Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pejabat Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bahwa inflasi terlalu tinggi di seluruh sektor ekonomi AS, bukan hanya akibat kenaikan harga minyak.
"Jadi, meskipun kita tidak memperhitungkan energi—yang sangat fluktuatif—dan juga makanan (meskipun keduanya sangat penting), dari segi arah perekonomian, inflasi masih terlalu tinggi," ujar Kashkari dalam acara "Sunday Morning Futures" di Fox News seperti dilansir Reuters.
Kashkari mendukung keputusan bulat untuk menaikkan suku bunga pekan lalu sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75%-4,00%.
Ia adalah salah satu dari tiga pejabat yang berbeda pendapat pada pertemuan The Fed sebelumnya dengan mendukung kenaikan suku bunga, ketika mayoritas anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) saat itu memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap.
Baca Juga: Di Negara Ini, Warga Bisa Jual Wajah untuk Pengembang AI, Harga Jutaan Rupiah
Proyeksi yang dirilis bersamaan dengan keputusan kenaikan suku bunga menunjukkan bahwa semua kecuali dua pembuat kebijakan The Fed memperkirakan setidaknya satu kali lagi kenaikan sebesar seperempat poin tahun ini.
Pasar berjangka suku bunga mencerminkan peluang dua banding tiga bahwa suku bunga kebijakan The Fed akan berada di kisaran 4,00% hingga 4,25% pada akhir tahun 2026, dengan kemungkinan besar suku bunga akan naik setidaknya seperempat poin lagi melampaui angka tersebut pada pertengahan tahun 2027.
Konflik Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Minyak
Harga minyak mentah melonjak setelah permusuhan meningkat, di mana AS dan Iran saling menyerang dan menenggelamkan beberapa kapal tanker minyak di Selat Hormuz, serta Arab Saudi menutup jalur pipa vital Timur-Barat akibat serangan udara di tengah meluasnya perang di Timur Tengah.
Tugas The Fed adalah menurunkan kembali inflasi ke target 2% yang ditetapkan bank sentral, ujarnya, dan tidak ada langkah terkait suku bunga yang dapat membuka kembali Selat Hormuz atau menurunkan harga minyak.
Baca Juga: Iran Peringatkan AS dan Sekutunya agar Tak Lakukan Eskalasi Baru
"Inflasi yang dirasakan masyarakat Amerika setiap hari mencakup lebih dari sekadar harga minyak. Inflasi ini terjadi di semua aspek ekonomi, misalnya secara luas di sektor jasa. Jadi, kami memiliki instrumen untuk menurunkannya kembali," kata Kashkari.
"Harapannya, kami akan mendapatkan bantuan dari bagian lain pemerintah atau sektor ekonomi riil lainnya."
Kevin Warsh Juga Menyatakan Kekhawatiran Soal Inflasi
Kekhawatiran Kashkari mengenai inflasi sebagian besar sejalan dengan pandangan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang disampaikan setelah berakhirnya rapat penetapan suku bunga terbaru pada hari Rabu.
Warsh memperkirakan bahwa inflasi—berdasarkan tolok ukur yang digunakan The Fed untuk menetapkan target 2%—kemungkinan berada di kisaran 3,6% pada bulan Agustus, meskipun angka resminya baru akan dirilis akhir bulan ini.
"Terlalu banyak kategori yang masih mencatat kenaikan di atas 3 persen, baik dalam periode enam bulan maupun 12 bulan," ujar Warsh dalam konferensi pers usai rapat tersebut.
Baca Juga: Ed Sheeran Akhirnya Bersuara Soal Konflik Gaza: Tindakan Israel Tak Dapat Dibenarkan
Kashkari juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap cukup kuat, meskipun ada kebijakan tarif, perang dagang, serta konflik di Ukraina dan Iran. "Ekonomi Amerika sangat tangguh."
"Meski demikian, ekonomi AS terus tumbuh dengan laju yang baik, dan produktivitas mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Harapan saya, seiring meredanya konflik-konflik tersebut, pertumbuhan ekonomi dapat benar-benar mendominasi dan diharapkan mampu menurunkan inflasi. Semoga disinflasi dapat terjadi, yang akan membuat tugas The Fed menjadi jauh lebih mudah."














