Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (12/6/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.
Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat mengerek harga energi global.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Mingguan Jumat (12/6), Pasar Cemas Suku Bunga AS
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik tipis US$ 1,21 atau 1,3% ke level US$ 89,17 per barel pada pukul 00.42 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,23 atau 1,4% menjadi US$ 86,48 per barel.
Meski menguat secara intraday, kedua kontrak masih mencatatkan penurunan mingguan yang cukup dalam. Brent tercatat melemah 4,2% sepanjang pekan ini, sedangkan WTI turun 4,4%.
Sentimen pasar berubah setelah Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran yang sebelumnya sempat diancam akan dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan perkembangan positif.
Baca Juga: Dolar Tertahan Jumat (12/6), Pasar Sambut Positif Peluang Damai AS-Iran
Namun demikian, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran belum menyetujui teks kesepakatan apa pun yang sedang dibahas.
Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, reaksi pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan berlangsung sangat cepat.
"Meski ini bisa saja menjadi harapan palsu seperti yang pernah terjadi sebelumnya, reaksi pasar kali ini berlangsung cepat dan tegas," ujarnya.
Sebelumnya, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintas dapat menjadi sasaran serangan. Jalur tersebut biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Penutupan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi.
Baca Juga: IPO SpaceX Pecahkan Rekor, Elon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama Dunia
Di sisi lain, militer AS menyatakan bahwa kapal-kapal komersial masih tetap melintas di perairan tersebut meskipun ketegangan masih berlangsung.
Menurut Sycamore, meskipun harga minyak sedang terkoreksi, prospek kenaikan belum sepenuhnya hilang.
"Selama harga masih mampu bertahan di atas area support rendah US$ 80 per barel, risiko pergerakan harga tetap cenderung ke arah atas," katanya.













