kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.789   55,00   0,31%
  • IDX 6.221   -34,23   -0,55%
  • KOMPAS100 825   -6,05   -0,73%
  • LQ45 625   0,55   0,09%
  • ISSI 212   -0,83   -0,39%
  • IDX30 355   0,75   0,21%
  • IDXHIDIV20 436   1,25   0,29%
  • IDX80 94   -0,15   -0,16%
  • IDXV30 116   -0,32   -0,28%
  • IDXQ30 114   0,59   0,52%

Perang AS-Iran Membebani Ekonomi G7, Namun Trump Lolos dari Kritik


Rabu, 17 Juni 2026 / 15:21 WIB
Perang AS-Iran Membebani Ekonomi G7, Namun Trump Lolos dari Kritik
ILUSTRASI. Pemimpin G7 sengaja tak bahas dampak perang AS-Iran ke ekonomi. (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan inflasi dan kenaikan harga minyak sekitar 30% akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai membebani pertumbuhan ekonomi global.

Meski demikian, para pemimpin negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) diperkirakan tidak akan secara terbuka menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas perlambatan ekonomi yang dipicu perang tersebut dalam pertemuan mereka di Prancis pada Rabu (17/6/2026).

Sejak awal, sejumlah pemimpin G7 telah mengkritik keputusan Trump yang tidak berkonsultasi dengan para sekutunya sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Mereka juga memperingatkan potensi dampak ekonomi yang luas dari konflik tersebut.

Namun, optimisme mulai muncul setelah Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan lalu mengumumkan telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Kesepakatan tersebut langsung mendorong sentimen positif di pasar global.

Harga Energi Melonjak dan Inflasi Kembali Menguat

Meski konflik mereda, dampaknya terhadap ekonomi global sudah mulai terasa. Harga energi melonjak tajam, tekanan inflasi kembali meningkat, dan muncul kekhawatiran mengenai potensi krisis pasokan pangan di negara-negara berkembang.

Situasi tersebut mendorong bank-bank sentral mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter. Dalam sepekan terakhir, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi tekanan inflasi yang lebih besar.

Baca Juga: Bank Sentral Swedia Tahan Suku Bunga di 1,75%, Isyaratkan Kenaikan di Tahun Ini

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengaku frustrasi terhadap dampak konflik yang menyebabkan tagihan energi masyarakat meningkat. "Saya sudah muak dengan dampak konflik ini terhadap tagihan energi."

Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni juga memperingatkan konsekuensi ekonomi dan sosial dari perang tersebut. Kenaikan harga-harga bahkan turut menekan tingkat kepuasan publik terhadap Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

G7 Dinilai Menghindari Pembahasan Isu Ekonomi Terbesar

Meski dampak perang menjadi perhatian utama dunia, para pemimpin G7 justru cenderung mengesampingkan perdebatan mengenai konsekuensi ekonomi konflik tersebut selama pertemuan pekan ini.

Langkah itu dinilai sebagai upaya menghindari benturan langsung dengan Donald Trump, mengingat mereka masih membutuhkan kerja sama Amerika Serikat dalam berbagai isu strategis seperti Ukraina, NATO, hingga perdagangan internasional.

Ekonom Kepala Institute of International Finance (IIF), Marcelo Estevao, menilai kebijakan Amerika Serikat justru telah merugikan aktivitas ekonomi global.

"Kebijakan Amerika Serikat telah merugikan aktivitas ekonomi dunia. Anda memiliki negara dengan ekonomi terbesar yang justru melemahkan apa yang seharusnya menjadi agenda kolaborasi G7," katanya.

Ia menambahkan bahwa para pemimpin G7 perlu memperkuat kembali relevansi kelompok tersebut di tengah meningkatnya peran negara-negara berkembang yang kini memiliki kontribusi lebih besar terhadap ekonomi global.

Prancis Hindari Konfrontasi dengan Amerika Serikat

Sebagai tuan rumah sekaligus ketua G7 tahun ini, Prancis memilih meredam potensi konflik internal dengan membatalkan rencana penerbitan komunike bersama yang bersifat luas.

Sebagai gantinya, pembahasan difokuskan pada isu-isu yang lebih spesifik seperti ketidakseimbangan ekonomi global, rantai pasok mineral kritis, serta transformasi bantuan pembangunan menjadi program berbasis investasi.

Risiko konfrontasi juga berkurang setelah pejabat Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan sementara tepat sebelum Donald Trump bertolak ke Prancis.

Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Segera Diumumkan, Perdamaian Permanen Masih Dinegosiasikan

IMF Lebih Optimistis, tetapi Risiko Masih Besar

Para ekonom menilai kesepakatan damai tersebut menjadi kabar baik bagi perekonomian global. Namun, mereka mengingatkan bahwa risiko tetap tinggi apabila kesepakatan gagal dan konflik kembali memanas.

Selain itu, normalisasi arus perdagangan diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan pasokan bahan bakar kapal (bunker fuel) diperkirakan baru dapat pulih sepenuhnya dalam waktu sekitar satu tahun.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menyampaikan pandangan yang lebih optimistis dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan pada Senin, ia menyebut ekonomi dunia sejauh ini masih bertahan dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan global meski berbagai kawasan mengalami dampak signifikan.

IMF dijadwalkan merilis pembaruan proyeksi ekonomi global pada 8 Juli mendatang. Indikasi awal menunjukkan lembaga tersebut kemungkinan akan menggunakan skenario yang mengasumsikan perang Iran berlangsung singkat, dengan pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan sebesar 3,1% pada 2026, turun dari 3,4% pada 2025.

Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi dunia dapat anjlok hingga hanya 2%, sementara inflasi melonjak menjadi 5,8%.

Amerika Serikat Optimistis Dampak Perang Dapat Diredam

Pejabat Amerika Serikat menyebut harga minyak saat ini telah turun dari puncaknya dan posisi negara tersebut sebagai eksportir energi membuat dampak lonjakan harga relatif lebih terbatas.

Pemerintah AS juga meyakini bahwa setelah Selat Hormuz kembali dibuka, dampak ekonomi perang terhadap dunia dapat segera berkurang. Bahkan, Eropa yang selama ini bergantung pada impor energi diperkirakan masih mampu menghindari ancaman kekurangan pasokan bahan bakar.

Baca Juga: Binance Terancam Kehilangan Izin di Uni Eropa Mulai Juli 2026

Relevansi G7 Kembali Dipertanyakan

Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, keberadaan G7 kembali dipertanyakan. Kelompok yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Jepang, serta negara-negara ekonomi utama Eropa itu kini hanya menyumbang sekitar 44,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) global, turun dari 60,5% ketika pertama kali dibentuk.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai G7 masih memiliki peran penting ketika menghadapi krisis internasional.

Mantan Kepala Strategi IMF Martin Muehleisen mengatakan: "G7 selalu mampu, jika diperlukan, menghasilkan keputusan-keputusan nyata yang hingga kini masih memengaruhi hampir separuh perekonomian dunia."

Sementara itu, Direktur Eksekutif Jubilee USA Network, Eric LeCompte, menegaskan bahwa persoalan ekonomi tetap menjadi isu utama meskipun telah tercapai kesepakatan damai dan harga energi mulai turun.

"Perekonomian sedang berada dalam gejolak besar dan Anda tidak perlu berada di negara berkembang untuk melihatnya. Cukup pergi ke toko bahan makanan, dan Anda bisa langsung merasakannya," ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×