Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga mengawali pekan dengan penguatan signifikan pada Senin (17/8/2026), didorong semakin ketatnya ketersediaan logam tersebut di pasar global.
Kondisi ini juga membuat selisih harga atau spread tembaga di London Metal Exchange (LME) semakin melebar.
Baca Juga: Harga Gandum Naik 4 Hari Beruntun Senin (17/8), Risiko Laut Hitam Jadi Sorotan
Mengutip Reuters, harga tembaga acuan tiga bulan di LME naik 1,45% menjadi US$ 14.365 per metrik ton pada pukul 03.00 GMT.
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melonjak 1,77% menjadi 109.580 yuan atau sekitar US$ 16.254,54 per ton.
Persediaan tembaga di gudang-gudang yang terdaftar di LME telah anjlok hampir setengah dalam tiga bulan terakhir.
Penurunan tersebut terjadi karena material tembaga ditarik ke Amerika Serikat (AS) menjelang potensi penerapan tarif terhadap impor tembaga olahan.
Kekhawatiran terhadap ketatnya persediaan semakin meningkat akibat gangguan pasokan, termasuk penghentian sementara untuk pemeliharaan di fasilitas peleburan besar Smelting Gresik di Indonesia.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Didorong Pelemahan Dolar AS dan Spekulasi Kenaikan Bunga Berkurang
Spread Tembaga Melebar
Keterbatasan persediaan turut mendorong spread harga tembaga di LME ke level terlebar sejak 2021.
Spread antara harga tunai dan kontrak tiga bulan LME melebar menjadi backwardation US$ 473,24 per ton.
Kondisi backwardation menunjukkan harga tembaga untuk pengiriman segera jauh lebih tinggi dibandingkan harga kontrak berjangka, yang mencerminkan ketatnya ketersediaan material fisik.
Kondisi tersebut juga mendorong trader yang memiliki posisi bearish untuk mengamankan pasokan tembaga sebelum hari penyelesaian kontrak bulanan LME pada Rabu (19/8).
"Para trader yang mengambil posisi short harus membeli kontrak terdekat untuk menutup atau menggulirkan posisi di tengah terbatasnya ketersediaan logam yang dapat dikirimkan," ujar Craig Lang, analis utama di perusahaan riset komoditas CRU.
Baca Juga: Yuan China Mendekati Level Tertinggi 3,5 Tahun Jelang Rilis Data Ekonomi
Permintaan China Melambat
Meski harga tembaga menguat, kenaikan tersebut tertahan oleh berkurangnya pembelian dari konsumen.
Premi tembaga Yangshan yang menjadi indikator permintaan impor tembaga di China, konsumen terbesar logam merah tersebut, turun menjadi US$ 90 per ton pada Jumat (14/8). Level tersebut merupakan yang terendah dalam sebulan.
Menurut Lang, penurunan premi terutama mencerminkan memburuknya keekonomian impor serta melemahnya permintaan fisik jangka pendek dari pembeli China.
Pembeli China kini cenderung menerapkan strategi pembelian sesuai kebutuhan atau hand-to-mouth di tengah harga tembaga yang semakin tinggi.
Di pasar logam dasar lainnya, harga aluminium LME naik 0,31%, seng menguat 0,61%, timbal naik 0,47%, nikel bertambah 0,62%, sedangkan timah naik tipis 0,14%.
Di SHFE, aluminium naik 0,54%, seng menguat 1,01%, timbal bertambah 0,32%, nikel naik 1,07%, dan timah menguat 1%.
Baca Juga: Ekonomi Thailand Tumbuh 1,9% di Kuartal II 2026, Lampaui Perkiraan













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
