Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Inflasi Amerika Serikat (AS) berpotensi menghadapi tekanan baru dari sisi permintaan.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menilai, kuatnya permintaan domestik mulai berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi, setelah sebelumnya inflasi banyak dipengaruhi tarif dan kenaikan harga energi.
Melansir Reuters, Goolsbee mengatakan, jika permintaan ekonomi AS tumbuh terlalu kuat hingga mendorong inflasi, tidak ada keraguan mengenai respons kebijakan The Fed.
Baca Juga: Perang Iran Dorong Pembeli LNG Asia Cari Pasokan Alternatif, Indonesia Dilirik
"Jika permintaan memanas, tidak ada ambiguitas mengenai bagaimana The Fed perlu merespons," kata Goolsbee dalam pidato yang disiapkan untuk forum Official Monetary and Financial Institutions Forum di London, Minggu (21/9/2026).
Menurut dia, investasi besar-besaran pada teknologi kecerdasan buatan (AI) juga berpotensi mendorong output ekonomi melampaui kapasitas yang dapat diserap perekonomian.
Selain tekanan dari sisi permintaan, Goolsbee menyoroti perubahan karakter guncangan dari sisi pasokan.
Menurutnya, gangguan pasokan yang secara teori hanya memberikan dampak sementara terhadap inflasi justru menunjukkan pengaruh yang lebih persisten sejak pandemi Covid-19.
"Minyak, tarif, dan harga komoditas, para peramal telah menghabiskan lebih dari setahun untuk terus menunda perkiraan kapan inflasi akan mencapai puncak dan mulai turun. Itu bukan pola yang menenangkan," ujar Goolsbee.
Ia menilai, The Fed membutuhkan bukti bahwa berbagai guncangan tersebut mulai mereda. Tanpa bukti tersebut, menurutnya, akan semakin sulit melihat jalur yang kredibel untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.
Baca Juga: Bursa London Menguat, Bank Pimpin Kenaikan di Tengah Harapan Diplomasi Timur Tengah
Data inflasi AS terbaru yang dikutip Goolsbee menunjukkan inflasi berada di sekitar 3,7% pada Juli, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2% dan belum menunjukkan perbaikan berarti dalam beberapa waktu terakhir.
"Dalam lingkungan seperti itu, satu-satunya jalan kembali adalah jalan yang sulit," kata Goolsbee.
Jalan yang dimaksud adalah suku bunga yang lebih tinggi, yang sekaligus membawa risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja ketika aktivitas ekonomi melambat.
The Fed sendiri menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin pada pekan lalu.
Dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, Ketua The Fed Kevin Warsh menyoroti kuatnya belanja domestik, investasi bisnis, serta sejumlah indikator lain dari sisi permintaan ekonomi AS.
Baca Juga: Trump Lebih Lunak Hadapi China Jelang Bertemu Xi, Ada Pengaruh Rare Earth
Goolsbee bukan anggota yang memiliki hak suara dalam keputusan suku bunga The Fed pada tahun ini.
Dalam pernyataannya tersebut, ia juga tidak mengomentari hasil pertemuan The Fed pekan lalu maupun memberikan pandangan spesifik mengenai arah kebijakan moneter ke depan.














