kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.039.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.783   -40,00   -0,24%
  • IDX 8.235   -86,97   -1,04%
  • KOMPAS100 1.158   -11,60   -0,99%
  • LQ45 838   -5,18   -0,61%
  • ISSI 293   -4,14   -1,40%
  • IDX30 443   -2,67   -0,60%
  • IDXHIDIV20 534   -1,42   -0,26%
  • IDX80 129   -1,09   -0,84%
  • IDXV30 144   -1,15   -0,79%
  • IDXQ30 143   -0,54   -0,37%

Krisis Logam Tanah Jarang Tekan Sektor Dirgantara dan Chip AS


Kamis, 26 Februari 2026 / 21:21 WIB
Krisis Logam Tanah Jarang Tekan Sektor Dirgantara dan Chip AS
ILUSTRASI. Pasokan logam tanah jarang kritis ke AS terhambat. Dampaknya serius pada industri dirgantara dan semikonduktor, mengancam teknologi vital. Temukan implikasi lengkapnya. (Wikipedia/USDA)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemasok bagi industri kedirgantaraan dan semikonduktor Amerika Serikat menghadapi tekanan serius akibat memburuknya pasokan logam tanah jarang (rare earth).

Kondisi ini terjadi hanya beberapa minggu sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping dalam sebuah pertemuan puncak di Beijing.

Krisis pasokan berfokus pada dua unsur langka, yakni yttrium dan scandium (bagian dari keluarga 17 logam tanah jarang) yang meskipun digunakan dalam jumlah kecil, memiliki peran vital dalam teknologi pertahanan, industri kedirgantaraan, dan semikonduktor. Kedua material ini hampir sepenuhnya diproduksi di China.

Meski Beijing telah melonggarkan kembali sebagian ekspor logam tanah jarang sejak pembatasan diberlakukan pada April lalu, data bea cukai China menunjukkan pengiriman yttrium dan scandium ke Amerika Serikat masih sangat terbatas, bahkan setelah tercapainya detente perdagangan pada Oktober.

Baca Juga: Para Menteri Keuangan G7 Bakal Bertemu di Washington, Bahas Logam Tanah Jarang

Isu akses terhadap mineral kritis diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan Trump dan Xi di Beijing pada Maret mendatang.

Yttrium: Komponen Kecil, Dampak Besar

Yttrium menjadi titik krusial dalam rantai pasok industri. Logam ini digunakan dalam pelapis pelindung yang mencegah mesin dan turbin meleleh pada suhu tinggi.

Tanpa pelapis berbasis yttrium yang diaplikasikan secara rutin, mesin tidak dapat beroperasi.

Sejak pertama kali dilaporkan mengalami kelangkaan pada November, harga yttrium melonjak sekitar 60% dan kini mencapai sekitar 69 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Sejumlah produsen pelapis mulai melakukan rasionalisasi penggunaan bahan baku tersebut.

Dua perusahaan di Amerika Utara bahkan terpaksa menghentikan sementara produksi akibat kekurangan yttrium. Salah satu di antaranya kini menolak pelanggan kecil dan luar negeri demi memprioritaskan klien utama, termasuk produsen mesin.

Perusahaan lain dalam rantai pasok pelapis juga dilaporkan telah menghentikan penjualan produk berbasis yttrium oksida karena kehabisan stok.

Meski belum mengganggu produksi mesin jet maupun chip, seorang pejabat pemerintah AS mengakui sejumlah produsen domestik kini menghadapi kekurangan logam tanah jarang dari China.

Data menunjukkan China hanya mengekspor 17 ton produk yttrium ke AS dalam delapan bulan setelah pembatasan diberlakukan, dibandingkan 333 ton pada periode delapan bulan sebelumnya.

Baca Juga: China Mulai Longgarkan Ekspor Logam Tanah Jarang, tapi Belum Sesuai Harapan Trump

Tekanan pada Industri Dirgantara

Pakar rantai pasok dirgantara Kevin Michaels menyebut kondisi ini sebagai sinyal penting bagi industri.

Ia menilai situasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana China memanfaatkan dominasinya dalam produksi logam tanah jarang.

Kondisi ini terjadi di tengah tekanan produksi global. Produsen mesin pesawat sudah kesulitan memenuhi permintaan suku cadang dari maskapai serta peningkatan produksi pesawat oleh raksasa seperti Boeing dan Airbus.

Scandium: Ancaman bagi Chip 5G

Selain yttrium, industri semikonduktor AS juga menghadapi kekurangan scandium.

Menurut Dylan Patel, CEO lembaga riset SemiAnalysis, kelangkaan ini berpotensi mengganggu produksi chip generasi baru, khususnya untuk teknologi 5G.

Dengan produksi global hanya puluhan ton per tahun, scandium memainkan peran penting dalam:

  • sel bahan bakar

  • paduan aluminium khusus untuk dirgantara

  • proses manufaktur dan pengemasan chip canggih

Produsen semikonduktor besar di AS menggunakan scandium dalam komponen yang terdapat di hampir setiap smartphone 5G dan stasiun pemancar.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan-perusahaan ini mengalami keterlambatan dalam memperoleh lisensi ekspor scandium dari China. Mereka bahkan telah meminta bantuan pemerintah AS.

Seorang pejabat AS menyebut bahwa meski sebagian pasokan diperoleh dari negara ketiga, China mewajibkan pengungkapan pengguna akhir dalam permohonan lisensi ekspor.

Baca Juga: Turki Bangun Tambang Raksasa Logam Tanah Jarang, Siap Saingi China

Hal ini memunculkan dugaan bahwa industri semikonduktor menjadi target strategis pembatasan tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan, saat ini Amerika Serikat tidak memiliki produksi scandium domestik maupun sumber alternatif operasional di luar China. Persediaan yang ada diperkirakan hanya cukup untuk hitungan bulan, bukan tahun.

Implikasi Geopolitik

Gedung Putih menegaskan komitmennya untuk memastikan akses terhadap mineral kritis bagi seluruh sektor industri AS, termasuk melalui negosiasi dengan China serta pengembangan rantai pasok alternatif.

Namun situasi ini menunjukkan bahwa dominasi China dalam logam tanah jarang tetap menjadi faktor penentu dalam stabilitas industri teknologi tinggi global.

Pertemuan Trump dan Xi mendatang berpotensi menjadi titik krusial dalam menentukan arah hubungan perdagangan dan keamanan rantai pasok mineral strategis dunia.

Selanjutnya: Danantara Perkuat Fondasi Garuda, Bidik Optimalisasi Kinerja pada 2026

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 27 Februari 2026, Bangun Reputasi




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×