Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menunjukkan perkembangan positif. Qatar menyatakan para mediator telah mencapai kemajuan dalam proses negosiasi, meski Teheran tetap membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa pembicaraan resmi dengan Washington sudah berlangsung.
Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global. Harga minyak dunia turun tajam pada Selasa (4/8/2026), seiring meningkatnya harapan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini diblokade dapat segera dibuka kembali.
Harga minyak mentah Brent sempat merosot lebih dari 2%, memperpanjang pelemahan tajam pada perdagangan sehari sebelumnya. Investor menilai peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.
Meski demikian, kondisi di Selat Hormuz masih jauh dari normal. Jalur pelayaran strategis tersebut dilaporkan masih nyaris tertutup sepenuhnya, bahkan sebuah kapal kembali dilaporkan diserang saat mencoba melintasi kawasan tersebut.
Baca Juga: Defisit Perdagangan AS Menyempit di Bulan Juni 2026
Iran Bantah Klaim Trump Soal Negosiasi
Presiden Donald Trump pada Senin (3/8/2026) mengatakan pembicaraan dengan Iran telah dimulai dan menyebut Teheran menghadapi "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan.
Namun, pemerintah Iran menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan Amerika Serikat. Menurut Teheran, komunikasi yang dilakukan saat ini hanya dengan Oman terkait isu Selat Hormuz dan tidak ada pertemuan besar yang dijadwalkan pekan ini.
"Pembicaraan itu sedang berlangsung saat ini," kata Trump kepada wartawan dalam acara di Oval Office pada Senin ketika ditanya mengenai negosiasi tersebut.
Trump menambahkan pembahasan dilakukan atas permintaan Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
"Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka (Iran) untuk menandatangani dokumen yang baik," ujar Trump.
Qatar: Kontak Diplomatik Capai Tahap Sangat Maju
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan proses diplomatik telah mencapai "tahap yang sangat maju."
Menurutnya, Qatar bersama Pakistan dan Oman terus berkoordinasi secara intensif untuk memfasilitasi negosiasi serta saling bertukar rancangan proposal antara Washington dan Teheran.
Seorang pejabat senior keamanan Pakistan juga mengungkapkan bahwa komunikasi di balik layar terus berlangsung.
"Banyak hal sedang terjadi di balik layar. Kami berbicara dengan kedua belah pihak. Tujuan kami saat ini adalah membuat kedua pihak setidaknya sepakat untuk mulai berbicara," ujarnya.
Pernyataan Trump muncul setelah akhir pekan lalu ia membatalkan rencana "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Keputusan tersebut memperpanjang pola kebijakan Trump yang beberapa kali mengancam aksi militer besar sebelum kemudian kembali membuka jalur diplomasi.
Selat Hormuz Masih Tertutup, Risiko Pelayaran Tinggi
Iran masih menghentikan sebagian besar lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan yang terkait dengan Iran.
Baca Juga: AS Siapkan Larangan Impor Komponen Pusat Data China, Demi Amankan Infrastruktur AI
Gangguan ini berdampak besar terhadap perdagangan energi global karena sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut.
Badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di dekat Selat Hormuz, di lepas pantai Oman.
Sumber maritim kepada Reuters menyebut kapal tersebut merupakan kapal curah kering (dry bulk carrier). Seluruh awak kapal terpaksa meninggalkan kapal dan satu pelaut dilaporkan masih hilang.
Iran Ingin Kendali Penuh Selat Hormuz
Iran sejak lama menuntut kendali lebih besar atas Selat Hormuz yang menurut Teheran seharusnya dikelola bersama Oman.
Pekan lalu Iran menolak usulan Oman yang menawarkan pengawasan bersama terhadap selat tersebut, termasuk mekanisme penarikan biaya sukarela dari kapal yang melintas.
Seorang sumber senior Iran mengatakan Teheran menginginkan kendali penuh terhadap kapal yang memasuki Selat Hormuz serta memiliki kemampuan memantau kapal yang keluar dan melakukan intervensi bila diperlukan.
Apabila tuntutan tersebut dipenuhi, keseimbangan kekuatan di kawasan akan berubah signifikan dan memperkuat posisi Iran. Kondisi itu juga dapat mempersulit pemerintahan Trump untuk mengklaim bahwa Operasi Epic Fury, yang diluncurkan bersama Israel pada Februari lalu, telah berhasil melemahkan Iran.
AS Kehabisan Rudal Presisi Jarak Jauh
Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai keberlanjutan operasi militer Amerika Serikat.
Menurut tiga sumber yang mengetahui data tersebut, Angkatan Darat AS telah menghabiskan sebagian besar persediaan rudal presisi jarak jauh selama konflik berlangsung. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS menghadapi konflik berikutnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat terjadi paling cepat pada Selasa atau Rabu.
"Kami sedang melakukan pembicaraan dengan pihak Iran, dan saya pikir ada peluang kami dapat mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka kembali selat tersebut serta bergerak menuju kondisi konflik yang lebih normal," kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
Baca Juga: Stok Rudal Jarak Jauh AS Menipis Usai Perang Iran, Kesiapan Militer Dipertanyakan
Houthi Perketat Tekanan terhadap Jalur Energi
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga masih memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Langkah tersebut semakin membatasi jalur ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Para pejabat negara-negara Teluk dan analis menilai Iran tengah mengandalkan strategi tekanan ekonomi dengan menjadikan jalur perdagangan, pelayaran, dan infrastruktur energi sebagai alat tawar untuk meningkatkan biaya konfrontasi bagi Washington.
"Keunggulan terbesar mereka adalah kemampuan untuk memberikan tekanan kepada negara-negara kawasan dan perekonomian global," ujar Michael Knights dari Washington Institute.
Sejak nota kesepahaman antara AS dan Iran runtuh pada awal Juli, Teheran secara terbuka menolak kembali berunding dengan Washington.
Sementara itu, hingga kini Presiden Trump juga belum berhasil mencapai tiga tujuan utama yang diumumkan pada awal konflik, yakni membongkar program nuklir Iran, membatasi kemampuan Teheran menyerang rival-rival regionalnya, serta menciptakan kondisi yang dapat mendorong rakyat Iran menggulingkan pemerintahan ulama yang berkuasa.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
