Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran saat ini hingga akhir 2026. Pandangan tersebut menguat seiring tekanan inflasi yang dipicu konflik geopolitik dinilai lebih persisten dari perkiraan sebelumnya.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters yang dilakukan pada 4–9 Juni terhadap 102 ekonom, sekitar 70% responden atau 72 ekonom memperkirakan suku bunga acuan The Fed akan tetap berada di kisaran 3,50%–3,75% sepanjang tahun depan.
Angka tersebut meningkat dibandingkan survei bulan sebelumnya yang hanya menunjukkan kurang dari separuh responden memiliki pandangan serupa.
Bahkan, pasar kontrak berjangka suku bunga kini mulai memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada akhir 2026. Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk Mei yang lebih kuat dari ekspektasi pada Jumat lalu juga memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Saat ini, inflasi di Amerika Serikat tercatat hampir dua kali lipat dari target The Fed sebesar 2%. Di sisi lain, aktivitas ekonomi masih relatif stabil sehingga tidak memberikan tekanan bagi bank sentral untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) bahkan telah membuka peluang perlunya kenaikan suku bunga pada akhir tahun apabila tekanan inflasi terus berlanjut.
Ketua Baru The Fed Hadapi Tantangan
Survei Reuters juga menunjukkan tidak ada ekonom yang memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan FOMC 16–17 Juni mendatang, yang menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.
Baca Juga: Rusia Ungkap Belum Ada Rencana Trump-Putin Berbicara via Telepon
Kepala Ekonom Wells Fargo, Tom Porcelli, menilai ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga sangat terbatas dalam kondisi saat ini.
Ia mengatakan, "Akan sangat sulit bagi The Fed untuk membenarkan tindakan apa pun pada saat ini maupun dalam waktu yang dapat diperkirakan. Akan sangat sulit mendapatkan konsensus dari para pejabat The Fed untuk menyetujui gagasan pemangkasan suku bunga."
Menurut Porcelli, satu-satunya kondisi yang dapat membuka peluang tersebut adalah apabila konflik di Iran segera mereda.
"Satu-satunya cara hal itu bisa terjadi adalah jika kita menemukan jalan keluar dari konflik Iran dalam waktu yang sangat dekat. Namun, saat ini tidak ada indikasi bahwa kita sedang menuju ke arah tersebut," ujarnya.
Hasil survei ini mengindikasikan bahwa Warsh, yang dinominasikan Presiden Donald Trump dan berada di bawah tekanan untuk menurunkan suku bunga, kemungkinan akan kesulitan memperoleh dukungan internal untuk kebijakan tersebut.
Banyak ekonom juga memperkirakan The Fed akan menghapus bias pelonggaran kebijakan dari pernyataan resminya bulan ini.
Mayoritas analis telah menggeser ekspektasi pemangkasan suku bunga ke tahun depan atau bahkan menghapus proyeksi tersebut sama sekali. Hanya sebagian kecil yang memperkirakan langkah kebijakan berikutnya justru berupa kenaikan suku bunga.
Sejumlah ekonom juga memperkirakan pembaruan proyeksi kuartalan atau "dot plot" The Fed akan menunjukkan suku bunga tetap stabil sepanjang tahun ini, dengan sebagian kecil mulai mengindikasikan kemungkinan kenaikan, berbeda dengan proyeksi Maret lalu yang masih memperkirakan satu kali penurunan suku bunga.
Senior Strategist Rabobank untuk Amerika Serikat, Philip Marey, mengatakan, "Risiko kini lebih mengarah pada inflasi yang lebih persisten, pemangkasan suku bunga yang lebih sedikit, bahkan kemungkinan kenaikan suku bunga, dibandingkan penyelesaian cepat atas situasi yang ada. Skenario yang lebih optimistis praktis sudah sirna."
Tekanan Inflasi Masih Membayangi
Survei Reuters terpisah menunjukkan inflasi harga konsumen di Amerika Serikat diperkirakan naik menjadi 4,2% pada bulan lalu, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 2,9%.
Baca Juga: Hakim Batalkan Biaya Visa H-1B Sebesar US$100.000 yang Ditetapkan Trump
Di sisi lain, indikator inflasi pilihan The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, tercatat naik menjadi 3,8% secara tahunan pada April, tertinggi sejak Mei 2023. Indikator tersebut diproyeksikan rata-rata berada di level 3,9% pada kuartal II, 3,8% pada kuartal III, dan 3,6% pada kuartal IV tahun ini.
Pada bulan lalu, sebagian besar ekonom masih menilai tekanan inflasi saat ini yang terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah bersifat sementara.
Namun pengalaman pada 2022 menunjukkan penilaian serupa ternyata keliru. Saat itu, lonjakan harga yang dipicu antara lain oleh invasi Rusia ke Ukraina justru bertahan lebih lama dan memaksa bank-bank sentral menjalankan salah satu siklus kenaikan suku bunga paling agresif dalam beberapa dekade.
Ekonom AS TD Securities, Eli Nir, mengatakan, "Guncangan pasokan seharusnya hanya terjadi sekali dan bersifat sementara. Namun jika guncangan itu datang secara beruntun, hal tersebut dapat mengubah ekspektasi inflasi dengan cara yang sebelumnya tidak kita perkirakan."
Ia menambahkan, "Mereka khawatir guncangan pasokan berubah menjadi tekanan yang lebih persisten karena pada 2022 mereka salah memperkirakannya. Saat itu, kita semua memang keliru."
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran Amerika Serikat relatif tidak berubah. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di sekitar 4,3% atau sedikit lebih tinggi, sedangkan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan rata-rata sekitar 2% dalam beberapa tahun mendatang.













