Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia jatuh tajam sekitar 11% pada Senin (23/3/2026) setelah muncul sinyal kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Penurunan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang masih tidak stabil.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya menunda rencana serangan militer terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari, sembari membuka peluang kesepakatan damai.
Ia menyebut telah ada “titik-titik kesepakatan penting” dalam pembicaraan yang berlangsung dalam sehari terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 4% usai Komentar Trump yang Redakan Kekhawatiran Soal Iran
Merespons perkembangan itu, harga minyak Brent turun US$ 12,25 atau 10,9% ke level US$ 99,94 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 10,10 atau 10,3% ke US$ 88,13 per barel.
Sepanjang sesi perdagangan, harga bahkan sempat anjlok hingga hampir 15% sebelum memangkas sebagian kerugian.
Namun, penurunan harga tertahan setelah Iran membantah adanya negosiasi dengan AS dan justru mengklaim melancarkan serangan baru ke Israel serta sejumlah target di kawasan.
Garda Revolusi Iran juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi Israel dan fasilitas yang memasok pangkalan militer AS di kawasan Teluk jika ancaman Washington berlanjut.
Konflik yang telah berlangsung sekitar empat minggu itu berdampak besar pada sektor energi global.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok di Awal Pekan (2/2/2026), Pasar Cermati Ketegangan AS-Iran
Sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk dilaporkan rusak, sementara jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, praktis terhenti.
Meski begitu, pada Senin dilaporkan dua kapal tanker yang menuju India masih berhasil melintasi Selat Hormuz dengan muatan gas minyak cair dari Uni Emirat Arab dan Kuwait. Secara umum, lalu lintas di jalur tersebut masih sangat terbatas.
Analis memperkirakan gangguan produksi minyak di Timur Tengah mencapai 7 hingga 10 juta barel per hari. Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis saat ini bahkan lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an.
Kondisi pasokan yang ketat mendorong pelonggaran sementara sanksi AS terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut.
Kilang-kilang di India disebut berencana kembali membeli minyak Iran, sementara pelaku industri di Asia lainnya mulai mempertimbangkan langkah serupa.
Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan kecil kemungkinan akan kembali melepas cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar.
Baca Juga: Harga Minyak Melemah Tipis, Efek Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz
Gangguan pasokan juga terjadi di Rusia, di mana pelabuhan Ust-Luga kembali beroperasi setelah sempat dihentikan akibat ancaman serangan drone. Namun, pelabuhan Primorsk masih ditutup setelah serangan udara, menambah tekanan pada pasokan global.
Dampak konflik turut merembet ke sektor lain. Kepercayaan konsumen di zona euro turun ke level terendah sejak akhir 2023, mencerminkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.
Industri penerbangan global juga terganggu parah akibat penutupan sejumlah bandara utama di Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, yang membuat puluhan ribu penumpang terlantar.
Sementara itu, bank sentral di berbagai negara mulai mencermati dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Investor Menimbang Ketegangan AS-Iran
Di AS, pejabat Federal Reserve menilai masih terlalu dini untuk mengukur dampaknya, namun tetap membuka peluang penurunan suku bunga guna menopang pasar tenaga kerja.












