Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan Januari 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027.
Investasi teknologi, terutama belanja modal untuk kecerdasan buatan (AI), kondisi keuangan yang mendukung, serta kebijakan moneter dan fiskal menjadi sejumlah faktor yang menopang prospek tersebut.
Sayangnya, situasi berubah setelah konflik di Timur Tengah meningkat pada akhir Februari 2026.
Gangguan terhadap jalur perdagangan dan energi, terutama setelah Selat Hormuz ditutup, memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian dunia.
Dalam laporan April 2026, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026. IMF juga memperkirakan inflasi global sedikit meningkat dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Dampak kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik disebut lebih terasa di negara berkembang dan negara dengan perekonomian yang sangat bergantung pada energi, perdagangan, atau kondisi eksternal.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Ekonomi Paling Kompetitif 2026, Indonesia Masuk 50 Besar
10 Negara dengan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Paling Lemah
Berikut 10 negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi paling negatif pada 2026 berdasarkan data IMF yang dirangkum Insider Monkey.
10. Puerto Rico
Puerto Rico memiliki rata-rata pertumbuhan riil GDP selama lima tahun sebesar 1,16%. Namun, pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut diproyeksikan mencapai -0,1% pada 2026.
Perekonomian Puerto Rico terintegrasi erat dengan Amerika Serikat. Sekitar 76% ekspor barangnya ditujukan ke AS. Sektor farmasi, kimia, keuangan, jasa, dan pariwisata menjadi penopang penting ekonominya.
Pertumbuhan ekonomi Puerto Rico sebelumnya mencapai 3,2% pada 2024, tetapi kemudian turun menjadi -0,8% pada 2025.
9. Liechtenstein
Liechtenstein mencatat rata-rata pertumbuhan riil GDP lima tahun sebesar -0,42%. Untuk 2026, pertumbuhan ekonominya diproyeksikan mencapai -0,4%.
IMF memperkirakan GDP per kapita Liechtenstein mencapai sekitar US$226.810 pada 2026.
Perekonomian Liechtenstein banyak bergantung pada ekspor produk manufaktur khusus, termasuk instrumen presisi, mesin, dan peralatan teknik. Sektor pariwisata serta jasa perbankan dan keuangan juga berperan penting.
Meski demikian, ketidakpastian geopolitik dapat menekan sektor ekspor. Liechtenstein juga menghadapi keterbatasan kapasitas tenaga kerja yang menjadi salah satu hambatan pertumbuhan.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Produksi Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Peringkat Kelima
8. Bahrain
Bahrain diproyeksikan mencatat pertumbuhan riil GDP -0,5% pada 2026. Angka tersebut cukup jauh di bawah rata-rata pertumbuhan lima tahun yang masih berada di level 3,12%.
Perekonomian Bahrain masih sangat bergantung pada sektor minyak dan gas. Sekitar 85% pendapatan pemerintah berasal dari ekspor minyak dan gas, meskipun negara tersebut juga terus mengembangkan sektor jasa.
Sebelum konflik meningkat, Bahrain sudah menghadapi tantangan berupa produksi minyak yang relatif rendah dan peningkatan utang publik.
7. Kuwait
Kuwait juga diproyeksikan mengalami kontraksi ekonomi sebesar -0,6% pada 2026. Rata-rata pertumbuhan riil GDP selama lima tahun tercatat 1,32%.
Kuwait merupakan salah satu negara dengan pendapatan per kapita tinggi, tetapi perekonomiannya masih sangat bergantung pada minyak dan hidrokarbon.
Dalam proyeksi IMF, pertumbuhan riil GDP Kuwait disebut turun dari 6,8% pada 2022 menjadi proyeksi -0,6% pada 2026.
Baca Juga: Daftar Negara Konsumen Batubara Terbesar di Dunia, Indonesia Masuk 5 Besar
6. Jamaika
Jamaika adalah negara berikutya dengan proyeksi pertumbuhan riil GDP sebesar -1,2% pada 2026. Rata-rata pertumbuhan lima tahunnya tercatat 1,46%.
Perekonomian Jamaika banyak ditopang sektor jasa, terutama pariwisata, transportasi, dan jasa keuangan.
