Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak yang dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah. Kondisi ini meredupkan harapan pasar terhadap penyelesaian cepat konflik antara AS dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot turun 0,8% menjadi US$ 4.449,19 per ons troi pada pukul 09.22 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,9% menjadi US$ 4.478,40 per ons troi.
Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat pada Rabu setelah serangan rudal Iran dilaporkan merusak bandara Kuwait. Di saat yang sama, militer AS melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran juga belum menunjukkan kemajuan berarti.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak dan Pangkalan Angkatan Laut di St Petersburg
Analis Riset Senior FXTM, Lukman Otunuga, mengatakan harga emas saat ini berada di bawah tekanan akibat meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah.
"Emas berada di bawah tekanan dan menguji level dukungan US$ 4.450 akibat kembali pecahnya bentrokan di Timur Tengah. Memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai AS-Iran dalam waktu dekat kemungkinan akan membuat harga minyak tetap tinggi," ujar Otunuga.
Penguatan dolar AS turut menambah tekanan terhadap logam mulia. Indeks dolar naik 0,2%, sementara harga minyak memperpanjang kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut.
Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko inflasi sehingga memperbesar kemungkinan suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Meski emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga berada pada level tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Sebelum konflik Iran pecah, pasar memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini. Namun kini, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar memperhitungkan peluang sebesar 42% bahwa bank sentral AS justru akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, pada Selasa menyatakan bahwa bank sentral AS mungkin perlu segera menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi yang saat ini sudah tinggi terus meningkat.
Baca Juga: Apparel Group Pertimbangkan IPO Unit India Awal 2027
Pelaku pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls/NFP) Amerika Serikat untuk bulan Mei yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.
Otunuga menilai laporan ketenagakerjaan yang kuat berpotensi mempercepat pelemahan harga emas.
"Laporan tenaga kerja yang kuat dapat menambah tekanan terhadap harga emas, terutama jika semakin banyak pelaku pasar yang memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember," katanya.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,1% menjadi US$ 74,28 per ons troi. Harga platinum melemah 0,4% menjadi US$ 1.928,35 per ons troi, sedangkan palladium turun 1,2% menjadi US$ 1.353,50 per ons troi.












