Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Intel berencana menghimpun dana hingga US$15 miliar atau sekitar Rp267 triliun melalui penjualan saham.
Rencana ini disampaikan ketika harga saham Intel tengah melonjak berkat optimisme investor terhadap upaya transformasi bisnis perusahaan.
Ekspansi tersebut menjadi bagian dari ambisi Intel untuk menantang dominasi Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) di bisnis manufaktur chip kontrak atau foundry.
Menurut laporan Reuters, dana yang diperoleh akan membantu perusahaan membiayai kebutuhan ekspansi bisnis manufakturnya yang membutuhkan modal sangat besar.
Baca Juga: Microsoft Ungkap Negara yang Paling Gemar Gunakan AI, Indonesia Posisi 77
Berpotensi Jual Saham hingga US$20 Miliar
Bloomberg News melaporkan bahwa Intel berencana meningkatkan ukuran penawaran menjadi sekitar US$20 miliar atau Rp356 triliun. Harga penawaran juga disebut dapat berada di kisaran US$95 per saham atau lebih.
Angka tersebut sekitar 2,6% di bawah harga penutupan saham Intel pada Senin yang mencapai US$97,52.
Permintaan investor terhadap penawaran saham tersebut bahkan dikabarkan telah melampaui US$100 miliar.
Nilai transaksi juga berpotensi menembus US$20 miliar jika opsi tambahan bagi penjamin emisi digunakan sepenuhnya.
Baca Juga: Apple Kuasai 65% Pasar Smartphone Premium Dunia, Samsung Jauh di Belakang
Saham Intel Hampir Tiga Kali Lipat
Harga saham Intel memang turun lebih dari 4% pada perdagangan Senin. Namun, berdasarkan harga penutupan terakhir, saham perusahaan tersebut masih mencatat kenaikan hampir tiga kali lipat sepanjang 2026.
Kinerja tersebut bahkan mengungguli sejumlah pesaingnya seperti AMD dan Nvidia. Sementara itu, Philadelphia Semiconductor Index tercatat naik hampir 75% pada periode yang sama.
Sejumlah analis sebelumnya menilai kenaikan harga saham Intel meningkatkan peluang perusahaan melakukan aksi penggalangan modal untuk mendukung rencana ekspansinya.
Direktur investasi AJ Bell, Russ Mould, menilai langkah tersebut masuk akal mengingat besarnya kebutuhan modal Intel.
"Sebagai bisnis yang membutuhkan banyak modal, Intel perlu menghimpun dana, terutama setelah kenaikan harga saham lima kali lipat sejak Agustus tahun lalu," ujar Mould, dikutip Reuters.
Ia juga menyinggung keputusan Intel pada dekade 2010-an yang menghabiskan sekitar US$82 miliar untuk pembelian kembali saham.
Baca Juga: Microsoft Pecahkan Rekor, Nilai Pasar Melonjak Rp8.100 Triliun dalam Sehari
Permintaan Chip AI Jadi Pendorong Utama
Kebutuhan investasi Intel semakin besar seiring meningkatnya permintaan terhadap chip untuk kecerdasan buatan (AI).
Kondisi tersebut membuat Intel menaikkan proyeksi belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 dari sebelumnya US$18 miliar menjadi US$20 miliar atau setara Rp356 triliun.
Intel juga telah berkomitmen memulai produksi chip dalam volume besar menggunakan proses manufaktur 14A pada 2028.
Sebelumnya, Intel sempat memperingatkan bahwa teknologi tersebut dapat dihentikan apabila perusahaan tidak mendapatkan pelanggan eksternal dalam skala besar.
Selain ekspansi di Amerika Serikat, Intel juga memperkuat kapasitas produksinya di Eropa.
Pada Juli lalu, perusahaan mengumumkan investasi sebesar €5 miliar, atau sekitar Rp102,75 triliun, untuk meningkatkan dan memperluas fasilitas manufaktur chip di Irlandia.
Nilai investasi tersebut setara dengan lebih dari seperempat dari total belanja modal Intel yang direncanakan untuk 2026.
Dengan kebutuhan investasi yang sangat besar, aksi penjualan saham menjadi salah satu cara Intel memperoleh tambahan dana tanpa harus sepenuhnya bergantung pada utang.
Baca Juga: Belanja AI Membengkak, Kepercayaan Investor terhadap Tesla Diuji













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
