kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.926   26,00   0,15%
  • IDX 6.356   15,71   0,25%
  • KOMPAS100 841   1,23   0,15%
  • LQ45 635   -1,64   -0,26%
  • ISSI 218   0,18   0,08%
  • IDX30 358   -0,81   -0,23%
  • IDXHIDIV20 443   -0,87   -0,20%
  • IDX80 96   -0,13   -0,13%
  • IDXV30 119   0,42   0,36%
  • IDXQ30 115   -0,34   -0,30%

Belanja AI Membengkak, Kepercayaan Investor terhadap Tesla Diuji


Rabu, 22 Juli 2026 / 08:54 WIB
Belanja AI Membengkak, Kepercayaan Investor terhadap Tesla Diuji
ILUSTRASI. Mobil listrik Tesla (CFOTO/Sipa USA via Reuters Conne/Costfoto)


Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Tesla menghadapi ujian penting saat mengumumkan laporan keuangan kuartal II 2026 pada Rabu (23/7) waktu Amerika Serikat.

Kali ini, perhatian investor diprediksi akan mengarah pada seberapa besar hasil yang mulai ditunjukkan dari investasi besar Tesla di bidang kecerdasan buatan (AI).

Perlu dipahami, selama beberapa tahun terakhir, CEO Elon Musk mengubah arah bisnis Tesla dari produsen mobil listrik menjadi perusahaan yang mengembangkan physical AI.

Di antaranya termasuk robotaxi tanpa pengemudi, robot humanoid Optimus, hingga teknologi Full Self-Driving (FSD). Transformasi tersebut menjadi salah satu alasan utama valuasi Tesla tetap tinggi di pasar.

Sayangnya, investor kini mulai mempertanyakan kapan investasi tersebut benar-benar menghasilkan sumber pendapatan baru.

Baca Juga: FAA Dorong Pengembangan Taksi Udara hingga Pesawat Supersonik Generasi Baru

Belanja AI Diperkirakan Tembus Rp447,75 Triliun

Sepanjang 2026, Tesla diperkirakan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$25 miliar, atau setara Rp447,75 triliun dengan kurs Rp17.910 per dolar AS.

Reuters melaporkan, dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur AI, termasuk pusat data, memperluas kapasitas produksi, serta mempercepat pengembangan robotaxi dan robot humanoid Optimus.

Besarnya investasi itu diperkirakan telah melampaui kas yang dihasilkan Tesla dari bisnis utamanya, yakni penjualan mobil listrik dan produk energi.

Akibatnya, perusahaan diproyeksikan mencatat free cash flow negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Morgan Stanley menilai perubahan tersebut membuat fokus investor bergeser. Jika sebelumnya pasar lebih banyak mencermati pertumbuhan penjualan kendaraan, kini perhatian beralih pada efektivitas investasi AI Tesla.

"Ketika belanja modal meningkat lebih dari dua kali lipat dan arus kas bebas berubah menjadi negatif, investor semakin mencari bukti bahwa pengeluaran Tesla benar-benar memperkuat keunggulan perusahaan di bidang physical AI," tulis analis Morgan Stanley.

Baca Juga: Menlu ASEAN Bertemu, Suarakan Keprihatinan Atas Konflik di Timur Tengah

Margin Diperkirakan Turun, Arus Kas Berbalik Negatif

Selain belanja AI, investor juga akan mencermati profitabilitas Tesla.

Analis memperkirakan margin laba kotor otomotif Tesla, di luar kredit regulasi, turun menjadi 18,1% pada kuartal II 2026, dibandingkan 19,2% pada kuartal sebelumnya.

Di sisi lain, konsensus analis yang dihimpun LSEG memperkirakan Tesla akan membukukan free cash flow negatif sebesar US$3,3 miliar, atau sekitar Rp59,10 triliun.

Sementara itu, laba per saham (EPS) diproyeksikan naik menjadi US$0,50, dari US$0,40 pada periode yang sama tahun lalu.

Proyeksi Kinerja Tesla Kuartal II 2026

Indikator Estimasi
Belanja modal (Capex) US$25 miliar (Rp447,75 triliun)
Free cash flow -US$3,3 miliar (Rp59,10 triliun)
Laba per saham (EPS) US$0,50
Margin laba otomotif 18,1%
Proyeksi pengiriman kendaraan 2026 1,7 juta unit

Laporan keuangan Tesla kali ini diperkirakan menjadi salah satu momen penting bagi investor.

Pada kuartal II 2026, Tesla mencatat pengiriman kendaraan tertinggi untuk periode April-Juni, jauh melampaui perkiraan analis.

Sepanjang tahun ini, perusahaan diperkirakan mampu mengirimkan sekitar 1,7 juta kendaraan, meningkat sekitar 3,9% dibandingkan tahun lalu.

Meski demikian, analis Barclays menilai pemulihan bisnis otomotif belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran investor.

Bisnis mobil listrik tetap menjadi sumber kas utama yang digunakan Tesla untuk membiayai ekspansi AI. Keberhasilan strategi AI masih bergantung pada kemampuan bisnis otomotif.

Hasil yang diumumkan jelas akan menjadi gambaran apakah strategi AI yang digagas Elon Musk mulai menunjukkan prospek bisnis yang menjanjikan atau justru masih membutuhkan waktu lebih lama untuk memberikan imbal hasil.

Baca Juga: IPO Zhongji Innolight di Hong Kong Targetkan US$ 8 Miliar, Terbesar Kedua di Asia


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×