kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Harga Minyak Dunia Naik, Ketidakpastian Konflik AS-Iran Kembali Angkat Sentimen Pasar


Selasa, 04 Agustus 2026 / 16:03 WIB
Harga Minyak Dunia Naik, Ketidakpastian Konflik AS-Iran Kembali Angkat Sentimen Pasar
ILUSTRASI. Harga minyak dunia kembali menguat setelah prospek penyelesaian diplomatik konflik antara AS dan Iran masih belum menemui kejelasan. (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada Selasa (4/8/2026) setelah prospek penyelesaian diplomatik konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih belum menemui kejelasan.

Di saat yang sama, gangguan terhadap arus pengiriman minyak melalui jalur pelayaran utama dunia masih terus berlangsung sehingga memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman terdekat naik US$1,04 atau 1,24% menjadi US$84,81 per barel pada pukul 08.00 GMT (15:00 WIB). Kenaikan ini terjadi setelah Brent anjlok sekitar 7% pada perdagangan sebelumnya hingga menyentuh level terendah dalam tiga pekan.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 30 sen atau 0,37% menjadi US$80,64 per barel, setelah sebelumnya turun lebih dari 5% ke level terendah dalam hampir satu pekan.

Sebelumnya, harga minyak sempat merosot setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu (2/8/2026) menyatakan menunda serangan baru terhadap Iran sambil menunggu kelanjutan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik kedua negara sekaligus menyelesaikan sengketa mengenai kendali atas Selat Hormuz.

Namun pada Senin (3/8/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah pernyataan Trump. Ia menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan AS serta tidak ada pertemuan yang dijadwalkan.

Baca Juga: IHSG Ungguli Bursa Saham Asia Tenggara, Rupiah Kembali Tertekan ke Atas Rp 18.000

Ahmad Assiri, Research Strategist Pepperstone, menilai kenaikan harga minyak mencerminkan kehati-hatian investor dalam merespons perkembangan geopolitik.

"Kenaikan harga yang terbatas setelahnya menunjukkan bahwa investor masih enggan sepenuhnya menghapus risiko eskalasi kembali. Pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita geopolitik," ujar Assiri.

Gangguan Ekspor Minyak dari Teluk Persia Masih Berlanjut

Perselisihan mengenai Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam pembicaraan antara AS dan Iran. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari melewati jalur pelayaran strategis tersebut.

Analis ANZ menyebut gangguan ekspor dari kawasan Teluk Persia masih berlangsung meskipun lalu lintas kapal mulai menunjukkan sedikit perbaikan.

"Ekspor dari kawasan Teluk masih berada di bawah tekanan, dengan lalu lintas melalui Selat Hormuz hanya sedikit membaik dari level yang sebelumnya sangat rendah. Gangguan ekspor masih terjadi karena serangan Iran terhadap kapal-kapal terus membatasi arus pengiriman," tulis analis ANZ.

Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz maupun Bab el-Mandeb pada awal pekan relatif tidak mengalami perubahan berarti.

Meski demikian, Selat Hormuz masih dinilai berbahaya bagi kapal niaga. Pada Selasa, badan pemantau pelayaran Inggris UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah insiden sekitar 20 mil laut atau 37 kilometer di timur laut Al Khasab, Oman, setelah sebuah kapal kargo mengirimkan sinyal darurat bahwa kapal tersebut terkena proyektil yang belum diketahui asalnya.

Baca Juga: Konsumen China Tinggalkan Tas Mewah, Skincare Premium Kini Jadi Primadona

Di Laut Merah, data pelayaran pada Senin menunjukkan enam kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi mengubah rute di Teluk Aden menuju Afrika bagian selatan. Sementara itu, dua kapal tanker bermuatan minyak Arab Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Goldman Sachs Proyeksikan Brent Bertahan di Kisaran US$80–US$90

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent akan tetap bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel hingga terdapat kepastian mengenai tercapainya kesepakatan baru antara AS dan Iran atau terjadi eskalasi konflik yang lebih besar.

Goldman Sachs juga menilai pasar minyak fisik semakin ketat. Berdasarkan indikator persediaan minyak global yang dipantau bank tersebut, stok minyak dunia turun sekitar 6,3 juta barel per hari dalam dua pekan terakhir.

Penurunan persediaan itu diperkirakan dipicu oleh berkurangnya pasokan dari kawasan Teluk Persia dan Laut Merah, menurunnya ekspor minyak Rusia, serta meningkatnya permintaan impor dari Asia, termasuk China.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×