Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa sejumlah besar kapal tanker minyak kosong saat ini sedang menuju Amerika Serikat untuk mengangkut minyak dan gas ke berbagai negara.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan bahwa kapal-kapal tanker berkapasitas besar dari berbagai belahan dunia tengah bergerak ke AS untuk mengisi muatan energi.
"Sejumlah besar kapal tanker minyak yang benar-benar kosong, termasuk beberapa yang terbesar di dunia, saat ini sedang menuju Amerika Serikat untuk mengisi muatan dengan minyak dan gas terbaik serta paling ‘ringan’ di dunia," tulisnya.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Pernyataan ini muncul di tengah gangguan besar pada pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya penutupan sebagian Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute utama distribusi minyak dunia yang kini terganggu sejak perang antara AS-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari.
Baca Juga: Korsel Dekati Kesepakatan Impor Minyak dari Kazakhstan di Tengah Krisis Timteng
Trump sebelumnya juga menegaskan bahwa Iran tidak seharusnya mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, yang saat ini sebagian besar tertutup bagi pelayaran internasional. Situasi ini disebut sebagai salah satu gangguan terbesar dalam sejarah terhadap pasokan energi global.
Harga Minyak Melonjak
Sejak awal konflik, harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan. Minyak mentah Amerika Serikat kini diperdagangkan dengan premi dibandingkan acuan global Brent. Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak AS berada di level US$96,57 per barel, sementara Brent di kisaran US$95,20 per barel.
Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi yang semakin terbatas akibat konflik dan gangguan distribusi.
Potensi Lonjakan Permintaan Minyak AS
CEO Longbow Asset Management, Jake Dollarhide, menilai bahwa meskipun belum dapat dipastikan apakah kapal tanker kosong benar-benar menuju AS, penutupan Selat Hormuz berpotensi meningkatkan permintaan terhadap minyak Amerika.
Menurutnya, produksi minyak AS saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu, sehingga memiliki kapasitas untuk memenuhi peningkatan permintaan global.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran di Islamabad Gagal, Gencatan Senjata Terancam Batal
“Situasi di Selat Hormuz, bahkan dengan adanya pembicaraan damai, bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan. Hal ini jelas akan mendorong permintaan terhadap minyak AS,” ujarnya.
Fokus Investor pada Negosiasi Damai
Sementara itu, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada upaya diplomasi antara AS dan Iran. Pejabat tinggi dari kedua negara dilaporkan bertemu di Islamabad dengan perantara dari Pakistan untuk membahas kemungkinan mengakhiri konflik.
Manajer portofolio senior Dakota Wealth, Robert Pavlik, menyatakan bahwa investor global, termasuk pelaku pasar di Wall Street, lebih fokus pada hasil pembicaraan tersebut.
“Kami semua menunggu, bersama Wall Street, untuk melihat hasil dari diskusi ini,” katanya.













