kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

AS Siapkan Tarif dan Harga Minimum Polysilicon, Tekan Dominasi China di Industri Chip


Rabu, 05 Agustus 2026 / 06:41 WIB
AS Siapkan Tarif dan Harga Minimum Polysilicon, Tekan Dominasi China di Industri Chip
ILUSTRASI. Amerika Serikat (AS) - China / AI (REUTERS/Florence Lo)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah menyiapkan kebijakan penetapan harga minimum (price floor) serta tarif impor untuk polysilicon dan produk turunannya.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi AS membendung dominasi China dalam rantai pasok industri semikonduktor dan panel surya.

Baca Juga: Rusia Klaim Serang Empat Kapal dan Fasilitas Drone Ukraina

Mengutip Reuters, Selasa (4/8/2026), keputusan itu diperkirakan diumumkan pada akhir bulan ini setelah Kementerian Perdagangan AS menyelesaikan investigasi keamanan nasional berdasarkan Section 232 Trade Expansion Act 1962.

Kebijakan tersebut bertujuan melindungi produsen polysilicon dalam negeri seperti Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie dari meningkatnya dominasi China dalam rantai pasok industri chip.

Polysilicon merupakan bahan baku ultra-murni yang digunakan untuk memproduksi wafer silikon, komponen utama dalam pembuatan semikonduktor maupun sel surya.

Craig Singleton, Senior Fellow Foundation for Defense of Democracies, mengatakan dominasi China di industri polysilicon dibangun melalui subsidi besar dan kapasitas produksi berlebih yang menekan harga global.

Menurutnya, kombinasi kebijakan harga minimum dan tarif impor dapat memberi ruang bagi produsen AS untuk bertahan, asalkan diterapkan secara hati-hati agar pasokan bahan baku tetap terjaga.

"China membangun dominasinya melalui subsidi dan kelebihan kapasitas yang membuat harga jatuh di bawah tingkat yang berkelanjutan. Harga minimum yang dipadukan dengan tarif dapat membantu produsen AS bertahan, tetapi kebijakan tersebut harus dikalibrasi secara tepat," ujarnya.

Seorang pejabat Gedung Putih menolak memberikan komentar sebelum keputusan resmi diumumkan Presiden Trump.

Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington mendesak AS menghentikan penggunaan tarif berdasarkan Section 232 dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang setara.

Baca Juga: Gaji Guru Singapura Naik 9%, Bandingkan dengan Gaji Guru PNS & PPPK Indonesia

Saham produsen panel surya menguat

Laporan Reuters mengenai rencana kebijakan tersebut langsung mendorong penguatan saham sejumlah produsen panel surya di bursa AS.

Saham Corning ditutup naik 9,4%, sementara First Solar menguat 4,7%.

Adapun saham T1 Energy melonjak hampir 10%, Canadian Solar naik 5,6%, dan Toyo juga mencatat kenaikan.

Rhone Resch, Chief Strategy Officer Toyo, mengatakan industri semikonduktor ternyata sangat bergantung pada keberadaan industri panel surya karena tingginya permintaan polysilicon dari sektor energi membantu menjaga keberlanjutan produksi bahan baku tersebut.

Menurut Semiconductor Industry Association, kebutuhan industri chip hanya menyumbang sekitar 2,4% dari total permintaan polysilicon global, sehingga skala industri panel surya menjadi penopang utama investasi di sektor tersebut.

Baca Juga: Qatar Sebut Negosiasi AS-Iran Maju, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok

Berpotensi menaikkan biaya industri

Di sisi lain, sejumlah pelaku industri mengingatkan bahwa tarif baru berisiko meningkatkan biaya produksi panel surya, semikonduktor, kendaraan listrik hingga elektronik konsumen.

Kelompok industri pengembang energi surya maupun pembeli chip telah menyampaikan kekhawatiran kepada pemerintah AS bahwa pembatasan impor dapat membuat proyek pembangkit listrik tenaga surya menjadi lebih mahal.

Chief Executive Officer Heliene Martin Pochtaruk menilai, industri panel surya berpotensi menjadi "korban samping" dari kebijakan perdagangan yang sebenarnya lebih berfokus pada industri semikonduktor.

Meski demikian, pemerintah AS tetap melanjutkan berbagai investigasi perdagangan terhadap sejumlah sektor strategis lainnya, termasuk semikonduktor, mineral kritis, farmasi, turbin angin, drone, dan robot industri sebagai bagian dari strategi memperkuat manufaktur domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap China.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×