Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik dengan Iran mulai dirasakan luas oleh masyarakat Amerika Serikat.
Sejumlah warga mengubah pola konsumsi energi mereka, mulai dari mengurangi perjalanan hingga beralih ke kendaraan listrik, seiring harga energi mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pat Ouedraogo, warga Boston, mengaku mengurangi perjalanan jarak jauh, sementara calon mahasiswa hukum Skyler Burke memilih menempuh jarak lebih jauh demi mencari pom bensin dengan harga lebih murah.
Di Houston, pialang mobil David Wright bahkan mengganti mobil balap boros bahan bakar dengan kendaraan listrik.
Fenomena ini mencerminkan tekanan yang dirasakan pengendara di seluruh AS, di tengah konflik yang telah berlangsung enam pekan dan memicu gangguan pasokan minyak global.
Baca Juga: Trump Klaim Banyak Kapal Tanker Menuju AS di Tengah Krisis Energi Global
Para analis energi menyebut perang ini sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terburuk dalam sejarah, terutama setelah fasilitas produksi utama terdampak dan jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz terganggu.
Harga BBM Tembus Level Tinggi
Data GasBuddy menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai US$4,16 per galon, sementara solar menyentuh US$5,67 per galon—level tertinggi menjelang musim liburan musim panas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Kenaikan ini menyebabkan tambahan pengeluaran bahan bakar mencapai US$10,4 miliar dalam periode 1 Maret hingga 10 April dibandingkan tahun lalu.
Bagi pengemudi truk di Houston, Eddie Esquivel, lonjakan harga solar hampir menggandakan biaya operasional mingguannya menjadi US$1.600–US$1.700, dari sebelumnya sekitar US$800–US$900.
“Dulu solar sekitar US$2 per galon, sekarang bisa mendekati US$6. Ini sangat memukul kami,” ujarnya.
Dampak Politik dan Tekanan pada Trump
Kenaikan harga energi juga berdampak signifikan secara politik. Sebagai konsumen bahan bakar terbesar di dunia, perubahan harga BBM di AS memiliki pengaruh besar terhadap opini publik.
Presiden Donald Trump menghadapi penurunan tingkat persetujuan publik menjelang pemilu paruh waktu November. Hal ini terjadi karena janji kampanye untuk menurunkan biaya energi bertolak belakang dengan lonjakan harga yang justru terjadi.
Sejumlah pemilih mulai menunjukkan ketidakpuasan. Salah satunya Kari DyLong, warga Denver, yang menyatakan tidak akan memilih kandidat dari Partai Republik dalam kondisi saat ini.
Harga Energi Diperkirakan Tetap Tinggi
Meski ada upaya diplomasi, termasuk rencana pembicaraan antara AS dan Iran di Pakistan untuk mencapai gencatan senjata permanen, para analis memperkirakan harga energi tidak akan segera kembali ke level sebelum perang.
Analis dari Rystad Energy, Wei Ren Gan, menyebut akan tetap ada “premi risiko geopolitik” di pasar energi, sehingga harga cenderung turun secara bertahap namun tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik.
Baca Juga: Korsel Dekati Kesepakatan Impor Minyak dari Kazakhstan di Tengah Krisis Timteng
Sekitar 2 juta barel per hari kapasitas kilang di Timur Tengah dilaporkan terdampak akibat konflik, semakin memperketat pasokan global.
Tanda Penurunan Permintaan
Lonjakan harga BBM juga mulai menekan permintaan. Data pemerintah AS menunjukkan konsumsi bensin menjelang Paskah hanya mencapai 8,6 juta barel per hari, turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, tekanan ekonomi mendorong peningkatan transaksi pinjaman gadai hingga 9% saat harga bensin melampaui US$4 per galon.
Bagi sebagian masyarakat, dampaknya terasa langsung pada gaya hidup. DyLong mengaku kini lebih sering beraktivitas di rumah karena sebagian besar pendapatannya terserap untuk biaya bahan bakar.
Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, tekanan terhadap konsumen dan pasar energi global diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.













