan-rekan sesama anggota Komite pada rapat kami berikutnya, dua minggu lagi. Meski saya menolak untuk memprediksi arah kebijakan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa saya berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke sasaran 2% kami.

Terima kasih. Saya menantikan pertanyaan-pertanyaan Anda.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×