kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Manufaktur AS Mulai Lesu, PHK Tercepat Sejak Pandemi


Rabu, 24 Juni 2026 / 19:00 WIB
Manufaktur AS Mulai Lesu, PHK Tercepat Sejak Pandemi
ILUSTRASI. ilustrasi bendera AS (Grace Hollars/USA TODAY via REUTERS)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Kinerja sektor manufaktur Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tensi geopolitik akibat konflik Iran, perusahaan-perusahaan manufaktur di Negeri Paman Sam ini tercatat memangkas tenaga kerja dengan laju tercepat sejak awal pandemi Covid-19.

Data US Flash Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan indeks ketenagakerjaan manufaktur turun dari 51,6 pada Mei menjadi 47 pada Juni. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi aktivitas.

Kepala Ekonom Bisnis S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan, penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2026 masih terbatas.

Menurutnya, meski output manufaktur masih tumbuh, peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh aksi antisipatif perusahaan terhadap potensi gangguan rantai pasok dan kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah.

Pemangkasan tenaga kerja pabrik saat ini berada pada level tertinggi sejak 2009 jika periode pandemi dikecualikan. “Hal ini mencerminkan kekhawatiran pelaku usaha terhadap keberlanjutan permintaan dan meningkatnya biaya bahan baku," ujar Williamson dalam laporan Reuters (24/6).

Ia menambahkan, sekitar 20% perusahaan yang disurvei juga mengaku kesulitan mendapatkan pekerja yang bersedia atau mampu bekerja di sektor manufaktur.

Baca Juga: Trump Serukan Penyelidikan Atas Penipuan Harga Bensin

Meski demikian, ada sedikit kabar positif. S&P Global mencatat tekanan biaya mulai mereda pada Juni seiring turunnya harga energi menjelang akhir periode survei.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menjanjikan kebangkitan industri manufaktur melalui berbagai insentif dan kebijakan perdagangan. Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump mengklaim telah menarik komitmen investasi hampir US$ 1 triliun ke sektor manufaktur.

Namun di luar sektor-sektor yang menikmati lonjakan investasi seperti pusat data kecerdasan buatan (AI), industri pertahanan, dan baja, banyak produsen masih menghadapi tekanan akibat tingginya biaya produksi serta perubahan kebijakan pemerintah yang kerap terjadi.

Data resmi menunjukkan jumlah pekerja manufaktur AS telah berkurang sekitar 77.000 orang sejak awal masa jabatan kedua Trump. Sementara itu, belanja swasta untuk pembangunan fasilitas manufaktur turun menjadi US$ 15,2 miliar pada April 2026, atau sekitar 16% lebih rendah dibandingkan Januari 2025.

Perkembangan ini juga memicu kritik dari kubu oposisi. Senator Partai Demokrat, Elizabeth Warren dan Mark Kelly, meminta penjelasan pemerintah terkait memburuknya defisit perdagangan barang manufaktur AS.

Keduanya menilai hilangnya lapangan kerja sektor manufaktur tidak lepas dari kebijakan tarif impor yang dinilai agresif dan sering berubah, sehingga menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha.

Dengan tekanan biaya yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang melemah, prospek pemulihan manufaktur AS ke depan diperkirakan masih menghadapi tantangan besar meski investasi baru terus mengalir ke sejumlah sektor strategis.

Baca Juga: Dolar AS Sentuh Puncak 13 Bulan Rabu (24/6), Ditopang Spekulasi Suku Bunga The Fed


Tag


TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×