kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.743.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 18.193   143,00   0,79%
  • IDX 5.434   -160,46   -2,87%
  • KOMPAS100 717   -19,64   -2,67%
  • LQ45 542   -15,43   -2,77%
  • ISSI 188   -6,20   -3,19%
  • IDX30 307   -9,38   -2,97%
  • IDXHIDIV20 380   -11,94   -3,05%
  • IDX80 82   -2,17   -2,59%
  • IDXV30 105   -1,97   -1,85%
  • IDXQ30 99   -3,68   -3,60%

Dolar AS Sentuh Puncak Dua Bulan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga


Senin, 08 Juni 2026 / 11:28 WIB
Dolar AS Sentuh Puncak Dua Bulan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga
ILUSTRASI. Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Senin (8/6/2026), setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

Laporan tenaga kerja AS menunjukkan nonfarm payrolls bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar.

Baca Juga: Ini Daftar Berbagai Kesepakatan Jumbo Nvidia dengan Mega Korporasi Korea Selatan

Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa ekonomi AS masih cukup kuat untuk menopang kebijakan moneter yang lebih ketat.

Kepala Ekonom Pasar Capital Economics Jonas Goltermann mengatakan, data ketenagakerjaan terbaru menggambarkan pasar tenaga kerja AS yang tetap solid meskipun dunia tengah menghadapi tekanan kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik.

"Laporan payrolls menunjukkan pasar tenaga kerja AS menguat di tengah guncangan harga energi yang masih berlangsung. Kombinasi ini membuat peluang pengetatan kebijakan The Fed pada akhir tahun semakin besar," ujar Goltermann.

Capital Economics kini memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan menaikkan suku bunga masing-masing 25 basis poin sebanyak dua kali pada tahun ini.

Baca Juga: OCBC Luncurkan Layanan Perdagangan dan Penyimpanan Emas Fisik di Singapura

Mengacu pada CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 mencapai lebih dari 70%, meningkat tajam dibandingkan sekitar 45% sepekan sebelumnya.

Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global akibat krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menahan diri dari serangan lanjutan.

Di pasar valuta asing, euro melemah ke level US$ 1,1507, terendah dalam dua bulan terakhir. Poundsterling juga turun ke posisi US$ 1,33165, level terendah dalam tiga pekan.

Mata uang komoditas turut tertekan. Dolar Australia merosot ke US$ 0,7016, sedangkan dolar Selandia Baru turun ke US$ 0,5779, keduanya merupakan level terendah dalam dua bulan.

Baca Juga: Ledakan Iran Guncang Pasar Minyak: Harga Brent dan WTI Kompak Melonjak 3%

Yen Kembali Tertekan

Penguatan dolar AS turut menekan yen Jepang. Mata uang Negeri Sakura itu melemah ke level 160,34 yen per dolar AS, mendekati area yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang.

Posisi tersebut membuat yen kembali kehilangan seluruh penguatan yang sempat diperoleh setelah intervensi senilai 11,7 triliun yen atau sekitar US$ 73 miliar yang dilakukan Tokyo lebih dari sebulan lalu.

Sumber Reuters menyebut Bank of Japan (BOJ) diperkirakan masih berpeluang menaikkan suku bunga pada bulan ini, selama konflik di Timur Tengah tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar dan mengganggu stabilitas pasar keuangan.

Strategis OCBC Sim Moh Siong menilai, pasar saat ini masih menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan BOJ.

"Untuk mendorong penguatan yen lebih lanjut, pasar akan melihat apakah BOJ memberikan sinyal percepatan kenaikan suku bunga dibandingkan ekspektasi saat ini," katanya.

Baca Juga: Survei Ekonom Reuters: Prancis Diprediksi Tekuk Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Kripto Mulai Bangkit

Di pasar aset digital, bitcoin naik lebih dari 1% ke level US$ 63.093, setelah pekan lalu sempat menyentuh titik terendah sejak Oktober 2024.

Sementara itu, ether menguat lebih dari 3% ke posisi US$ 1.679. Sebelumnya, aset kripto terbesar kedua tersebut sempat menyentuh level terendah dalam 14 bulan terakhir.

Analis menilai minat investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sejumlah penawaran saham perdana (IPO) besar, termasuk SpaceX, masih menjadi faktor yang mengalihkan aliran dana dari pasar kripto sepanjang tahun ini.




TERBARU

[X]
×