kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.887   62,00   0,35%
  • IDX 6.450   47,94   0,75%
  • KOMPAS100 831   1,62   0,20%
  • LQ45 631   -1,25   -0,20%
  • ISSI 227   4,63   2,08%
  • IDX30 352   -1,25   -0,35%
  • IDXHIDIV20 429   -1,46   -0,34%
  • IDX80 95   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,94   0,79%
  • IDXQ30 112   -0,32   -0,28%

Popularitas Trump Turun, Hanya 33% Warga AS yang Mendukung


Selasa, 18 Agustus 2026 / 09:10 WIB
Popularitas Trump Turun, Hanya 33% Warga AS yang Mendukung
ILUSTRASI. Donald Trump (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Popularitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun ke titik terendah selama masa kepresidenannya. Hanya 33% warga AS yang menyatakan mendukung kinerja Trump di Gedung Putih.

Temuan tersebut berdasarkan survei Reuters/Ipsos yang berakhir pada Senin (17/8). Sebanyak 64% responden menyatakan tidak mendukung kinerja Trump.

Angka dukungan terhadap Trump turun dari 35% dalam survei yang dilakukan pada awal Agustus. Angka 33% tersebut menjadi yang terendah selama masa kepresidenan Trump saat ini dan menyamai titik terendah pada periode pertamanya, yang tercatat pada Desember 2017.

Survei Reuters/Ipsos dilakukan secara daring dengan melibatkan 1.166 orang dewasa di seluruh Amerika Serikat.

Survei berlangsung selama empat hari dan memiliki margin of error sebesar 3 poin persentase untuk kedua arah.

Baca Juga: Perusahaan Kripto Trump Gandeng Platform AI yang Gunakan Teknologi China

Gagal Meredam Masalah di Iran

Turunnya popularitas Trump terjadi ketika mayoritas warga AS menilai keterlibatan Amerika Serikat dalam perang dengan Iran akan berlangsung lama.

Sebanyak 80% warga AS memperkirakan keterlibatan AS dalam konflik tersebut akan terus berlanjut dalam waktu yang panjang.

Pandangan tersebut juga terlihat di antara pendukung kedua partai. Sebanyak 87% warga AS yang mendukung Demokrat dan 71% pendukung Republik memperkirakan konflik akan berlangsung lama.

Hanya 16% responden yang menilai konflik kemungkinan berakhir dalam beberapa pekan.

Setelah kembali ke Gedung Putih pada 2025 dengan dukungan dari hampir separuh warga AS, popularitas Trump mendapat tekanan tahun ini setelah ia memerintahkan serangan terhadap Iran bersama sekutu AS, Israel.

Baca Juga: Iran Olok-olok Trump Usai Terungkap Ganti Pesawat Diam-diam di Turki

Konflik tersebut mengganggu seperlima perdagangan minyak dunia dan memicu kenaikan harga bensin yang membebani rumah tangga AS.

Kondisi itu juga menjadi persoalan bagi Partai Republik yang berupaya mempertahankan mayoritas di Kongres dalam pemilu paruh waktu November.

Trump sebelumnya berkampanye dengan janji menjaga inflasi tetap terkendali dan menghindari perang berkepanjangan. Ia sempat mengatakan konflik dengan Iran akan berlangsung selama beberapa pekan.

Sepanjang konflik, Trump bergantian mengeluarkan ancaman eskalasi dan menyatakan kesepakatan damai akan segera tercapai.

Namun, hanya satu dari lima warga AS yang menilai perang tersebut sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Di kalangan warga yang mendukung Republik, jumlahnya hanya sekitar setengah.

Baca Juga: Trump Pangkas Latihan Militer AS-Korsel, Kim Jong Un Jadi Salah Satu Alasannya

Dukungan Republik dalam Isu Imigrasi Menyempit

Republik mulai kehilangan dukungan di tengah bentrokan yang menewaskan orang dan meningkatnya jumlah tahanan, termasuk anak-anak.

Sebanyak 40% pemilih terdaftar menilai Partai Republik memiliki pendekatan yang lebih baik dalam kebijakan imigrasi. Sementara itu, 38% memilih Partai Demokrat.

Selisih dua poin persentase tersebut merupakan yang terendah bagi Partai Republik selama masa kepresidenan Trump. Pada Januari 2025, Republik masih unggul 26 poin persentase dalam isu tersebut.

Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di DPR AS, sementara Partai Demokrat semakin melihat peluang untuk merebut kendali Senat.

Dalam survei terbaru, 38% pemilih menilai Demokrat lebih mampu menangani perekonomian. Sementara itu, 35% memilih pendekatan Partai Republik.

Demokrat juga dinilai lebih mampu menangani persoalan biaya hidup.

Baca Juga: Ogah Minta Maaf, Donald Trump Minta Warga AS Terima Kenaikan Harga BBM




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×