Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat pada Rabu (3/6/2026), setelah Iran melancarkan serangan yang merusak fasilitas Bandara Internasional Kuwait dan menyebabkan puluhan korban luka.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat (AS) melakukan serangan di sekitar Selat Hormuz, sementara upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik masih menemui jalan buntu.
Baca Juga: Terungkap! Trump Pernah Sebut Netanyahu 'Gila' dalam Percakapan Telepon
Eskalasi terbaru ini kembali menguji gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya dan mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 2%.
Selat Hormuz, jalur penting yang sebelumnya menampung sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global, masih belum beroperasi normal lebih dari tiga bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari lalu.
Otoritas Kuwait melaporkan serangan rudal dan drone Iran menyebabkan kerusakan pada fasilitas bandara serta sejumlah misi diplomatik.
Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 60 orang lainnya.
Baca Juga: Trump Klaim Iran Sudah Sepakat Tak Kembangkan Senjata Nuklir
Meski sempat menghentikan operasional penerbangan, maskapai Kuwait Airways dan Jazeera Airways kemudian kembali melayani penerbangan setelah otoritas penerbangan sipil menerapkan langkah-langkah keamanan tambahan.
Sebelumnya, media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Iran menyerang markas Armada Kelima AS di Bahrain, sebuah pangkalan udara AS, dan sebuah kapal yang diidentifikasi sebagai Panaya.
Namun Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah pangkalan militernya terkena serangan dan menyatakan rudal balistik Iran gagal mencapai sasaran.
CENTCOM menyebut telah melancarkan serangan defensif baru di wilayah selatan Iran yang menyasar lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang diduga berupaya menebar ranjau. Militer AS juga melakukan serangan di Pulau Qeshm yang berada di dekat Selat Hormuz.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pasukan AS dan Israel siap menghadapi kemungkinan eskalasi militer yang lebih besar terhadap Iran apabila Presiden Donald Trump memutuskan untuk melanjutkan operasi militer secara penuh.
Baca Juga: Konflik Iran-AS Kembali Memanas, Bandara Kuwait Diserang dan Harga Minyak Naik
Gencatan Senjata Kembali Diuji
Sejak dimulainya operasi militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, Teheran berulang kali melancarkan serangan ke berbagai target di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Meskipun gencatan senjata telah diumumkan pada awal April, bentrokan sporadis masih terus terjadi.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS berupaya membuka kembali akses Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Pekan lalu, Iran dan AS sempat memberi sinyal kemajuan menuju kesepakatan awal untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun hingga kini kedua pihak belum mencapai kesepakatan final.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam Sepekan, Dipicu Konflik Iran
Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, menegaskan Iran tidak akan membiarkan AS mengambil keuntungan berlebihan dalam proses negosiasi maupun pengaturan gencatan senjata.
Ia memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi akan dibalas dengan serangan rudal dan drone.
Sementara itu, penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menilai serangan berulang terhadap Kuwait dan Bahrain membutuhkan respons bersama yang tegas dari negara-negara Teluk.
"Agresi ini tidak hanya menargetkan satu negara, tetapi seluruh kawasan," tulis Gargash melalui media sosial X.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak
Ketidakpastian Negosiasi Masih Tinggi
Sejak pertengahan Maret, Presiden Trump berulang kali menyatakan optimistis kesepakatan damai dapat segera tercapai.
Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk pembahasan isu-isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.
Teheran menetapkan sejumlah syarat untuk mencapai kesepakatan, antara lain penghentian konflik di Lebanon, akses terhadap pendapatan minyak yang dibekukan, pelonggaran sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, serta tetap memiliki pengaruh terhadap Selat Hormuz.
Di sisi lain, Trump menegaskan prioritas utama AS adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Iran sendiri terus menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai.
Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS melalui mediator saat ini dihentikan sementara hingga tuntutan Iran terkait Lebanon dipenuhi.
Dalam sebuah wawancara podcast yang dirilis Rabu, Trump mengklaim Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir dan menyebut Khamenei turut terlibat dalam proses negosiasi.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak dan Pangkalan Angkatan Laut di St Petersburg
Israel Terus Lakukan Serangan di Lebanon
Konflik yang berlangsung telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, serta memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global dan jalur pelayaran internasional.
Pada Rabu, sumber keamanan Lebanon menyebut serangan drone Israel menewaskan sedikitnya enam orang di wilayah selatan Lebanon dan menyasar sebuah kendaraan di dekat Beirut.
Serangan tersebut menjadi salah satu aksi militer terdekat ke ibu kota Lebanon sejak Trump meminta Israel menahan diri untuk tidak menyerang Beirut dalam kerangka gencatan senjata parsial yang dimediasi AS.
Baca Juga: Apparel Group Pertimbangkan IPO Unit India Awal 2027
Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat terlibat percakapan panas dengan Netanyahu terkait operasi militer Israel di Lebanon.
"Saya mengatakan kepada Bibi, kita harus menghentikan ini," ujar Trump, menggunakan nama panggilan Netanyahu.
Meski demikian, Netanyahu menyatakan dirinya dan Trump hanya memiliki perbedaan taktis dalam beberapa isu, namun tetap sejalan dalam kebijakan utama terkait Iran.













