Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas turun pada perdagangan Senin (21/9/2026), tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta aksi ambil untung setelah logam mulia tersebut mencatat kenaikan pada akhir pekan lalu. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$4.349,99 per ons pada pukul 10.46 GMT (17:46 WIB). Sementara itu, harga emas berjangka AS melemah 0,8% menjadi US$4.387,80 per ons.
Penguatan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini dapat menekan permintaan emas di pasar global.
Direktur sekaligus CEO ActivTrades Ricardo Evangelista mengatakan, penguatan dolar AS dan aksi ambil untung menjadi faktor yang menekan harga emas.
Baca Juga: Houthi Kuasai Wilayah Strategis Yaman, Ekspor Minyak Saudi Terancam Terganggu
"Penguatan dolar AS yang sedikit lebih tinggi menambah tekanan pada emas, sementara aksi ambil untung setelah penguatan pada Jumat juga turut berperan," kata Evangelista.
Pada Jumat (18/9/2026), harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan di US$4.399,41 per ons. Kenaikan tersebut terjadi setelah penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang berkepanjangan.
Harga Minyak Turun
Pada perdagangan Senin, harga minyak turun ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Investor berharap adanya perkembangan diplomatik terkait perang Iran dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung pekan ini.
Penurunan harga minyak dapat mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi.
Namun, ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Iran dan Amerika Serikat kembali saling melontarkan ancaman pada Minggu (20/9).
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi kegagalan ekonomi atau kehilangan kepemimpinannya jika tidak mencapai kesepakatan. Di sisi lain, militer Iran menyatakan akan memberikan respons keras terhadap serangan baru.
Perkembangan konflik tersebut menjadi salah satu faktor yang tetap diperhatikan investor karena eskalasi geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Suku Bunga Jadi Perhatian
Evangelista menilai arah harga emas ke depan masih bergantung pada perkembangan inflasi, kebijakan moneter bank sentral, serta situasi geopolitik.
"Inflasi yang terus bertahan dan pengetatan moneter lebih lanjut dapat menciptakan tekanan turun menuju US$4.000. Di sisi lain, deeskalasi perang AS-Iran dapat meredakan kekhawatiran inflasi, yang menyebabkan imbal hasil lebih rendah dan dolar melemah. Kondisi tersebut dapat memungkinkan emas mendekati level US$5.000," ujar Evangelista.
Baca Juga: Penjualan Robot Humanoid Global Capai 7.000 Unit, Bakal Melonjak Tahun 2030
Bank Sentral Jepang (BOJ) menjadi bank sentral besar terbaru yang memperketat kebijakan moneter pada Jumat. Langkah tersebut menyusul kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB).
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 88%, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Suku bunga menjadi faktor penting bagi pergerakan harga emas. Meskipun emas kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena aset berbasis bunga menjadi lebih menarik bagi investor.
Harga Perak dan Platinum
Selain emas, pergerakan logam mulia lainnya juga relatif terbatas.
Harga perak spot turun 0,2% menjadi US$66,08 per ons. Sementara itu, harga platinum relatif stabil di US$1.800,33 per ons.
Adapun harga paladium hanya mengalami perubahan tipis dan berada di level US$1.301,83 per ons.














