Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah harga minyak dunia merosot menyusul jeda konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Penurunan harga energi meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya membebani prospek pertumbuhan ekonomi global.
Baca Juga: SoftBank Gandeng 21 Kreditur Baru Danai Investasi Jumbo di OpenAI
Mengutip Reuters, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,32% menjadi US$ 13.688,5 per metrik ton pada pukul 07.00 GMT.
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 0,31% menjadi 105.050 yuan atau sekitar US$ 15.523,64 per ton.
Sentimen positif datang setelah AS menghentikan sementara serangan udara ke Iran usai 13 malam berturut-turut melakukan pemboman. Di sisi lain, Teheran juga menyatakan akan menghentikan serangannya.
Meredanya ketegangan geopolitik membuat harga minyak Brent turun lebih dari 6% pada Senin, setelah sebelumnya sempat menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Harga energi yang tinggi biasanya meningkatkan risiko inflasi dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.
Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan logam industri seperti tembaga karena aktivitas ekonomi cenderung melambat.
Baca Juga: AstraZeneca Lampaui Ekspektasi Laba Kuartal II, Tetap Optimistis Tatap 2026
Pasar menanti keputusan The Fed
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (29/7).
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan terdapat 63,7% peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.
Di saat yang sama, harga emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding) ikut menguat, sedangkan indeks dolar AS bergerak melemah.
Pelemahan dolar AS membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, termasuk tembaga, menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga berpotensi meningkatkan permintaan.
Baca Juga: Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 18 Bulan Penjara, Hukuman Ditangguhkan
Stok tembaga terus menyusut
Harga tembaga juga ditopang oleh terus menurunnya persediaan di luar Amerika Serikat.
Sebelumnya, pasokan tembaga dalam jumlah besar mengalir ke AS untuk mengantisipasi potensi tarif impor terhadap tembaga olahan.
Di China, persediaan tembaga di gudang yang dipantau SHFE turun 12,9% dalam sepekan menjadi 69.610 ton, level terendah sejak Februari 2024.
Sementara itu, stok tembaga di gudang LME juga berada di level terendah sejak Maret.
Baca Juga: Pasar Asia Menguat Senin (27/7), Rupiah Melemah di Tengah Pergantian Pimpinan BI
Adapun pergerakan logam dasar lainnya di LME menunjukkan harga aluminium turun 0,03%, seng naik 0,6%, timbal menguat 0,11%, nikel melemah 0,31%, dan timah naik 1,16%.
Di SHFE, harga aluminium turun 0,11%, seng naik 0,46%, timbal melemah 0,79%, nikel naik tipis 0,09%, sedangkan timah mencatat kenaikan terbesar sebesar 2,17%.














