Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak jenis Brent melonjak hampir 4% dalam perdagangan yang berombak, karena para pedagang mengevaluasi janji Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk tidak pernah menyerah, sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia dapat "memusnahkan" Iran.
Rabu (23/9/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup melonjak US$ 3,83 atau 3,86% menjadi US$ 103,08 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup menguat US$ 1,64 atau 1,81% ke US$ 92,16 per barel.
Minyak diesel berjangka ultra-rendah sulfur turun sekitar 5% setelah Politico melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempersiapkan rencana larangan penggunaan bahan bakar diesel selama 90 hari, sebuah cerita yang kemudian dibantah oleh Gedung Putih.
Baca Juga: Indonesia & 5 Negara Tetangga Terancam Dilarang Ikut Miss Universe 2026, Ini Sebabnya
Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengatakan pada hari Rabu bahwa larangan ekspor solar tidak akan berhasil.
Para analis dan pengamat pasar telah memperingatkan bahwa langkah tersebut tidak akan banyak membantu meringankan tingginya harga energi dan dapat memperburuk pasokan global dan semakin mengganggu perekonomian.
Sementara sentimen yang menopang harga minyak adalah pidato Pezeshkian di Majelis Umum PBB di New York, yang mengatakan pada hari Rabu bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah kepada AS namun tetap percaya pada diplomasi.
Pada hari Selasa (22/9/2026), Trump menggunakan pidatonya di forum yang sama untuk menyampaikan ancamannya.
Teheran sedang meninjau tanggapan AS terhadap usulannya untuk mengakhiri permusuhan, meskipun masih banyak perbedaan, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut Washington terhadap Iran dibahas dalam pembicaraan tidak langsung pada hari Selasa, kata pejabat itu.
Baca Juga: Survei S&P Global: Ekonomi Inggris Melambat, Tekanan Inflasi Justru Meningkat
Sebelumnya pada hari Rabu, kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali jika persyaratan Iran tidak terpenuhi.
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS naik 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 18 September, menurut Badan Informasi Energi (EIA). Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan sebesar 641.000 barel. Stok bahan bakar turun.
MENINGKATNYA PERSEDIAAN TELUK, HARAPAN DIPLOMASI
Pada hari Selasa, patokan Brent mencapai level terendah sejak 8 September di US$ 97,36 per barel. Pada Rabu (23/9/3036) pagi, WTI menyentuh level terendah sejak 1 September. Harga tertekan oleh lebih banyak pasokan yang mengalir keluar dari Timur Tengah dan harapan akan segera tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Arab Saudi melanjutkan operasi Jalur Pipa East-West ke Laut Merah pada hari Selasa, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Serangan drone, yang menurut Arab Saudi dilakukan oleh milisi Irak, memaksa kerajaan tersebut menutup jalur pipa pada 11 September, sehingga menghentikan pemuatan minyak mentah di pelabuhan Yanbu.
Pada hari Selasa, Arab Saudi menawarkan lebih banyak barel kepada kilang penyulingan Asia untuk diambil dari lokasi di luar Selat Hormuz.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Level Tertinggi 2 Bulan, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Menteri Irak mengatakan pada hari Selasa bahwa negaranya mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari, dan mengharapkan untuk meningkatkan ekspor melalui Turki hingga lebih dari 600.000 barel per hari.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ukraina dan Rusia sama-sama menyuarakan kepentingannya dalam gencatan senjata terbatas yang melibatkan sasaran-sasaran yang berkaitan dengan biji-bijian dan energi, kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Rabu setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di New York.













