Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK/LONDON. Bursa saham Wall Street melemah pada perdagangan Senin (10/8/2026), sementara harga minyak mentah melonjak sekitar 5%.
Pasar dibayangi ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz dan menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Iran menyatakan Selat Hormuz hanya akan kembali dibuka jika sejumlah tuntutan terhadap AS dipenuhi. Kondisi ini membuat pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan minyak global.
Harga minyak Brent untuk kontrak berjangka ditutup naik US$ 4,17 atau 4,99% menjadi US$ 87,72 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 3,95 atau 5,05% menjadi US$ 82,13 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pembukaan Selat Hormuz Masih Penuh Ketidakpastian
Iran sebelumnya menyebut kesepakatan dengan Oman terkait jalur transit di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir.
Namun, Teheran menegaskan jalur tersebut baru akan dibuka jika AS memenuhi tuntutan lain, termasuk kompensasi, penghentian sanksi, serta penghentian ancaman militer.
Lonjakan harga minyak turut menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ruang The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Di Wall Street, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,11% menjadi 53.975,98. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,06% ke 7.753,11, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,32% menjadi 26.605,36.
Pergerakan ini terjadi setelah saham AS mencetak rekor pada Jumat (7/8). Investor sebelumnya memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.
Baca Juga: Bursa Wall Street Tancap Gas usai Iran Buka Selat Hormuz
"Inflasi pekan ini menjadi kunci bagi prospek suku bunga The Fed," kata Mohit Kumar, ekonom senior Eropa di Jefferies.
Data inflasi AS menjadi perhatian utama pasar pada pekan ini. Data Consumer Price Index (CPI) Juli dijadwalkan dirilis Rabu. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi tahunan mencapai 3,4%, turun dari 3,5% pada bulan sebelumnya.
Kumar mempertahankan pandangan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini. Menurut dia, jika harga minyak dapat kembali terkendali dan bergerak turun dari level saat ini, tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga juga akan berkurang.
Di sisi lain, kinerja perusahaan masih menjadi penopang pasar saham global. Bank of America mencatat, dengan hampir 90% perusahaan dalam indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja, laba per saham tumbuh sekitar 30% secara tahunan setelah mengecualikan keuntungan investasi Alphabet dan Amazon.
Tingkat perusahaan yang mencatat laba di atas ekspektasi mencapai 76%, menyamai level terkuat sejak 2021.
JPMorgan juga menaikkan proyeksi laba per saham S&P 500 untuk 2026 menjadi US$ 365, yang mencerminkan pertumbuhan tahunan 35%. Target indeks S&P 500 turut dinaikkan menjadi 8.000 dari sebelumnya 7.800.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Harapan Kesepakatan soal Selat Hormuz Memudar
Sementara itu, imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 4,25 basis poin menjadi 4,701%. Pasar bersiap menghadapi penerbitan surat utang baru senilai US$ 125 miliar pada pekan ini.
Indeks dolar menguat 0,17% menjadi 99,81. Euro melemah 0,14% ke US$ 1,1542, sedangkan yen Jepang turun 0,94% menjadi 159,31 per dolar.
Di pasar komoditas, harga emas berjangka AS naik 0,5% menjadi US$ 4.419,70 per ons troi. Harga emas spot naik 1,12% menjadi US$ 4.390,29 per ons troi setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sembilan pekan.
Pergerakan pasar global pada pekan ini akan sangat ditentukan oleh data inflasi AS serta perkembangan negosiasi terkait pembukaan Selat Hormuz. Investor juga mencermati data ketenagakerjaan zona euro dan sejumlah laporan kinerja perusahaan, termasuk Applied Materials, Cisco dan CoreWeave.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
