kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

Dolar AS Tembus Level Tertinggi 2 Bulan, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed


Rabu, 23 September 2026 / 22:42 WIB
Diperbarui Rabu, 23 September 2026 / 22:43 WIB
Dolar AS Tembus Level Tertinggi 2 Bulan, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
ILUSTRASI. Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada Rabu (23/9/2026) (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada Rabu (23/9/2026), seiring investor memperhitungkan potensi berlanjutnya siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Penguatan dolar AS juga didorong oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang cukup.

Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral AS telah mengambil langkah penting pada pekan lalu untuk melakukan "kalibrasi ulang" biaya pinjaman jangka pendek guna menekan inflasi. Menurut dia, The Fed kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.

"Ini adalah cerita mengenai suku bunga saat ini," kata Elias Haddad, Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman di London.

Baca Juga: Bisnis AS Tumbuh Tercepat dalam Lima Tahun, Tekanan Inflasi Kembali Menguat

"Yang mendorong dolar lebih tinggi adalah kelanjutan dari kenaikan suku bunga The Fed yang hawkish pada pekan lalu, dan hal itu memberikan momentum baru bagi dolar. Pekan ini belum banyak data, terutama data yang relevan dengan kebijakan, tetapi yang menarik adalah komentar dari para pejabat The Fed. Pada dasarnya, mereka semua menyampaikan pandangan yang sama bahwa pengetatan lebih lanjut masih akan dilakukan," ujar Haddad.

Aktivitas Bisnis AS Menguat

Penguatan dolar AS semakin kuat setelah S&P Global merilis data yang menunjukkan aktivitas bisnis Amerika Serikat meningkat tajam pada September 2026.

Indeks awal S&P Global Composite PMI Output yang mencakup sektor manufaktur dan jasa naik menjadi 58,4 pada September, dari 56,0 pada Agustus. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Juli 2021.

Kenaikan aktivitas bisnis tersebut didorong lonjakan pesanan baru. Namun, kuatnya permintaan juga memberikan tekanan terhadap rantai pasok dan mendorong kenaikan harga.

Data tersebut turut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Berdasarkan data LSEG, probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Oktober melonjak menjadi sekitar 75% setelah data tersebut dirilis. Sebelum publikasi data, ekspektasi tersebut berada di sekitar 53%.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang utama naik 0,54% menjadi 101,09, setelah sebelumnya menyentuh 101,10. Level tersebut merupakan posisi tertinggi sejak 29 Juli.

Baca Juga: AS dan Iran Kembali Berkomunikasi, Peluang Akhiri Perang Timur Tengah Terbuka

Harga Minyak Naik, Ketegangan Timur Tengah Jadi Sorotan

Penguatan dolar AS juga terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dipicu pernyataan pejabat Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai ketegangan di Timur Tengah.

Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan dalam wawancara dengan televisi pemerintah bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz dan tidak akan melakukan negosiasi selama persyaratan Iran belum dipenuhi.

Sebelumnya, harapan terhadap diplomasi dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sempat mendorong harga minyak turun. Investor berharap diplomasi tersebut dapat menghasilkan penyelesaian terhadap konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Harga minyak sebelumnya telah mencapai level tertinggi dalam empat bulan pada pertengahan September, tetapi kemudian berbalik arah pada pekan ini seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Euro Tertekan, Yen Melemah

Di pasar valuta asing, euro melemah 0,52% menjadi US$1,1386 dan berada di jalur penurunan harian untuk hari ketiga berturut-turut.

Sementara itu, data awal S&P Global Composite PMI Output Zona Euro menunjukkan perekonomian kawasan tersebut justru memperlihatkan tanda-tanda ketahanan yang tidak terduga. Namun, konflik di Timur Tengah dan Ukraina meningkatkan biaya energi bagi perusahaan maupun rumah tangga.

Baca Juga: Xi Jinping ke AS, Delegasi Pengusaha Tiongkok Batal Dampingi

Pelaku pasar juga menantikan pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Kedua pemimpin tersebut berupaya menjaga stabilitas hubungan di tengah ketegangan terkait perdagangan, teknologi, serta Iran.

Dolar AS menguat 0,20% menjadi 6,712 yuan China offshore.

Adapun yen Jepang melemah 0,6% menjadi 158,32 yen per dolar AS. Pelaku pasar masih mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang setelah kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada pekan lalu ke level tertinggi dalam 31 tahun belum cukup meyakinkan investor bahwa kenaikan suku bunga berikutnya akan segera dilakukan.

Pasar Jepang ditutup karena hari libur. Menurut sejumlah analis, kondisi likuiditas yang lebih rendah selama periode tersebut meningkatkan kemungkinan otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×