Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turun pada perdagangan Rabu (24/6/2026) setelah harga minyak jatuh ke level terendah dalam empat bulan terakhir.
Meski demikian, investor masih mempertimbangkan kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini.
Baca Juga: Saham SpaceX Ambles 30% dari Puncak, Short Seller Makin Agresif
Harga minyak Brent turun sekitar 3% setelah muncul indikasi semakin banyak kapal tanker yang akan meninggalkan Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
"Pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh harga minyak," kata Strategist Suku Bunga AS TD Securities, Molly Brooks dilansir Reuters.
Penurunan harga minyak turut menekan ekspektasi inflasi. Tingkat inflasi impas (breakeven inflation rate) obligasi lima tahun, yang menjadi indikator pasar terhadap rata-rata inflasi tahunan dalam lima tahun ke depan, turun menjadi 2,20% dari 2,74% pada Mei lalu.
Meski demikian, yield obligasi tenor pendek masih berada pada level tinggi setelah pejabat Federal Reserve pekan lalu mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut di tengah inflasi yang masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Banjir Penonton, FIFA Berpotensi Pecahkan Rekor Pendapatan
Pelaku pasar menilai penurunan harga minyak dapat membantu meredakan tekanan inflasi. Namun level harga yang masih relatif tinggi membuat The Fed tetap berada dalam posisi sulit untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka Fed Funds, pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 68% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.
Fokus investor kini tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis Kamis (25/6).
Indikator tersebut merupakan ukuran inflasi favorit The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Ekonom memperkirakan inflasi inti (core PCE) naik 0,3% secara bulanan pada Mei, sehingga tingkat inflasi tahunan berada di level 3,4%.
Baca Juga: JP Morgan Bikin Ramalan Baru, Harga Brent Diprediksi Turun hingga US$ 78 per Barel
Sementara inflasi utama (headline inflation) diperkirakan naik 0,5% secara bulanan dan mencapai 4,1% secara tahunan.
Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, turun 5,03 basis poin menjadi 4,15%.
Sementara itu, yield obligasi acuan tenor 10 tahun turun 7,13 basis poin menjadi 4,422%.
Selisih yield antara obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun menyempit menjadi 26,8 basis poin, menunjukkan kurva imbal hasil semakin mendatar.
Pada pertemuan Juni lalu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya. Namun Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, memberikan sinyal perubahan pendekatan komunikasi kebijakan dengan tidak menyertakan proyeksi suku bunga pribadinya dalam "dot plot" bank sentral.
Baca Juga: Trump: Iran Pastikan Tak Akan Kenakan Tarif bagi Kapal yang Melintas Selat Hormuz
Menurut Brooks, langkah lebih lanjut untuk mengurangi penggunaan dot plot atau bahkan menghapusnya dapat meningkatkan ketidakpastian pasar.
"Kami biasanya melihat premi risiko jangka panjang dan volatilitas meningkat ketika ketidakpastian kebijakan moneter tinggi," ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyambut baik rencana Warsh untuk mengurangi panduan suku bunga ke depan (forward guidance).
Namun ia menekankan bahwa pembuat kebijakan perlu tetap terbuka terhadap dampak konflik Iran maupun peningkatan produktivitas yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Manufaktur AS Mulai Lesu, PHK Tercepat Sejak Pandemi
Dari sisi pasokan surat utang, Departemen Keuangan AS pada Rabu menjual obligasi tenor lima tahun senilai US$ 70 miliar. Lelang tersebut merupakan bagian dari penerbitan surat utang jangka pendek dan menengah senilai total US$ 183 miliar sepanjang pekan ini.
Sehari sebelumnya, pemerintah AS mencatat permintaan yang kuat pada lelang obligasi tenor dua tahun senilai US$ 69 miliar.
Sementara pada Kamis (25/6), pemerintah akan menawarkan obligasi tenor tujuh tahun senilai US$ 44 miliar.














