Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menuju pelemahan mingguan terbesar dalam hampir tiga bulan pada perdagangan Jumat (3/7/2026), setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut turut memberikan ruang bagi yen Jepang untuk menguat dari level terendahnya dalam beberapa dekade.
Baca Juga: Gol Bersejarah Ronaldo Antar Portugal ke 16 Besar Piala Dunia, Spanyol Sudah Menanti
Mengutip Reuters, pelemahan dolar masih berlanjut pada awal perdagangan Asia. Euro bertahan di kisaran US$ 1,1442, mendekati level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Sementara itu, poundsterling berada di US$ 1,3361 dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 1,2%, yang akan menjadi penguatan terbaiknya dalam hampir tiga bulan.
Mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko juga menguat. Dolar Australia diperdagangkan di US$ 0,6935 dan berpotensi mengakhiri tren pelemahan selama empat pekan berturut-turut. Sementara dolar Selandia Baru (kiwi) berada di US$ 0,5702, naik sekitar 1,2% sepanjang pekan ini.
Baca Juga: Bursa Australia Naik Ditopang Saham Emas, Pelemahan Suncorp Batasi Penguatan
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, turun 0,2% ke level 100,77 setelah merosot 0,5% pada perdagangan Kamis.
Secara mingguan, indeks dolar telah melemah sekitar 0,58%, menjadi penurunan terbesar sejak awal April.
Pelemahan dolar dipicu oleh data tenaga kerja AS yang menunjukkan perlambatan signifikan. Non-farm payrolls (NFP) hanya bertambah 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan penambahan 110.000 pekerjaan.
Selain itu, tingkat partisipasi angkatan kerja turun menjadi 61,5%, level terendah dalam lebih dari lima tahun.
Data tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini sekitar 52%, turun dari 64% pada sehari sebelumnya.
Baca Juga: Pasar Asia Menanti Arah The Fed, Saham Bergerak Variatif usai Data Tenaga Kerja AS
Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga terkoreksi. Yield obligasi tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga turun sekitar 4 basis poin, mengakhiri tren kenaikan selama tiga hari berturut-turut.
"Di satu sisi, data ini bernada dovish karena membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja yang terlalu panas dan mengurangi kebutuhan pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif," ujar analis strategi valuta asing OCBC, Sim Moh Siong.
Meski demikian, ia menilai prospek dolar AS masih tetap positif, terutama terhadap mata uang dengan imbal hasil rendah, selama ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed belum sepenuhnya hilang.
Yen Mendapat Angin Segar
Yen Jepang terakhir diperdagangkan di level 161,01 per dolar AS, setelah menguat hampir 1% pada sesi sebelumnya.
Penguatan ini mengangkat yen dari posisi terendah dalam beberapa dekade seiring melemahnya dolar AS.
Pelaku pasar juga tetap mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Baca Juga: Pengadilan AS Wajibkan Sidang Jaminan bagi Migran yang Ditahan Lebih dari 90 Hari
Sebelumnya, pejabat Jepang dikabarkan mengubah strategi komunikasi dengan tidak lagi memberikan sinyal terlebih dahulu sebelum melakukan intervensi, melainkan memilih pendekatan yang lebih mengejutkan guna menekan aksi spekulatif terhadap yen.
Di sisi lain, anggota panel penasihat ekonomi pemerintah Jepang Toshihiro Nagahama mengatakan, Bank of Japan (BOJ) perlu melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap guna membatasi pelemahan yen yang berlebihan.
Analis IG Tony Sycamore menilai, fokus pasar kini bergeser pada data ekonomi AS berikutnya dan perkembangan pasar obligasi pemerintah Jepang.
"Pertanyaan besarnya adalah apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah level 162,83 menjadi puncak jangka menengah bagi pasangan dolar-yen akan sangat bergantung pada data ekonomi AS berikutnya dan perkembangan di pasar obligasi Jepang," ujarnya.














