kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.105   70,00   0,39%
  • IDX 6.183   -3,12   -0,05%
  • KOMPAS100 808   1,54   0,19%
  • LQ45 615   1,94   0,32%
  • ISSI 214   -0,04   -0,02%
  • IDX30 346   0,80   0,23%
  • IDXHIDIV20 428   0,42   0,10%
  • IDX80 92   0,28   0,31%
  • IDXV30 117   0,24   0,21%
  • IDXQ30 111   0,27   0,25%

Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed


Selasa, 28 Juli 2026 / 11:00 WIB
Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed
ILUSTRASI. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) seiring menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). (REUTERS/Angelika Warmuth)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) seiring menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,7% menjadi US$ 4.044,81 per ons troi pada pukul 02.50 GMT (9:50 WIB), setelah sempat menguat hingga 1% pada perdagangan Senin. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,8% menjadi US$ 4.045,40 per ons troi.

Penguatan dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset investasi.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 1%, Harapan Diplomasi AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan

Kepala Global Macro di jaringan konten keuangan Tastylive, Ilya Spivak, mengatakan pergerakan harga emas masih berada dalam kisaran yang sempit karena investor memilih menunggu arah kebijakan The Fed.

"Kami masih bergerak dalam kisaran sempit antara US$ 3.950 hingga US$ 4.200 per ons, dan saya rasa pasar hanya sedang menunggu sinyal dari The Fed," ujar Spivak.

The Fed dijadwalkan mengakhiri rapat kebijakan moneternya yang berlangsung selama dua hari pada Rabu waktu setempat.

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga saat ini mencapai 62%, sedangkan 38% pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin atau lebih. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 16% sepekan lalu.

Selain itu, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 81% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki tingkat suku bunga terendah di dunia.

Baca Juga: AS Periksa Pabrik Terkait China di Vietnam, Selidiki Dugaan Penghindaran Tarif

Selain itu, Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat tengah melakukan "pembicaraan yang berjalan baik" dengan Iran dan masih terdapat peluang tercapainya kesepakatan untuk menyelesaikan konflik kedua negara. Namun, ia memperingatkan bahwa serangan militer akan kembali dilakukan apabila proses negosiasi gagal membuahkan hasil.

Sementara itu, Iran dinilai dengan cepat menguji jeda operasi militer AS setelah Arab Saudi, Yordania, dan Irak melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) pada Senin.

Menurut Spivak, apabila pernyataan The Fed pada akhir pertemuan tidak memberikan sinyal yang mengarah pada kenaikan suku bunga pada September, harga emas berpotensi kembali menguat.

"Jika hasil pertemuan The Fed tidak memberikan dasar bagi kenaikan suku bunga pada September, harga emas kemungkinan akan reli menembus US$ 4.200 per ons," katanya.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 1,9% menjadi US$ 57,30 per ons, platinum melemah 1% menjadi US$ 1.605,14 per ons, sementara paladium turun 1,6% menjadi US$ 1.271,09 per ons.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×