Negara tersebut sebelumnya sempat mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% pada 2022. Namun, pertumbuhan kemudian melemah menjadi -0,1% pada 2025.
Salah satu tekanan besar berasal dari dampak Badai Melissa yang menghantam Jamaika pada akhir Oktober 2025. Bencana tersebut merusak sejumlah sektor produktif dan diperkirakan menyebabkan kontraksi antara -1,0% hingga -3,0% pada tahun fiskal 2025-2026.
5. Haiti
Haiti memiliki rata-rata pertumbuhan riil GDP lima tahun sebesar -2,44%. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonominya kembali negatif sebesar -1,7% pada 2026.
Haiti merupakan salah satu negara termiskin di belahan Barat. Perekonomiannya didominasi aktivitas informal dan berpendapatan rendah.
Negara tersebut menghadapi berbagai persoalan yang saling berkaitan, mulai dari inflasi tinggi, ketidakstabilan politik, bencana alam, hingga gangguan keamanan.
Krisis politik dan kekerasan kelompok bersenjata dapat menghambat perdagangan serta distribusi barang. Haiti juga rentan terhadap gempa bumi dan badai yang berulang.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Utang Pemerintah Terbesar 2026: AS Nomor 1, Indonesia Ke-19
4. Guinea Khatulistiwa
Guinea Khatulistiwa diproyeksikan mencatat pertumbuhan riil GDP sebesar -2,7% pada 2026. Rata-rata pertumbuhan selama lima tahun juga negatif, yakni -2,02%.
Negara di pesisir Afrika Tengah ini memiliki cadangan minyak yang besar. Namun, ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas membuat perekonomiannya rentan terhadap perubahan produksi dan harga energi.
Minyak dan gas menyumbang sekitar 80% hingga 90% ekspor serta pendapatan pemerintah Guinea Khatulistiwa.
Negara tersebut juga menghadapi persoalan struktural, termasuk penurunan produksi minyak dan semakin matangnya sejumlah ladang minyak.
3. Iran
Iran berada di posisi ketiga dengan proyeksi pertumbuhan riil GDP sebesar -6,1% pada 2026. Angka tersebut kontras dengan ratarata pertumbuhan lima tahun yang masih tercatat positif 1,16%.
Sektor jasa menyumbang sekitar setengah GDP, disusul minyak dan gas, manufaktur, konstruksi, serta pertanian.
Iran telah menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, gangguan akibat konflik, dan persoalan ekonomi domestik. Nilai mata uangnya juga mengalami depresiasi serta volatilitas yang tinggi.
IMF memperkirakan kontraksi ekonomi Iran sebesar 6,1% pada 2026.
Baca Juga: Daftar Negara ASEAN Berdasarkan Pendapatan versi Bank Dunia, Posisi Indonesia?
2. Irak
Irak menempati posisi kedua dengan proyeksi pertumbuhan riil GDP sebesar -6,8% pada 2026. Rata-rata pertumbuhan lima tahunnya hanya mencapai 0,3%.
Perekonomian Irak sangat bergantung pada sektor minyak. Materi sumber menyebut sekitar 90% ekspor negara tersebut berkaitan dengan minyak.
Ketergantungan tersebut membuat Irak rentan terhadap perubahan harga minyak dan gangguan produksi maupun distribusi energi.
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Irak. IMF dalam materi yang diberikan memperkirakan ekonomi negara tersebut mengalami kontraksi 6,8% pada 2026.
1. Qatar
Qatar menjadi negara dengan proyeksi kemerosotan ekonomi paling besar dalam daftar ini. IMF memprekirakan pertumbuhan riil GDP Qatar mencapai -8,6% pada 2026.
Rata-rata pertumbuhan riil GDP Qatar selama lima tahun tercatat 0,46%.
IMF mengaitkan proyeksi kontraksi tajam Qatar dengan konflik AS-Iran dan dampaknya terhadap pasar minyak serta energi global.
Qatar juga disebut terdampak konflik yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur energi dan minyak.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendasari proyeksi IMF bahwa pertumbuhan riil GDP Qatar akan mengalami kontraksi sebesar 8,6% pada 2026.
Baca Juga: Harta Susut US$ 65 Miliar, Miliarder Ini Terlempar dari Daftar 10 Orang Terkaya Dunia














