kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Pengangguran Selandia Baru Naik ke Level Tertinggi dalam Satu Dekade


Rabu, 05 Agustus 2026 / 06:56 WIB
Pengangguran Selandia Baru Naik ke Level Tertinggi dalam Satu Dekade
ILUSTRASI. Ilustrasi bendera simbol New Zealand Selandia Baru (Shutterstock/Shutterstock)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Tingkat pengangguran Selandia Baru naik ke level tertinggi dalam hampir satu dekade pada kuartal II-2026. Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melonggar sehingga berpotensi membatasi laju kenaikan suku bunga bank sentral di tengah inflasi yang masih tinggi.

Mengutip Reuters, Rabu (5/8/2026), data Statistics New Zealand menunjukkan tingkat pengangguran meningkat menjadi 5,6% pada kuartal II-2026, dari 5,4% pada kuartal sebelumnya.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir 2015 sekaligus melampaui perkiraan pasar sebesar 5,4%.

Baca Juga: AS Siapkan Tarif dan Harga Minimum Polysilicon, Tekan Dominasi China di Industri Chip

Kenaikan pengangguran terjadi karena lonjakan jumlah masyarakat yang mencari pekerjaan lebih besar dibandingkan pertumbuhan lapangan kerja.

Meski demikian, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) sebelumnya telah mengisyaratkan masih diperlukan kenaikan suku bunga untuk mengurangi stimulus ekonomi dan menekan inflasi. Pasar pun masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Namun, besarnya kapasitas tenaga kerja yang belum terserap dinilai membuat tekanan kenaikan upah tetap terbatas sehingga mengurangi risiko inflasi yang berasal dari dalam negeri.

Senior APAC Economist Capital Economics Abhijit Surya menilai, data ketenagakerjaan terbaru mendukung pendekatan bertahap RBNZ dalam menormalisasi kebijakan moneter.

"Survei angkatan kerja kuartal Juni memperkuat pendekatan bertahap RBNZ dalam menarik stimulus kebijakan. Karena itu, kami tetap memperkirakan bank sentral baru akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, meskipun pasar masih mengantisipasi kenaikan 25 basis poin pada September," ujarnya.

Baca Juga: Rusia Klaim Serang Empat Kapal dan Fasilitas Drone Ukraina

Pada Juli lalu, RBNZ menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 2,5% sebagai upaya meredam tekanan inflasi yang dipicu, antara lain, kenaikan harga minyak dunia.

Inflasi tahunan Selandia Baru tercatat mencapai 4,1% pada kuartal II-2026, tertinggi dalam dua setengah tahun terakhir dan berada di atas target bank sentral sebesar 1%-3%.

Pejabat RBNZ juga telah menegaskan bahwa suku bunga masih berada di bawah level netral yang diperkirakan berada pada kisaran 3,0%-3,25%, sehingga ruang pengetatan kebijakan moneter masih terbuka.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 90% bagi RBNZ untuk menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pada pertemuan 2 September, dengan suku bunga diproyeksikan mencapai puncak sekitar 3,5% pada pertengahan 2027.

Baca Juga: Qatar Sebut Negosiasi AS-Iran Maju, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok

Di pasar keuangan, dolar Selandia Baru (kiwi) melemah sekitar 0,2% menjadi US$ 0,5879 setelah rilis data tersebut, sementara tingkat swap obligasi tenor dua tahun turun 6 basis poin menjadi 3,6351%.

Di sisi lain, pertumbuhan lapangan kerja justru lebih baik dari perkiraan. Jumlah pekerja meningkat 0,5% pada kuartal II, tetapi kenaikan tersebut diimbangi oleh lonjakan tingkat partisipasi angkatan kerja menjadi 70,7%, tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Data juga menunjukkan tingkat underutilisation yang mengukur jumlah penganggur dan pekerja yang ingin menambah jam kerja naik menjadi 13,8% dari 12,9% pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, pertumbuhan upah tahunan tetap tertahan di level 2,0%, sedangkan di sektor swasta hanya naik tipis menjadi 2,1%. Kedua angka tersebut masih berada jauh di bawah laju inflasi, menandakan tekanan upah belum menjadi sumber utama kenaikan harga di Selandia Baru.




TERBARU

[X]
×