Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun pada Selasa (11/8/2026), seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Investor juga menanti rilis data inflasi konsumen AS yang berpotensi menjadi penentu arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: SEBI Perketat Derivatif, Kerugian Investor Ritel India Turun 18% Jadi US$9,61 miliar
Melansir Reuters, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun turun 1,4 basis poin (bps) menjadi 4,684%. Sementara yield obligasi tenor 30 tahun turun sekitar 1 bps menjadi 5,233%.
Di sisi jangka pendek, yield obligasi AS tenor dua tahun turun 1,5 bps menjadi 4,224%. Yield tenor dua tahun sensitif terhadap ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Penurunan yield semakin dalam setelah Bloomberg News melaporkan bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Laporan tersebut mengutip Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif yang menyebut kedua negara mendekati "semacam kesepakatan".
Kabar tersebut sempat menekan harga minyak mentah AS sebesar 0,7% menjadi US$81,58 per barel. Namun, harga kemudian berbalik naik 0,3% menjadi US$82,35 per barel.
Baca Juga: Pakistan Pastikan AS dan Iran Hampir Mencapai Kesepakatan Meski Ada Serangan Kapal
Penurunan harga minyak menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi karena meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
"Jika Anda tahu ke mana harga minyak dan CPI bergerak, Anda juga bisa mengetahui ke mana yield Treasury akan bergerak," ujar Stan Shipley, fixed income strategist di Evercore ISI, New York.
Menurut Shipley, ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali. Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih meyakini The Fed mampu mengendalikan inflasi.
"Jadi, kecuali inflasi kembali melonjak, saya tidak memperkirakan yield 10 tahun akan menembus level 4,70%," katanya.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Sorotan Terhadap Pembicaraan Oman-Iran
Menanti Data Inflasi AS
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Rabu (12/8). Data tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, inflasi konsumen AS diperkirakan naik 0,1% pada Juli 2026 setelah turun 0,4% pada Juni. Secara tahunan, inflasi CPI diperkirakan melambat menjadi 3,4% dari 3,5%.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi diproyeksikan naik 0,2% secara bulanan.
Secara tahunan, inflasi inti diperkirakan mencapai 2,5%, sedikit turun dari 2,6% pada bulan sebelumnya.
Pasar juga menunggu data indeks harga produsen (PPI) AS yang akan dirilis Kamis (13/8). PPI diperkirakan meningkat 0,2% pada Juli setelah turun 0,3% pada Juni. Secara tahunan, inflasi PPI diperkirakan melambat menjadi 4,9% dari 5,5%.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (11/8), Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Arah The Fed
Menjelang rilis CPI, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mencapai 48%, turun tipis dari 52,2% pada akhir perdagangan Senin (10/8).
Pelaku pasar juga memperkirakan The Fed hanya akan melakukan pengetatan sebesar 29,7 basis poin sepanjang tahun ini.
Di pasar obligasi, kurva imbal hasil AS cenderung mendatar menjelang rilis data CPI dan PPI. Selisih yield obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun menyempit menjadi 45,6 bps dari 46,2 bps pada akhir perdagangan Senin.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap yield jangka panjang sedikit lebih besar dibandingkan tenor pendek, mencerminkan penurunan ekspektasi inflasi.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
