kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Imbal Hasil Obligasi AS Turun Usai Data Inflasi Produsen Mereda


Kamis, 13 Agustus 2026 / 23:28 WIB
Imbal Hasil Obligasi AS Turun Usai Data Inflasi Produsen Mereda
ILUSTRASI. Dolar AS, Forex, Bond (REUTERS/Chris Helgren)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury menguat pada Kamis (13/8/2026) setelah data menunjukkan inflasi di tingkat produsen tetap terkendali pada Juli.

Kondisi ini semakin mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September.

Kenaikan harga obligasi tercermin dari penurunan imbal hasil (yield).

Baca Juga: Tata Motors Mengganti Ketua Grup, Pastikan Rencana Investasi Tak Terganggu

Melansir Reuters, Yield obligasi AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga, turun 6,2 basis poin (bps) menjadi 4,136%, sekaligus menyentuh level terendah sejak pertengahan Juli.

Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun turun 6,3 bps menjadi 4,629%. Yield obligasi tenor 30 tahun juga merosot 5 bps menjadi 5,196%.

Penurunan yield terjadi setelah data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan Producer Price Index (PPI) tidak berubah pada Juli. Angka tersebut mengikuti penurunan 0,1% pada Juni yang telah direvisi.

Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI akan meningkat 0,2% pada Juli.

Secara tahunan, PPI naik 4,7% hingga Juli, melambat dibandingkan kenaikan 5,5% pada Juni. Angka tersebut juga berada di bawah proyeksi ekonom sebesar 4,9%.

"Ini merupakan kelanjutan dari tren yang belakangan terlihat, yaitu harga tampaknya terus turun secara bertahap atau inflasi melambat secara perlahan," kata Bill Merz, Head of Capital Markets Research and Portfolio Construction di U.S. Bank Asset Management.

Menurut Merz, tekanan harga yang masih ada sejauh ini belum menghambat belanja konsumen maupun pertumbuhan laba perusahaan.

Baca Juga: Putin Kunjungi Pulau Sengketa, Jepang Layangkan Protes Keras ke Rusia

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun

Data PPI turut mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Kurva imbal hasil US Treasury semakin curam setelah rilis data PPI. Selisih yield obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun sempat mencapai 50,6 bps, level terlebar sejak 22 Mei, sebelum berada di 48,3 bps dibandingkan 48,9 bps pada perdagangan Rabu (12/8/2026).

Pergerakan tersebut mencerminkan kondisi bull steepener, ketika yield jangka pendek turun lebih tajam dibandingkan yield jangka panjang.

Kondisi ini menunjukkan pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Pasar futures suku bunga AS bahkan hanya memperkirakan peluang 32% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September, turun dari 41% sehari sebelumnya.

Pelaku pasar juga memperkirakan pengetatan sebesar 24 bps hingga akhir tahun, turun dari proyeksi 27 bps sebelum data PPI dirilis.

Data ketenagakerjaan turut mendukung ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.

Klaim awal tunjangan pengangguran AS naik 9.000 menjadi 209.000 pada pekan yang berakhir 8 Agustus 2026.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 202.000 klaim, namun masih menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil setelah penurunan lapangan kerja yang mengejutkan pada Juli.

Baca Juga: Donald Trump Sembunyi di Pesawat Lain, Ini Kisah Perjalanan Rahasia Presiden AS

AS Akan Lelang Obligasi 30 Tahun

Di tengah penguatan pasar obligasi, Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang obligasi pemerintah tenor 30 tahun senilai US$25 miliar pada Kamis.

Di pasar when-issued, yang memperdagangkan obligasi sebelum resmi diterbitkan, yield obligasi baru tersebut diperkirakan berada di sekitar 5,18%.

Vail Hartman, US Rates Strategist di BMO Capital, mengatakan lelang tersebut berpotensi menghasilkan yield tertinggi untuk obligasi tenor 30 tahun dalam beberapa dekade.

"Di atas diskon yang cukup besar, valuasi juga terlihat solid di sepanjang kurva," tulis Hartman dalam catatan risetnya.

Baca Juga: Hammack: The Fed Perlu Menaikkan Suku Bunga Untuk Meredam Pertumbuhan dan Inflasi




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×