Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk yen Jepang dan euro, pada Jumat (7/8/2026).
Pelemahan terjadi setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penurunan jumlah lapangan kerja pada Juli, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kekuatan ekonomi AS dan mengurangi alasan bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Donald Trump Kembali Berupaya Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook
Mengutip Reuters, ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,1%. Namun, tingkat partisipasi angkatan kerja juga turun ke 61,4%, level terendah dalam hampir lima setengah tahun.
Data tersebut langsung menekan dolar AS. Terhadap yen, dolar AS kehilangan penguatan yang sebelumnya diraih dalam beberapa hari terakhir setelah intervensi bersejarah antara otoritas Jepang dan AS pada pekan sebelumnya.
Pada perdagangan terakhir, dolar AS turun 0,57% menjadi 157,56 yen. Meski demikian, dolar masih berada di jalur mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,10%.
Sementara itu, euro menguat 0,39% terhadap dolar AS menjadi US$ 1,1568. Euro juga berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,41% terhadap dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik US$ 1, Pasar Cemas Perang Iran Belum Berakhir
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Bergeser
Pelemahan dolar mencerminkan menurunnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mencapai 56%, naik dari 45% sehari sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi 7 Pekan, Data Jobs AS Jadi Pendorong
Thierry Wizman, Global FX and Rates Strategist di Macquarie Group, mengatakan pasar tidak memperkirakan data nonfarm payrolls akan menunjukkan kontraksi maupun revisi besar terhadap data Juni.
"Saya pikir tidak ada yang benar-benar memperkirakan nonfarm payrolls akan negatif atau akan terjadi revisi besar terhadap angka Juni," ujar Wizman.
Menurut Wizman, pasar kini kemungkinan menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dari September ke Oktober atau Desember.
"Saya cenderung berpikir pasar telah menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed ke Oktober atau Desember, bukan September," katanya.
Ia menambahkan, setiap data yang menunjukkan ekonomi AS melemah atau pasar tenaga kerja tidak sekuat perkiraan akan membuat pasar kembali menunda ekspektasi kenaikan suku bunga.
"Setiap kali ada data yang menunjukkan ekonomi AS melemah atau pasar tenaga kerja tidak sekuat yang diperkirakan, pasar pada dasarnya akan menunda prospek kenaikan suku bunga The Fed," ujar Wizman.
Baca Juga: Daftar Gaji Pemain Arsenal 2026/2027: Saka Tertinggi, Guimaraes Masuk 10 Besar
Imbal Hasil Obligasi AS Turun
Imbal hasil (yield) US Treasury turun tajam setelah rilis data ketenagakerjaan.
Yield obligasi AS tenor dua tahun, yang biasanya bergerak mengikuti ekspektasi kebijakan The Fed, turun 4,2 basis poin menjadi 4,245%.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,649%.
Baca Juga: Kisah Si Pendiam yang Jadi Pelaku Penembakan Massal di Sekolah Thailand
Indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama termasuk yen dan euro, turun 0,44% menjadi 99,50.
Dolar AS juga berada di jalur mencatat penurunan mingguan sebesar 0,31%. Jika terealisasi, ini menjadi pelemahan mingguan untuk dua pekan berturut-turut.
Pelemahan dolar turut memberikan dorongan bagi harga emas. Harga emas spot naik 2,55% menjadi US$ 4.347,29 per ons troi.











![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
