Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Amerika Serikat, Israel, dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan ini membuka jalan bagi perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran guna mencapai penyelesaian jangka panjang.
Pejabat AS dan Iran dijadwalkan menggelar pembicaraan pada Jumat untuk membahas kerangka perdamaian. Namun, perbedaan signifikan antara proposal kedua pihak menunjukkan bahwa negosiasi tidak akan mudah.
Perbedaan Tajam Proposal AS dan Iran
Iran mengajukan 10 poin proposal yang oleh Presiden AS Donald Trump disebut sebagai “dasar yang dapat dijalankan” untuk negosiasi. Meski demikian, proposal tersebut memiliki sedikit kesamaan dengan rencana 15 poin yang sebelumnya diajukan Washington.
Salah satu perbedaan utama adalah tuntutan Iran untuk tetap melanjutkan pengayaan uranium, yang sebelumnya ditolak oleh AS. Selain itu, proposal Iran tidak menyentuh isu kemampuan rudal balistik, yang menjadi perhatian utama AS dan Israel.
Sementara itu, menurut sumber Israel, proposal AS mencakup penghentian pengayaan uranium, pengurangan program rudal balistik, penghentian dukungan terhadap sekutu regional, serta penghapusan stok uranium yang diperkaya tinggi.
Baca Juga: AS Klaim Menang Telak atas Iran, Program Rudal Disebut Lumpuh
Peran Pakistan dalam Mediasi
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan kesepakatan gencatan senjata melalui platform X. Ia menyatakan kedua pihak sepakat menghentikan konflik secara langsung di semua wilayah, termasuk Lebanon.
Namun, Sharif tidak merinci isi proposal Iran maupun AS, dan tidak menyebutkan adanya kesepakatan formal yang melibatkan Israel dalam pengumuman tersebut.
Seorang pejabat Pakistan menyebut Iran kemungkinan dapat memperoleh beberapa tuntutannya, seperti rekonstruksi, kompensasi, dan pelonggaran sanksi. Namun, kesepakatan terkait pengayaan uranium dinilai sulit dicapai.
Posisi Iran: Kendali Hormuz dan Pencabutan Sanksi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Teheran bersedia menghentikan “operasi defensif” jika serangan terhadap Iran dihentikan.
Ia juga menyebut jalur pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka secara terbatas selama dua pekan dengan koordinasi militer Iran.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa AS pada prinsipnya telah menyetujui sejumlah poin penting, termasuk:
-
Komitmen non-agresi
-
Pengakuan kendali Iran atas Selat Hormuz
-
Penerimaan pengayaan uranium
-
Pencabutan sanksi utama dan sekunder
-
Penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
-
Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan
-
Penghentian konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon
Sebelum kesepakatan ini, Iran bahkan sempat mempertimbangkan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sikap AS: Tekanan dan Syarat Pembukaan Hormuz
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS akan menghentikan serangan selama dua pekan dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz secara penuh, aman, dan tanpa ancaman.
Ia juga menyebut bahwa kedua pihak telah mencapai kemajuan signifikan menuju kesepakatan damai jangka panjang di Timur Tengah, meskipun masih terdapat sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan.
Baca Juga: Iran Pertimbangkan Pembukaan Terbatas Selat Hormuz Jelang Pembicaraan dengan AS
Posisi Israel: Setuju Gencatan Senjata, Tapi Tetap Siaga
Israel menyatakan menyetujui gencatan senjata dengan Iran, namun menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup penghentian operasi militer di Lebanon.
Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa AS telah mengoordinasikan gencatan senjata sementara ini sebelumnya. Namun, Iran disebut hanya menyetujui pembukaan Selat Hormuz tanpa komitmen untuk mengakhiri perang secara permanen atau memenuhi tuntutan lain seperti kompensasi dan pencabutan sanksi.
Pemerintahan Trump juga dilaporkan akan tetap menekan Iran dalam perundingan mendatang, termasuk menuntut penghentian pengayaan uranium, penghapusan program rudal balistik, dan penanganan isu nuklir secara menyeluruh.
Meski gencatan senjata memberikan ruang bagi diplomasi, perbedaan mendasar antara posisi AS dan Iran menunjukkan jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang masih penuh tantangan.
Keberhasilan perundingan dalam dua pekan ke depan akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan Timur Tengah serta dampaknya terhadap keamanan energi global.













