kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.016   31,00   0,17%
  • IDX 5.926   -60,41   -1,01%
  • KOMPAS100 772   -9,34   -1,20%
  • LQ45 589   -6,21   -1,04%
  • ISSI 204   -1,99   -0,96%
  • IDX30 333   -3,21   -0,95%
  • IDXHIDIV20 412   -3,59   -0,86%
  • IDX80 88   -1,05   -1,18%
  • IDXV30 111   -1,29   -1,14%
  • IDXQ30 108   -0,88   -0,81%

Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2% Rabu (8/7) Pagi, Brent ke US$ 75,54


Rabu, 08 Juli 2026 / 09:03 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2% Rabu (8/7) Pagi, Brent ke US$ 75,54
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (8/7/2026), setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap Iran dan kembali memberlakukan sanksi penjualan minyak mentah negara tersebut.

Langkah itu memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara mulai runtuh sehingga berpotensi mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.

Baca Juga: Piala Dunia: 30 Juta Penonton Saksikan Kekalahan AS dari Belgia, Rekor Baru Tercipta

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 1,38 atau 1,9% menjadi US$ 75,54 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,37 atau 1,9% ke level US$ 71,81 per barel pada pukul 01.28 GMT.

Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya telah melonjak sekitar 3% pada perdagangan Selasa (7/7), setelah pemerintah AS mencabut lisensi umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah Iran menyusul serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan, serangan udara yang dilancarkan Washington merupakan respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah Sepekan Rabu (8/7) Pagi, Dipicu Ketegangan AS-Iran

Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Kepala Riset MST Marquee Saul Kavonic mengatakan, perkembangan terbaru ini kembali mengingatkan pasar bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rapuh.

"Situasi ini menjadi pengingat bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rentan. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan ekspektasi sebelumnya bahwa pasar akan dibanjiri pasokan minyak sehingga memicu posisi jual (short position) dalam jumlah besar," ujarnya.

Menurut Kavonic, apabila ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berada di bawah 50% dari tingkat sebelum perang, maka keterbatasan pasokan berpotensi menopang harga minyak di level yang lebih tinggi.

Setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada bulan lalu, harga minyak sempat turun kembali ke level sebelum perang.

Baca Juga: KTT NATO Diwarnai Kontrak Senjata Jumbo, Trump Kembali Kritik Sekutu

Saat itu, banyak pelaku pasar memasang posisi jual pada kontrak berjangka minyak dengan harapan harga akan terus melemah seiring ekspektasi meningkatnya pasokan dari Timur Tengah.

Namun, kondisi berubah setelah insiden terbaru di Selat Hormuz.

Iran memang belum mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal komersial tersebut.

Meski demikian, Qatar menuding Iran berada di balik serangan, termasuk terhadap kapal tanker gas alam cair (LNG) Qatar, Al Rekayyat, yang dilaporkan terkena serangan drone hingga memicu kebakaran di ruang mesin.

Selain itu, sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi yang diyakini merupakan supertanker Wedyan juga dilaporkan mengalami kerusakan di perairan dekat Oman. Hingga kini penyebab kerusakan tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Baca Juga: Bursa Australia Anjlok 1% Rabu (8/7), Saham Tambang dan Bank Jadi Pemberat

Serangan-serangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Sebelum perang pecah pada Februari lalu, jalur tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Iran juga disebut mulai mempertegas kontrolnya atas Selat Hormuz dengan mengarahkan kapal-kapal agar menggunakan jalur yang lebih dekat ke wilayah pantainya, bukan jalur yang berada di dekat Oman.

Sementara itu, AS menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut harus tetap terbuka bagi seluruh kapal seperti sebelum konflik terjadi.

Di sisi lain, pasokan minyak global juga mendapat dukungan dari penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS kembali menyusut pada pekan lalu.

Sebelumnya, analis yang disurvei Reuters memperkirakan stok minyak mentah turun sekitar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli.




TERBARU

[X]
×