kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Iran Mengklaim Tak Ada Kemajuan Kesepakatan Damai Sementara dengan AS


Rabu, 12 Agustus 2026 / 20:46 WIB
Iran Mengklaim Tak Ada Kemajuan Kesepakatan Damai Sementara dengan AS
ILUSTRASI. Iran dan Amerika Serikat masih berselisih mengenai upaya untuk menyepakati pengakhiran permanen perang di kawasan Teluk. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran dan Amerika Serikat masih berselisih mengenai upaya untuk menyepakati pengakhiran permanen perang di kawasan Teluk. Seorang sumber senior Iran menyatakan tidak ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada bulan Juni serta menetapkan kerangka waktu pelaksanaannya.

Komentar tersebut menjadi pukulan tambahan bagi harapan akan penyelesaian cepat atas krisis ini, menyusul serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut pada hari Selasa yang mendorong kenaikan harga minyak.

Kesepakatan yang dicapai pada bulan Juni itu menyatakan adanya "penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini", namun dengan cepat gagal terlaksana.

Baca Juga: Iran-AS Masih Buntu, Selat Hormuz Terancam Kembali Picu Gejolak Harga Minyak

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan itu "berakhir" pada 7 Juli, sementara kementerian luar negeri Iran menyatakan kesepakatan itu "ditangguhkan" seminggu kemudian.

AS menuduh Iran gagal memenuhi ketentuan kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Teheran menyatakan Washington telah mengingkari komitmennya, termasuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan melepas aset-aset Iran yang dibekukan.

"Salah satu isu yang sedang dibahas melalui pihak penengah adalah kembalinya AS ke kesepakatan sementara dan penetapan kerangka waktu untuk melaksanakan komitmen-komitmen tersebut. Sama sekali tidak ada kemajuan terkait isu ini," ujar sumber Iran tersebut seperti dikutip Reuters, Rabu (12/8/2026).

Belum ada komentar langsung dari Washington.

Ribuan orang telah tewas dalam konflik ini, terutama di Iran dan Lebanon, sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran telah menyerang aset dan infrastruktur AS di berbagai negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. 

Kedua Belah Pihak Meningkatkan Retorika

Kesepakatan gencatan senjata sementara bulan Juni menetapkan periode 60 hari—yang dapat diperpanjang atas kesepakatan bersama—di mana Iran dan AS diharapkan mencapai kesepakatan akhir untuk membatasi program nuklir Teheran dan mencabut sanksi AS.

Sumber dari pihak Iran menepis laporan hari Rabu dari kantor berita Turki, Anadolu, yang mengutip sumber pemerintah Pakistan yang menyatakan bahwa mereka telah sepakat untuk memperpanjang periode 60 hari tersebut.

"Tidak ada pembicaraan mengenai perpanjangan karena, dari sudut pandang Iran, tidak ada periode yang pernah dimulai sehingga tidak ada yang perlu diperpanjang. Amerika Serikat melanggar kesepakatan sementara tersebut 48 jam setelah dicapai dan menarik diri darinya beberapa hari kemudian," ujar sumber tersebut kepada Reuters.

Baik Iran maupun Amerika Serikat telah meningkatkan retorika mereka dalam dua hari terakhir.

Pejabat tinggi keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan pada hari Selasa bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali AS menerima syarat-syarat Iran untuk mengakhiri perang.

Baca Juga: Trump Menyatakan Pesawatnya Lebih Berisiko Imbas Perubahan Penerbangan Rahasia

Pernyataan itu menyusul tuntutan baru dari Trump pada hari Senin agar Iran membayar kompensasi bagi korban tewas dalam berbagai perang, serangan, dan protes selama 50 tahun terakhir.

Sepanjang konflik berlangsung, Trump silih berganti melontarkan ancaman eskalasi dan klaim bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai.

Saat berbicara kepada wartawan usai kunjungan ke Ohio pada hari Selasa, Trump berkata: "Kondisi Iran baik-baik saja, benar-benar baik-baik saja."

"Kita berhadapan dengan negara yang telah menjadi pihak yang bertindak sewenang-wenang (bully) di Timur Tengah selama 50 tahun—atau tepatnya 51 tahun jika kita hitung—dan kini mereka bukan lagi pihak yang bertindak sewenang-wenang di Timur Tengah."

Serangan Kapal

Selat Hormuz, jalur perairan sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi pintu masuk ke Teluk, merupakan jalur bagi seperlima arus minyak dan gas alam cair (LNG) global sebelum perang pecah.

Harga minyak mentah berjangka Brent (acuan pasar) telah melonjak sejak awal perang pada bulan Februari, mencapai puncaknya di angka US$126 per barel—sekitar 75% di atas tingkat harga sebelum perang—di tengah perdagangan yang fluktuatif akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak Teluk dan sinyal yang berubah-ubah terkait perundingan damai.

Kekhawatiran tersebut diperparah oleh serangkaian serangan terpisah terhadap kapal-kapal pada hari Selasa. Di ujung selatan Laut Merah, empat awak kapal tewas dalam serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sebuah kapal kargo kecil di Selat Bab el-Mandeb pada hari Selasa; ini merupakan serangan mematikan pertama yang dilakukan kelompok tersebut terhadap kapal niaga sejak dimulainya perang.

Baca Juga: OPEC Pangkas Lagi Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak Dunia 2026

Sementara itu, militer AS menyatakan bahwa sebuah helikopter MH-60 milik Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi sebuah kapal kargo berbendera Panama.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebutkan bahwa kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang kali untuk berhenti melanggar blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sumber-sumber di sektor maritim mengatakan kepada Reuters bahwa kapal itu terkena serangan di lepas pantai Pakistan saat sedang berlayar menuju Teluk Oman.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 35 sen, atau 0,4%, menjadi US$89,26 per barel pada hari Rabu, melanjutkan tren kenaikan selama enam hari berturut-turut.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×