Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat dan mencapai level tertinggi dalam 13 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama pada Rabu (24/6/2026).
Penguatan dolar didorong meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed serta meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah aksi jual saham teknologi global.
Baca Juga: KOSPI Korsel Melonjak 4% Rabu (24/6) Pagi, Saham Samsung dan SK Hynix Pimpin Rebound
Melansir Reuters, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama termasuk euro dan yen, naik ke level 101,44. Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak 13 Mei 2025.
Aksi jual saham teknologi dan semikonduktor yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memicu penurunan bursa saham global.
Investor memanfaatkan reli panjang yang telah berlangsung sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan, sehingga mendorong aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah.
Di saat yang sama, pelaku pasar semakin yakin bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Sejumlah pejabat bank sentral AS belakangan menyampaikan pandangan yang lebih hawkish seiring ketahanan ekonomi AS yang masih kuat.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli mencapai 37%, naik tajam dari 8,5% sepekan lalu. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi 70% dari sebelumnya 29,1%.
Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank Ray Attrill mengatakan, dolar AS masih menjadi aset lindung nilai utama ketika sentimen pasar memburuk.
"Dolar AS tetap menjadi safe haven pilihan investor. Momentum saat ini masih mendukung penguatan dolar, meski sebagian besar sentimen positif sudah mulai tercermin di pasar," ujarnya.
Baca Juga: Samsung Siapkan Buyback 90 Triliun Won, Usai Sepakati Bonus Saham Karyawan'
Euro dan Pound Sterling Tertekan
Penguatan dolar membuat mata uang utama lainnya tertekan. Euro diperdagangkan di level US$ 1,1375 atau mendekati titik terendah dalam setahun terakhir.
Sementara itu, pound sterling Inggris melemah ke US$ 1,3199 setelah anggota Komite Kebijakan Moneter Alan Taylor menyatakan kebijakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama masih menjadi respons yang tepat terhadap tekanan inflasi.
Dolar Australia relatif stabil di level US$ 0,6918 menjelang rilis data inflasi terbaru. Adapun dolar Selandia Baru turun tipis menjadi US$ 0,5665, level terendah dalam tujuh bulan.
Baca Juga: Prospek Pasokan Global Membaik, Harga Minyak Dunia Dekati Level Terendah Empat Bulan
Ketidakpastian AS-Iran Topang Permintaan Safe Haven
Permintaan terhadap dolar juga mendapat dukungan dari ketidakpastian implementasi kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan terkait isu program nuklir Iran dan pengelolaan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Kondisi tersebut menimbulkan keraguan mengenai keberlangsungan kesepakatan yang baru tercapai.
Yen Dekati Level Terlemah Sejak 1986
Di Asia, yen Jepang masih berada di bawah tekanan. Mata uang Negeri Sakura diperdagangkan di level 161,57 per dolar AS setelah sempat menyentuh 161,93 pada awal pekan ini.
Jika menembus level 161,96 per dolar AS, yen akan berada pada posisi terlemah sejak 1986.
Baca Juga: Emas Spot Sentuh Level Terendah Sejak 11 Juni Rabu (24/6), Dolar AS Jadi Penekan
Peringatan verbal dari otoritas Jepang sejauh ini belum mampu membendung pelemahan yen. Selisih suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang serta keraguan pasar terhadap potensi intervensi pemerintah masih menjadi faktor utama tekanan terhadap yen.
Mantan anggota Dewan Kebijakan Sayuri Shirai bahkan memperkirakan yen dapat melemah hingga 165 per dolar AS apabila The Fed benar-benar menaikkan suku bunga tahun ini.













