Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang berakhir tanpa kesepakatan setelah perundingan panjang di Islamabad, Minggu (12/4). Kegagalan ini meningkatkan risiko runtuhnya gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
Perundingan selama 21 jam tersebut merupakan pertemuan langsung pertama antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade, sekaligus dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979. Namun, kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan mencapai kesepakatan untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung lebih dari enam minggu.
Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi Amerika menyatakan bahwa tidak tercapainya kesepakatan merupakan kabar buruk, terutama bagi Iran. Ia menegaskan bahwa Washington telah menetapkan “garis merah” yang tidak dapat dinegosiasikan.
Perbedaan Tajam: Nuklir dan Selat Hormuz
AS menuntut komitmen tegas dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun teknologi pendukungnya. Sementara itu, pihak Iran menilai tuntutan tersebut “berlebihan”.
Media Iran melaporkan bahwa meskipun ada kemajuan pada beberapa isu, perbedaan utama tetap pada program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global.
Iran juga dilaporkan menuntut kompensasi perang, kendali atas Selat Hormuz, serta hak untuk mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintas. Selain itu, Teheran menginginkan gencatan senjata yang lebih luas mencakup kawasan lain seperti Lebanon.
Suasana Negosiasi Penuh Ketegangan
Menurut sumber Pakistan, suasana perundingan berlangsung dinamis dengan perubahan sikap dari kedua pihak sepanjang diskusi yang berlangsung hingga larut malam.
Pemerintah Pakistan mengamankan ibu kota Islamabad dengan pengerahan ribuan personel militer dan paramiliter selama proses negosiasi berlangsung.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menegaskan pentingnya kedua pihak tetap mematuhi komitmen gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya selama dua pekan.
Posisi AS dan Pernyataan Trump
Presiden AS Donald Trump dilaporkan terus memantau jalannya negosiasi dan berkomunikasi intens dengan delegasi AS. Namun, Trump juga memberikan sinyal campuran dengan menyatakan bahwa kesepakatan bukanlah hal yang mutlak diperlukan.
“Kami sedang bernegosiasi, tetapi apakah ada kesepakatan atau tidak, itu tidak terlalu penting bagi saya, karena kami telah menang,” ujar Trump kepada wartawan.
Delegasi AS juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner. Sementara itu, tim Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Dampak pada Energi Global
Meski negosiasi gagal, sejumlah kapal tanker minyak mulai kembali melintasi Selat Hormuz selama periode gencatan senjata. Data pelayaran menunjukkan tiga supertanker berhasil keluar dari Teluk, menandai pergerakan pertama sejak konflik memanas.
Namun, ratusan kapal lainnya masih tertahan, menunggu kepastian keamanan jalur pelayaran. Ketidakpastian ini terus menekan pasar energi global dan berkontribusi pada lonjakan harga minyak.
AS menegaskan bahwa salah satu tujuan utamanya adalah memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta melemahkan program pengayaan nuklir Iran agar tidak mampu memproduksi senjata nuklir. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki ambisi tersebut.
Konflik Regional Masih Berlanjut
Di tengah upaya diplomasi, konflik di kawasan belum sepenuhnya mereda. Sekutu AS, Israel, masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, yang didukung Iran.
Teheran menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup seluruh kawasan, termasuk Lebanon, untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.
Dengan kegagalan negosiasi ini, prospek penyelesaian konflik masih belum jelas. Ketegangan yang terus berlanjut berpotensi memperburuk stabilitas geopolitik dan memperdalam krisis energi global.













